Catcher In The Rye

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.”

(Catcher In The Rye, J.D Salinger, h. 267)

Among other things, you’ll find that you’re not the first person who was ever confused and frightened and even sickened by human behavior. You’re by no means alone on that score, you’ll be excited and stimulated to know. Many, many men have been just as troubled morally and spiritually as you are right now. Happily, some of them kept records of their troubles. You’ll learn from them – if you want to. Just as someday, if you have something to offer, someone will learn something from you. It’s a beautiful reciprocal arrangement. And it isn’t education. It’s history. It’s poetry.

Advertisements

Kenapa Membaca Sastra?

open bookDi suatu masa, entah kapan dan di mana
Seseorang mungkin akan bertanya kepadamu,
“Kenapa dirimu membaca sastra?”

Dan inilah jawabmu:
“Karena sastra, yang pertama dan utama, memberi pelajaran tentang hidup
Pelajaran yang tak didapat di ruang-ruang kelas mana pun

Karena sastra adalah seni
Seni bercerita, seni kata, gaya bahasa, pilihan kata,
cara pengungkapan penuh makna

Karena sastra bisa mengetuk pintu hati untuk sampai pada kesadaran
Kesadaran tentang hidup dan kehidupan, tentang kenyataan
tentang ketulusan
tentang diri dan orang lain
tentang kemanusiaan dan dunia
tentang alam semesta, Tuhan dan cinta
dari bilik sunyi hingga ke kedalaman samudra
dari gelapnya rimba belantara hingga ke batas cakrawala

Karena sastra juga berarti menata hati dan pikiran,
segenap panca indra, jiwa dan raga
Karena sastra memberi hati pada duka luka
pada kepedihan, penderitaan dan kebahagiaan
Karena sastra menerbitkan tangis dalam tawa

Selalu ada masanya sastra bisa memberi rasa
bagi mereka yang mati rasa
atau sekadar mencoba berdamai dengan rasa hampa
karena sastra memberi cahaya

Karena sastra menyentuh relung jiwa, menginspirasi sanubari

Dan karena sastra memberi getar pada hidup..”

(Jakarta, Mei-Agustus’09)