Kenyataan

518252338_2ebadd2e81_b.jpgKita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.

(Rumah Kaca, Pramoedya, h. 436)

Ah, Klise

Oleh HASIF AMINI

 

Berakit-rakit ke hulu. Air beriak. Ada udang. Badai pasti. Tong kosong. Tak ada rotan. Tak ada gading. Habis manis.

 

Dalam wujud kalimat, sebuah klise gampang dikenali. Jika separuh kalimat disebut, separuh sisanya langsung bisa ditebak. Dalam wujud yang lebih ringkas–frase atau kata–seketikalah ia tampak dalam keseluruhannya: unsur yang dimaksud untuk mengesankan meski ternyata hanya membosankan. Sebuah klise memang bisa memudahkan orang menyampaikan dan memahami maksud, sekaligus seakan bergaya dengan ungkapan yang berkuntum warna. Tetapi kuntum yang dipetik dan disuntingkan itu sebetulnya sudah layu, tak punya lagi kesegaran dan keharuman, bahkan mungkin sudah renyuk, dan busuk. Adapun prinsip pemakai klise tetap saja: “Kalau bisa tinggal mencomot, kenapa mesti repot mencari?”

-baca selanjutnya->

Ironi

Oleh HASIF AMINI

LEWAT majas, bahasa kiasan, puisi terbiasa menautkan ranah-ranah pengalaman yang sering tampak berjauhan. Di dalamnya kita bisa mengalami sebentang tamasya dunia dengan anasir yang beragam, kadang saling berlawanan, namun bersahut-sahutan; kita menghadapi keserbamungkinan.

AMIR Hamzah, kita tahu, gemar memerikan kerinduan dan rasa penasaran akan Tuhan dalam kata-kata yang seakan bergerak dan bergetar ke arah lain: Engkau pelik menarik ingin/ Serupa dara di balik tirai; atau, Engkau cemburu/ Engkau ganas/ Mangsa aku dalam cakarmu/ Bertukar tangkap dengan lepas. Walt Whitman mendaftar dan merayakan manusia, debu, lembu, rumput, tikus, lokomotif, kapal, kamera, dewa, bintang, dan sebagainya, sebagai para anggota yang lemah tetapi juga kuat di alam semesta. Omar Khayyam kerap melukiskan kefanaan dan kerentanan hidup dalam rangkaian citra yang intim seperti anggur, cawan, lampu, pena, papan catur, dan taman karavan yang marak di tengah maha kelam yang luas dan dalam.

-baca selanjutnya->

Menulis

530388544_d29c465eac_o.jpg1038808578_2c3ed5408c_o.jpg“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

(Anak Semua Bangsa, Pramoedya, h. 84)

Tiang Listrik Eksotik

Tiang Listrik Kedoya…yang namanya tiang listrik–apa pun jenis, tipe dan warnanya–pasti letaknya di pinggir atau di sudut jalan


Keanehan bisa kita temui di mana pun di bawah kolong langit ini. Termasuk di pelosok-pelosok di antara sela-sela rimba beton Jakarta. Dan yang namanya keanehan bisa berupa barang atau kejadian langka yang berwujud apa pun. Tak terkecuali sebatang-dua batang tiang listrik.

Tiang listrik tetaplah tiang listrik di mana pun dan kapan pun. Tapi di Kecamatan Kebon Jeruk, Kelurahan Kedoya Selatan, tepatnya di jalan Kedoya Raya, sebelum pom bensin patung kuda putih, dekat sebuah bengkel motor, Anda bisa menemukan tiang listrik yang “berani beda” alias lain daripada yang lain. Yang membuatnya lain dari tiang listrik sebangsanya adalah posisinya yang hampir ke tengah jalan, bukan di pinggir jalan. Dan tidak hanya satu tapi 2 buah tiang listrik–meski bukan kembar. Yang satu normal, satunya lagi bengkok, meliuk pengkor, seperti baru ditabrak sesuatu.

-baca selanjutnya->