Fur Fathia by Hamid Basyaib

disalin dari sini

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

-baca selanjutnya->

Sedikit Cerita dari Bienal Sastra Salihara

Di sebuah metropolitan yang katanya setiap orang hanya untuk dirinya sendiri, masihkah ada ruang untuk merayakan sastra? Masihkah sastra diberi tempat?

Gerimis seperti mengikis jalanan Jakarta malam itu.

Saya sedang di tengah perjalanan menuju Salihara. Maksud hati ingin menghadiri acara pementasan musik dan pembacaan puisi di Komunitas Salihara yang mengadakan Bienal Sastra 2011. Jalanan ke arah Pasar Minggu menuju lokasi Salihara seperti biasanya selalu padat tak bersahabat. Selagi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, hujan semakin menderas.

Di tengah jalanan basah yang disinari lampu kendaraan di tengah kemacetan, cahaya seperti berpendar dalam tangkapan mata, dan sesuatu melintas di pikiran tanpa permisi, apa yang bisa menjadi inspirasi di tempat semacam ini selain sebersit puisi?

Malam itu Bienal Sastra Salihara menggelar pentas musik dan pembacaan puisi yang menghadirkan Ivan Nestorman, seorang pemusik asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dan 2 orang penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Acara ini juga diadakan bertepatan untuk merayakan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Rencananya acara berlangsung di teater atap Salihara. Namun tersebab malam masih dipeluk hujan maka acara digelar di serambi Salihara.

Sekitar pukul 9 malam acara baru dimulai. Setelah Ayu Utami selaku Direktur Bienal Sastra menyampaikan sedikit kata sambutan, Ivan Nestorman dan bandnya naik ke pentas dan menyapa para hadirin, “Malam baik,” katanya ramah. Sosok Ivan Nestorman yang berambut gimbal sepintas mengingatkan orang pada musisi terkenal Bob Marley. “’Malam baik’ mungkin adalah terjemahan langsung dari ‘goodnight’”, ujar Ivan. Hadirin tersenyum. Lalu lagu Benggong pun mengawang di udara. Sebuah lagu yang unik, indah, bernuansa tropis, etnis. Itu lagu pembuka yang dimainkan Ivan dan bandnya malam itu. Ia mengatakan bahwa lagu Benggong adalah lagu rakyat Manggarai, Flores, yang bercerita tentang perpisahan ketika seorang anak pergi jauh untuk merantau meninggalkan orangtua dan kampung halamannya.

Setelah beberapa lagu acara diselingi dengan pembacaan puisi dari 2 penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Lalu Ivan dan bandnya kembali ke pentas membawakan musikalisasi puisi “Malam Laut” karya penyair Toto Sudarto Bachtiar, “Surat Kertas Hijau” dan “Dia dan Aku” dari Sitor Situmorang. “Saya orang gunung yang suka laut,” kata Ivan setelah membawakan “Malam Laut” dengan cukup memukau. Selanjutnya beberapa lagu dari Lamalera, Lembata pun mengalun indah. Penonton tampak cukup menikmati sajian musikalisasi puisi yang menghangatkan suasana malam itu.

***

Sejak 8-29 Oktober 2011 lalu Komunitas Salihara mengadakan Bienal Sastra 2011 bertema ‘Klasik Nan Asyik’ di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka dengan diskusi buku Lenka pada 8 Oktober dan diakhiri dengan Adu Puisi dan Pementasan Musik dari Gugun and Blues Shelter pada 29 Oktober lalu.

Rangkaian acara yang menampilkan sejumlah sastrawan, penyair, pemusik ini antara lain berisi pembacaan karya sastra, bincang sastra, ceramah dan diskusi, musikalisasi puisi, dan pementasan musik. Dan acara-acara itu berlangsung gratis tanpa dipungut biaya.

Bienal sastra yang diadakan Komunitas Utan Kayu-Salihara ini berlangsung dua tahunan dan tahun ini adalah yang ke-6. Acara ini bermula dari ide sejumlah sastrawan di Komunitas Utan Kayu yang pernah mengikuti festival sastra di Belanda. Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan hal serupa di tanah air untuk memperkaya khazanah kesusastraan melalui unsur-unsur Nusantara maupun dunia.

