Waktu Sigur Rós mampir di Jakarta

10 Mei 2013. Malam itu Olsen-olsen berkumandang di Istora Senayan, Jakarta, dan ribuan penonton ikut bernyanyi bersama hingga perasaan ini kehilangan kata-kata..

DSC_0062-ed2

DSC_0055-ed2

DSC_0170-ed2

DSC_0281-ed2DSC_0353-ed2DSC_0227-ed2DSC_0333-ed2

Advertisements

Fur Fathia by Hamid Basyaib

disalin dari sini

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

-baca selanjutnya->

Sedikit Cerita dari Bienal Sastra Salihara

Di sebuah metropolitan yang katanya setiap orang hanya untuk dirinya sendiri, masihkah ada ruang untuk merayakan sastra? Masihkah sastra diberi tempat?

Gerimis seperti mengikis jalanan Jakarta malam itu.

Saya sedang di tengah perjalanan menuju Salihara. Maksud hati ingin menghadiri acara pementasan musik dan pembacaan puisi di Komunitas Salihara yang mengadakan Bienal Sastra 2011. Jalanan ke arah Pasar Minggu menuju lokasi Salihara seperti biasanya selalu padat tak bersahabat. Selagi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, hujan semakin menderas.

Di tengah jalanan basah yang disinari lampu kendaraan di tengah kemacetan, cahaya seperti berpendar dalam tangkapan mata, dan sesuatu melintas di pikiran tanpa permisi, apa yang bisa menjadi inspirasi di tempat semacam ini selain sebersit puisi?

Malam itu Bienal Sastra Salihara menggelar pentas musik dan pembacaan puisi yang menghadirkan Ivan Nestorman, seorang pemusik asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dan 2 orang penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Acara ini juga diadakan bertepatan untuk merayakan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Rencananya acara berlangsung di teater atap Salihara. Namun tersebab malam masih dipeluk hujan maka acara digelar di serambi Salihara.

Sekitar pukul 9 malam acara baru dimulai. Setelah Ayu Utami selaku Direktur Bienal Sastra menyampaikan sedikit kata sambutan, Ivan Nestorman dan bandnya naik ke pentas dan menyapa para hadirin, “Malam baik,” katanya ramah. Sosok Ivan Nestorman yang berambut gimbal sepintas mengingatkan orang pada musisi terkenal Bob Marley. “’Malam baik’ mungkin adalah terjemahan langsung dari ‘goodnight’”, ujar Ivan. Hadirin tersenyum. Lalu lagu Benggong pun mengawang di udara. Sebuah lagu yang unik, indah, bernuansa tropis, etnis. Itu lagu pembuka yang dimainkan Ivan dan bandnya malam itu. Ia mengatakan bahwa lagu Benggong adalah lagu rakyat Manggarai, Flores, yang bercerita tentang perpisahan ketika seorang anak pergi jauh untuk merantau meninggalkan orangtua dan kampung halamannya.

Setelah beberapa lagu acara diselingi dengan pembacaan puisi dari 2 penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Lalu Ivan dan bandnya kembali ke pentas membawakan musikalisasi puisi “Malam Laut” karya penyair Toto Sudarto Bachtiar, “Surat Kertas Hijau” dan “Dia dan Aku” dari Sitor Situmorang. “Saya orang gunung yang suka laut,” kata Ivan setelah membawakan “Malam Laut” dengan cukup memukau. Selanjutnya beberapa lagu dari Lamalera, Lembata pun mengalun indah. Penonton tampak cukup menikmati sajian musikalisasi puisi yang menghangatkan suasana malam itu.

***

Sejak 8-29 Oktober 2011 lalu Komunitas Salihara mengadakan Bienal Sastra 2011 bertema ‘Klasik Nan Asyik’ di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka dengan diskusi buku Lenka pada 8 Oktober dan diakhiri dengan Adu Puisi dan Pementasan Musik dari Gugun and Blues Shelter pada 29 Oktober lalu.

Rangkaian acara yang menampilkan sejumlah sastrawan, penyair, pemusik ini antara lain berisi pembacaan karya sastra, bincang sastra, ceramah dan diskusi, musikalisasi puisi, dan pementasan musik. Dan acara-acara itu berlangsung gratis tanpa dipungut biaya.

Bienal sastra yang diadakan Komunitas Utan Kayu-Salihara ini berlangsung dua tahunan dan tahun ini adalah yang ke-6. Acara ini bermula dari ide sejumlah sastrawan di Komunitas Utan Kayu yang pernah mengikuti festival sastra di Belanda. Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan hal serupa di tanah air untuk memperkaya khazanah kesusastraan melalui unsur-unsur Nusantara maupun dunia.

***

Malam itu saya cukup menikmati dan terkesan dengan acara Bienal Sastra Salihara. Merayakan dan menikmati sastra bagi sebagian orang di Jakarta mungkin juga adalah bagian dari ritual jeda dari penat. Semacam pelepasan dan penghiburan diri dari segala kesumpekan, kepenatan hidup di kota seperti Jakarta.

Dibanding hiburan atau acara lain yang itu-itu saja, rasanya Jakarta tak banyak menyuguhkan acara semacam Bienal Sastra Salihara ini. Meskipun acara ini gratis, menyajikan dan menikmati sastra mungkin juga sebentuk kemewahan di tengah orang-orang yang sehari-harinya hanya sempat memikirkan bagaimana bisa makan hari ini. Sementara sebagian yang lain yang perutnya sudah kenyang dan nyaman, mungkin berpikir selintas tentang sastra pun tidak sempat.

Tapi kita tau, di luar sana masih ada orang-orang yang mau menyempatkan waktu untuk sekadar menikmati puisi karena mereka tau, seperti kata penyair Goenawan Mohamad, sajak adalah sesuatu yang berharga justru karena tak ditanya untuk apa. Guna puisi adalah hadir dengan tanpa guna.

Dan malam itu puisi seolah menegaskan kembali perannya di dunia yang sibuk ini: untuk menghayati keadaan dengan segala ketakbergunaannya. Mungkin tak sepenuhnya tanpa guna. Karena sastra bagaimanapun adalah hasil karya kreatif manusia yang bisa memberi getar pada hidup yang seringkali tak terduga.

Ya, malam itu malam baik dengan sajian musik bernuansa tropis dan sajak-sajak yang menikam pikiran dalam segelas kopi berisi perang, cinta, kuasa, & pengkhianatan.

Dan malam itu lagu Ivan Nestorman masih juga terngiang-ngiang,

“Di Lamalera orang berdansa dengan lautan..

Di Lamalera Lembata orang bercanda dengan lautan. Pemuda menari di pucuk gelombang..”

(Pandasurya, November 2011)