en kafe, lalu aku

di sudut kafe itu
kita bercerita tentang negeri yang tak seharusnya
barangkali memang tak seharusnya pernah ada
negerimu, negerinya, dia, dan mereka
atau siapa saja
barisan yang berujung luka

lalu aku, kata sebaris sajak itu
seperti lukamu, lukaku, luka siapa saja

tapi sejarah tak pernah bisa ditulis dengan kata ‘seandainya’

kita tau, en, terkadang memang tak ada cara untuk membendung sungai

dan kita terkejut, tertegun, dan tertawa
mendengar kisah yang serupa meski tak sama
sampai waktu pun tiba
seperti ketika kau luluh dan berujung pada merah darah di tanganmu

kita takkan pernah tau, en
adakah sungai yang lain akan bermuara ke samudera yang berbeda?
barangkali iya jawabnya

setiap mata punya ceritanya sendiri

seperti matamu yang tersenyum malam itu

(September 2012)

Advertisements

Jejak Luka

Untuk N

Ini kali ada masa
mungkin pernah dia bertanya
pada air, pada mata
pada mantra yang tersisa
pada segala yang tampak serupa
tapi tak pernah sama
langit yang itu-itu juga

Berita hari ini
sesal hari kemarin
seolah luput dari jangkauan

dan ingatan letih di pojok sana
perlahan hadir
seperti hendak bercerita tentang getir
: jejak luka manusia

(Mei 2011)

Dan Malaikat pun..*

a.k.a. Fight Club

Dan setelah semuanya
segalanya sedang menuju kehancuran

9..
8..
7..

Lalu kau membaca Fight Club
dan seperti tersadarkan bahwa
dunia tak pernah seperti yang kaubayangkan
ada dunia lain di luar sana
dan di dalam sini
: gelap yang luput dari kata
gelap yang terlalu menyilaukan

kau bertarung hanya untuk bertarung
berduel dengan orang yang tak pernah kaukenal sebelumnya
: dirimu sendiri
bagaimana kau mengenal dirimu jika kau tak pernah bertarung?
ini bukan soal kalah-menang
pertarungan tak sebanding dengan kata
kau bertarung hanya untuk bertarung
tak ada yang selesai setelah bertarung
tapi juga tak ada lagi yang masih penting

Jika kau tak pernah bertarung
kau bertanya-tanya tentang luka
tentang dunia yang terlalu sempurna
keindahannya, kebusukannya
orang-orang yang serba tau segalanya
matilah dengan segala yang kautau**, katamu
matilah dengan segala kemungkinan
ini tentang mimpi yang tak pernah jadi nyata
gelap yang terlalu menyilaukan

Dan suara-suara yang kau dengar selalu berkata:
“jangan pernah mengharap mati tanpa bekas luka”

6..
5..
4..

Ya, kau tau, ini tentang penghancuran diri
Total. Jenderal. Sampai batas tak berbatas.
Infinity. Definitely.
mungkin kita harus menghancurkan segalanya
untuk menjadi lebih baik
dan tak seorang pun berhak menentukan
seperti apa ‘menjadi lebih baik’ itu

kau marah
kau berdarah
Ya, kau berdarah
tapi jangan pikirkan bahkan sekadar kata “sakit”
Tak ada yang peduli apakah kau hidup atau mati
tak ada bedanya
dan rasa itu menyenangkan
Bencana dan keberuntungan sama saja***

3..
2..
1..

Luka.
Bahagia.
Semuanya terlalu sempurna
tapi tak berarti apa-apa
tak pernah apa-apa
berujung segalanya

(Pandasurya, Juli-Agustus 2010)

*lirik lagu Malaikat–The Milo
**komentar Putu Wijaya di back cover Supernova–Dee
***bait puisi Rendra

Mengheningkan C.i.n.t.a

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Yang perih, yang getir
Yang berakhir getir, berawal luka

Yang kelam, yang terpendam
Yang galau, yang kacau
Gelap yang teriris paling gelap,
Yang tercabik-cabik
Dikoyak rapuh. Retak
Digilas remuk. Pecah berkeping

Semua ada di sini
Semua berkumpul di sini
Menggelegak di sini

Dan kata-kata lebur di sini
Di hening yang terdalam

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Mengheningkan C.i.n.t.a

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Yang perih, yang getir

Yang berakhir getir, berawal luka

Yang kelam, yang terpendam

Yang galau, yang kacau

Gelap yang teriris paling gelap,

Yang tercabik-cabik

Dikoyak rapuh. Retak

Digilas remuk Pecah berkeping

Semua ada di sini

Semua berkumpul di sini

Menggelegak di sini

Dan kata-kata lebur di sini

Di ruang yang terdalam

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

(April’2010)

Kenapa Membaca Sastra?

open bookDi suatu masa, entah kapan dan di mana
Seseorang mungkin akan bertanya kepadamu,
“Kenapa dirimu membaca sastra?”

Dan inilah jawabmu:
“Karena sastra, yang pertama dan utama, memberi pelajaran tentang hidup
Pelajaran yang tak didapat di ruang-ruang kelas mana pun

Karena sastra adalah seni
Seni bercerita, seni kata, gaya bahasa, pilihan kata,
cara pengungkapan penuh makna

Karena sastra bisa mengetuk pintu hati untuk sampai pada kesadaran
Kesadaran tentang hidup dan kehidupan, tentang kenyataan
tentang ketulusan
tentang diri dan orang lain
tentang kemanusiaan dan dunia
tentang alam semesta, Tuhan dan cinta
dari bilik sunyi hingga ke kedalaman samudra
dari gelapnya rimba belantara hingga ke batas cakrawala

Karena sastra juga berarti menata hati dan pikiran,
segenap panca indra, jiwa dan raga
Karena sastra memberi hati pada duka luka
pada kepedihan, penderitaan dan kebahagiaan
Karena sastra menerbitkan tangis dalam tawa

Selalu ada masanya sastra bisa memberi rasa
bagi mereka yang mati rasa
atau sekadar mencoba berdamai dengan rasa hampa
karena sastra memberi cahaya

Karena sastra menyentuh relung jiwa, menginspirasi sanubari

Dan karena sastra memberi getar pada hidup..”

(Jakarta, Mei-Agustus’09)