***

Malam itu saya cukup menikmati dan terkesan dengan acara Bienal Sastra Salihara. Merayakan dan menikmati sastra bagi sebagian orang di Jakarta mungkin juga adalah bagian dari ritual jeda dari penat. Semacam pelepasan dan penghiburan diri dari segala kesumpekan, kepenatan hidup di kota seperti Jakarta.

Dibanding hiburan atau acara lain yang itu-itu saja, rasanya Jakarta tak banyak menyuguhkan acara semacam Bienal Sastra Salihara ini. Meskipun acara ini gratis, menyajikan dan menikmati sastra mungkin juga sebentuk kemewahan di tengah orang-orang yang sehari-harinya hanya sempat memikirkan bagaimana bisa makan hari ini. Sementara sebagian yang lain yang perutnya sudah kenyang dan nyaman, mungkin berpikir selintas tentang sastra pun tidak sempat.

Tapi kita tau, di luar sana masih ada orang-orang yang mau menyempatkan waktu untuk sekadar menikmati puisi karena mereka tau, seperti kata penyair Goenawan Mohamad, sajak adalah sesuatu yang berharga justru karena tak ditanya untuk apa. Guna puisi adalah hadir dengan tanpa guna.

Dan malam itu puisi seolah menegaskan kembali perannya di dunia yang sibuk ini: untuk menghayati keadaan dengan segala ketakbergunaannya. Mungkin tak sepenuhnya tanpa guna. Karena sastra bagaimanapun adalah hasil karya kreatif manusia yang bisa memberi getar pada hidup yang seringkali tak terduga.

Ya, malam itu malam baik dengan sajian musik bernuansa tropis dan sajak-sajak yang menikam pikiran dalam segelas kopi berisi perang, cinta, kuasa, & pengkhianatan.

Dan malam itu lagu Ivan Nestorman masih juga terngiang-ngiang,

“Di Lamalera orang berdansa dengan lautan..

Di Lamalera Lembata orang bercanda dengan lautan. Pemuda menari di pucuk gelombang..”

(Pandasurya, November 2011)

Catatan Kecil untuk Kata Fakta Jakarta

(Ulasan Buku)

Petang itu saya datang, bersama seorang teman, memenuhi sebuah undangan. Undangan gratis itu datang dari dunia maya beberapa hari sebelumnya. Sebuah undangan dari Rujak Center for Urban Studies untuk menghadiri peluncuran buku Kata Fakta Jakarta di Goethe Institut, Menteng, Jakarta Pusat, pertengahan Oktober lalu.

Hari masih terang sore itu. Jalanan di sekitar Menteng menuju lokasi Goethe Institut masih terlihat padat. Setibanya di lokasi dan setelah mengisi daftar buku tamu, sudah nampak barisan kursi disusun dan sejumlah orang sedang berbincang. Dinding ruangan dihiasi beberapa pajangan poster yang merupakan bagian dari isi buku yang akan diluncurkan.

Tak lama kemudian acara pun dimulai. Peluncuran buku ini yang dieditori oleh Elisa Sutanudjaja, Anggriani Arifin, dan Gita Hastarika juga dibarengi dengan peluncuran website. www.klikjkt.or.id. Rujak (www.rujak.org) sendiri adalah sebuah organisasi non-partisan, non-profit, yang terdiri dari sekumpulan orang muda yang berlatarbelakang beragam yang menginginkan Jakarta menjadi tempat hidup yang lebih baik, lebih nyaman. Di Rujak ini mereka mengundang semua orang untuk berbagi ide, pendapat, masukan, informasi tentang kota Jakarta.

Sementara di website www.klikjkt.or.id warga bisa berpartisipasi menyampaikan segala macam informasi, keluhan, laporan peristiwa yang terjadi di Jakarta sehari-hari.

Selama acara berlangsung saya sempat merenungkan sebuah pertanyaan dari sudut pandang orang awam. Dibandingkan dengan kota-kota besar lain di dunia atau di Asia misalnya, Jakarta kini sudah berada pada kondisi/tahap seperti apa? Apakah ada contoh kota lain di luar negeri  yang pernah mengalami suatu kondisi kurang-lebih mirip seperti Jakarta lalu kemudian mengalami perbaikan berarti? Bisakah kita melihat Jakarta kini dari sudut pandang/teori pendekatan seperti itu?

Continue reading

Menapaki Nama Indonesia

teks dan foto dari http://www.lenteratimur.com/menapaki-nama-indonesia/

Laksana bayi, nama yang terberi padanya kerap sudah jauh terdengar sebelum prosesi kelahiran terjadi. Nama tersebut sering kali tak sekadar jatuh dari langit. Ia cenderung didapat dari sejumlah perenungan dan inspirasi, pun sekian kali diskusi. Demikian pula dengan nama ‘Indonesia’. Nama ini sudah ada dan tersebar sebelum ia lahir. Namun, bagaimanakah sesungguhnya proses penamaan ini terjadi?

Sebelum bernama Indonesia, orang-orang Eropa telah memiliki beragam sebutan tunggal untuk mengidentifikasi banyak kawasan macam Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Maluku (juga Papua dengan banyak perdebatan). Ada yang menamakannya dengan ‘The Indies’, ‘The East Indies’, ‘The Indies Possesions’, ‘Insulinde’ (the islands of the Indies), atau ‘Tropisch Netherland’ (the tropical Netherland), atau ‘The Netherland (East) Indies’.

Selain nama-nama tersebut, tersebar pula nama-nama lain untuk kepulauan ini, yang umumnya digunakan oleh mereka yang bukan berasal dari Belanda, seperti ‘Oceanie’, ‘Oceania’, dan ‘Malasia’ (Perancis), ‘the Eastern Seas’, ‘the Eastern Island’, dan ‘the Indian Archipelago’. Ada juga bangsa-bangsa selain Eropa yang memberikan macam-macam nama, namun itu tak merujuk sebagaimana di benak Eropa terhadap bentang daerah yang relatif sama.

Pada pertengahan abad 19, lahir sebuah jurnal yang berkonsentrasi untuk mendedah jejak dinamika kehidupan di kawasan yang kini bernama Indonesia. The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, demikian nama jurnal tersebut. Lahir pada 1847 dan berkedudukan di Singapura, jurnal ini digawangi oleh editor James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia.

Dalam volume pertamanya, Logan menyatakan bahwa artikel-artikel di jurnal ini akan terdiri atas hal-hal yang berhubungan dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Philipina, Maluku, Bali, Semenanjung Melayu, Siam, dan, dia berharap, China.

-baca selanjutnya->

Kebenaran Itu Ibarat Cicak

Tulisan ini berawal dari sebuah film dan akan berakhir pada sebuah film.

“The truth is out there”, kata film seri terkenal The X-Files. Kebenaran itu ada di luar sana. Kalimat itu seperti menyiratkan bahwa kebenaran yang ada di luar sana bisa dicari, bisa ditemukan, meski tidak mudah. Tapi siapa yang merasa perlu mencari kebenaran itu? Buku Elemen-elemen Jurnalisme ini memberi jawab: wartawanlah yang mencari dan menyampaikan karena ada warga yang membutuhkan. Tapi tentu  wartawan bukanlah Nabi atau orang suci. Buku ini menjelaskan tentang apa yang seharusnya diketahui dan dilakukan wartawan serta yang diharapkan publik (warga).

Kebenaran itu ibarat cicak, kata Turgenev sastrawan Rusia. Yang kita tangkap selalu cuma ekornya, yang menggelepar seperti hidup—sementara cicak itu sendiri lepas.  Di zaman banjir informasi ini kebenaran dalam bentuk berita ada di tangan media. Untuk itulah buku ini ada. Elemen –elemen jurnalisme media  yang harus menjadi pegangan wartawan untuk mencapai kebenaran dijelaskan dalam buku ini. Dan hal itu juga sepatutnya diketahui warga masyarakat. Buku ini penting sekali.

***

Saat ini tidak semua orang menyadari dan mau mengakui bahwa hidup kita sudah diatur oleh media. Sesungguhnya, secara langsung maupun tidak, media telah mengatur bagaimana kita hidup, bagaimana kita bertindak, hingga bagaimana kita berpikir, apa isi pikiran kita, hingga ke sudut terpencil dan terdalam batin kita.

Tapi di hari-hari ini, di tengah berita-berita tentang Osama, Briptu Norman, dan DPR yang memuakkan, mungkin hanya segelintir orang yang masih menyempatkan waktu untuk bertanya-tanya, apa arti berita di tengah deburan ombak gosip yang tayang tanpa henti membanjiri? Belum lagi dalam hitungan menit bahkan detik informasi bisa mengalir deras dari layar monitor alat komunikasi di zaman canggih ini.

-baca selanjutnya

Jakarta: Kata Saya

Jakarta. Saya tak pernah suka kota ini.

Betapa pun kota ini punya sejarah yang panjang, saya tak pernah merasa punya ikatan emosi dengan kota ini. Saya tak pernah punya nenek moyang atau silsilah keluarga yang pernah tinggal di kota ini. Bagi saya, Jakarta adalah sebuah kota yang sudah selesai, sekaligus tak pernah selesai. Jakarta sudah selesai dari segala apa adanya, bagi orang yang menganggapnya begitu. Dan Jakarta juga tak pernah selesai dari segala apa adanya, bagi orang yang menganggapnya begitu. Saya selalu mengganggap Jakarta sebagai kota apa adanya, seadanya, tapi juga bisa segalanya. Bagi mereka yang menganggapnya begitu.

Kalau ada yang bertanya apa arti Jakarta buat saya, maka saya akan menjawab, Jakarta bukan apa-apa bagi saya. Jakarta tak pernah singgah atau menyentuh hati saya. Sekarang ini Jakarta hanyalah sebuah kota tempat saya mengisi waktu, membuang waktu, beraktivitas, berletih, mencari makan, buang hajat. Tak pernah lebih dari itu.

Sudah 3 tahun saya di sini. Saya tak pernah merasa sedikitpun “tinggal” atau “berumah” di kota ini. Jakarta bukan “rumah” bagi saya. Saya tak pernah merasakan “pulang” di kota ini. Saya tak pernah merasa jadi “warga” kota ini. Saya tak punya KTP Jakarta.

Dan sekarang #savejakarta, katanya, kata mereka. Diselamatkan dari apa? Untuk apa menyelamatkan sesuatu yang tak butuh diselamatkan? Apakah Jakarta sudah seperti Gotham yang sudah sedemikian hancur parah bobrok karena kebusukan korupsi, suap, dan bergelimang kejahatan hingga seorang Batman perlu turun tangan? Mungkin. Tapi barangkali Jakarta belum seperti Gotham. Entah dalam waktu dekat.

Ya, saya pernah membayangkan Jakarta akan seperti Gotham: kejahatan, korupsi, suap, preman, dan segala kebusukan merajalela di seantero kota sampai ke sudut-sudut pelosok paling sunyi: batin warganya. Tapi nyatanya kota seluas 66 ribu hektar lebih ini selalu lolos dari lubang jarum kehancuran. Betapa pun banjir menerjang, betapa pun lautan kemacetan melingkupi, betapa pun kerusuhan melanda, kota ini tak pernah lumat, kota ini tak pernah hancur bubur. Jakarta masih tegak berdiri, angkuh tak peduli, meski bergelimang caci-maki dan korupsi. Jakarta tak butuh seorang Batman. Jakarta tak butuh superhero. Kota ini dikutuk untuk selamat.

-baca selanjutnya

Menulis Butuh Tahu dan Berani

Oleh Andreas Harsono

Untuk Luh Putu Ernila Utami di Bali,

Aku tidak menulis makalah saat aku membawakan sesi soal menulis itu. Minggu lalu, aku mulanya mengira sesi itu akan dilakukan dengan format kecil, 10-15 orang, dengan diskusi hangat dan suasana temaram. Ternyata pesertanya 40-an orang dengan ruang besar, meja raksasa, kursi berlengan, serta kebisingan jalan tol.

Intinya, aku cuma mengajak para peserta, para aktivis itu, berpikir ulang soal bagaimana mereka bisa menulis yang menarik sekaligus mendalam.

Aku tahu banyak dari kalian punya pengalaman dahsyat. Dari bikin demonstrasi anti kabel listrik voltage tinggi hingga pemogokan angkutan umum. Dari Bali sampai Maumere, dari Salatiga sampai Makassar. Ini semua bahan-bahan menarik untuk diceritakan.

Kalian melawan polisi. Kalian melawan bupati. Kalian melawan partai. Kalian bahkan ada yang melawan negara. Aduh, itu cerita berminyak untuk ditulis gurih dan diceritakan renyah untuk orang lain. Pramoedya Ananta Toer dalam Khotbah dari Jalan Hidup mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Ada dua syarat sederhana bila kau ingin ingin “bekerja untuk keabadian”: kau harus tahu dan kau harus berani.

Kau harus benar-benar menguasai isu yang kau tulis. Janganlah kau menulis soal “peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi masyarakat” atau “globalisasi dalam kaitannya dengan Pancasila serta Islam” dan sebagainya. Kata-kata itu cuma jargon.

Kau jangan membebek orang lain menulis. Mereka sok pinter. Mereka sering tak tahu perdebatan-perdebatan yang sudah dilakukan orang-orang macam Michael Sandel dan Thomas Friedman soal globalisasi. Mereka tak tahu kebohongan Muh. Yamin atau Nugroho Notosusanto dengan apa yang dinamakan Pancasila. Ada ratusan teori soal demokrasi dan mereka belum baca tuntas semuanya. Pakai kata-kata sederhana. Kalimat pendek-pendek.

Lebih baik kau tulis masalah sehari-hari. Penyair Widji Thukul menulis masalah sehari-hari bila memulai syairnya. “Tadinya aku pengin bilang: aku butuh rumah tapi lantas kuganti dengan kalimat: setiap orang butuh tanah. Ingat: setiap orang!” tulis Thukul dalam Tentang Sebuah Gerakan.

Sederhana sekali.

Kalau kau mau “tahu” maka kau harus bikin riset. Kau harus baca buku. Kau harus wawancara orang. Minta izin bila hendak mengutip omongan orang. Harus jujur. Harus transparan. Kau tulis masalah listrik naik di subak kau. Kau tulis soal kesulitan tetangga kau si tukang jahit. Kau tulis tentang orang-orang biasa. Esensi jurnalisme adalah verifikasi. Semua keterangan itu harus kau saring. Carilah kebenaran.

Mulailah dari hal kecil. Kelak tanpa sadar kau akan baca makin banyak buku. Kau akan wawancara ribuan orang. Kelak tanpa sadar kau bisa menulis soal kebohongan dan kejahatan para petinggi negeri kita.

Tetapi “tahu” saja tidak cukup. Kau harus punya keberanian, punya nyali untuk menyatakan pikiran kau. Pramoedya dan Thukul adalah orang berani. Pram dipenjara Belanda, Soekarno dan Soeharto. Perpustakaan Pram dibakar tentara. Bukunya habis. Kupingnya budek gara-gara hajaran serdadu. Thukul bahkan diculik dan hilang hingga hari ini.

Mereka tahu kesusahan si tukang jahit atau si jongos. Mereka berani pula menulis untuk membela si kecil.

Menulis adalah “laku moral.” Kita bicara soal kebenaran. Kau harus berani menyatakan kebenaran. Aku kenal banyak wartawan di ibukota negeri ini. Mereka tahu soal kebusukan petinggi negeri ini. Mereka tahu redaktur mereka mulai sering ditelepon bedinde-bedinde si petinggi. Kok nulis ini? Kok nulis itu? Tapi mereka tak punya keberanian. Mereka takut bisnis mereka terganggu. Maka “himbauan” si bedinde diikuti.

Akibatnya, banyak cerita di belakang layar yang tak ditulis di negeri ini. Kau maklum saja. Mereka tak punya keberanian macam Pram atau Thukul. Mereka lebih takut ditegur redakturnya. Mereka ketakutan macam anjing sembunyi ekor di balik pantat.

Jadi, kalau kau mau menulis, hanya dua syarat sederhana. Kau harus tahu sekecil apapun yang kau tulis. Kau harus berani.

Itulah inti dari sesi pelajaran menulis di Jakarta minggu lalu. Aku harap surat kecil ini membantu kau memahaminya. Terima kasih karena kau sudah rela sedia tenaga mengambil makanan untuk rekan-rekan kau.