The Magic of Traffic

traffic2.jpgDi setiap kota besar yang malang seperti Jakarta, hampir setiap jalanan punya cerita yang sama. Galian kabel, jalur busway, jalan berlubang, atau angkot yang ngetem jadi bagian dari pemandangan jalanan yang menyebabkan kemacetan. Dan yang jadi primadona di jalanan yang sedang macet boleh jadi adalah gerombolan lebah para pengguna sepeda motor. Aksi mereka yang meliuk-liuk melewati celah-celah kendaraan lain seolah jadi pemandangan tersendiri.

 

Alasan mereka sederhana: waktu tempuh dengan menggunakan sepeda motor memang lebih singkat dan ongkos wara-wiri jauh lebih murah ketimbang naik mobil pribadi atau angkot. Bagi mereka yang kemampuan dapurnya ada di garis pas-pasan, mau tak mau, motor memang wajib jadi pilihan.

 

Belakangan ini memang bisa dibilang adalah masa jaya-jayanya atau masa keemasannya sepeda motor di pasaran sekaligus di jalanan. Kalau dulu mobil, truk, atau bus boleh mengaku jadi raja jalanan, sekarang tak usah ditanya lagi siapa yang jadi raja jalanan.

 

Selain istilah “raja jalanan”, istilah “padat merayap” yang akrab di telinga kita pun lahir dari jalanan. Para pedagang asongan, pengamen jalanan, juga lahir dari efek samping kemacetan. Tak hanya itu, kemacetan juga dengan sendirinya menciptakan wajah-wajah stres dan lelah di tengah terik matahari siang yang membakar.

 

Boleh percaya boleh tidak, bahkan kemacetan pun bisa melahirkan keajaiban.

 

Di tengah kemacetan Jakarta yang parah dekat sebuah lampu merah, seorang teman saya yang sedang mengendarai mobil pernah membeli beberapa batang rokok dari seorang pedagang asongan. Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk membeli rokok itu. Namun entah kenapa si penjual rokok yang berpakaian kumal itu terus menawar-nawarkan rokok dalam asongannya, seolah memaksa teman saya untuk membeli. Dengan kesal, tanpa basa-basi, selembar uang seratus ribuan ia sodorkan untuk membeli beberapa batang rokok. Maksudnya memang supaya si penjual rokok itu berhenti menawar-nawarkan dan segera berlalu dari pandangannya. Uang seratus ribu pasti si pedagang rokok asongan itu tak punya kembalian, begitu pikir teman saya.

 

Tapi rupanya dugaan tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah menyerahkan beberapa batang rokok si penjual rokok itu pun berlalu begitu saja sambil menyambar selembar uang seratus ribuan itu. Sialnya lagi, teman saya tadi harus segera menjalankan mobilnya karena lampu merah sudah berubah hijau dan klakson dari deretan mobil di belakang sudah mulai bersahutan.

 

Apa boleh buat, uang seratus ribu sudah melayang. Keesokan harinya teman saya itu sengaja melewati jalan yang sama untuk mencari si penjual rokok asongan tadi. Tapi yang dicari tidak ada. Hingga beberapa hari berturut-turut ia lewati lagi jalan yang sama dengan kemacetan yang juga sama parahnya. Tapi hasilnya nihil. Akhirnya teman saya itu menyerah dan dengan berat hati berusaha merelakan dan melupakan kejadian sial yang telah menimpanya.

 

Kira-kira seminggu kemudian, nasib membuat teman saya itu terpaksa harus melewati lagi jalan yang sama. Sore itu hujan deras tengah mengguyur Jakarta. Dan di tengah kemacetan itu, tiba-tiba ia mendengar bagian belakang mobilnya seperti diketuk-ketuk seseorang. Ia pun membuka kaca jendela mobilnya dan melongok melalui kaca spion. Ia melihat sesosok wajah yang sempat dikenalinya yang selama ini ia cari-cari. Rupanya si penjual rokok asongan itu. Dalam keadaan basah kuyup dan sambil berlari kecil si penjual rokok itu melambai-lambaikan sejumlah uang kertas kepadanya.

“Ini, Pak, kembalian uang rokok yang bapak beli tempo hari”, kata si penjual rokok itu. “Maaf, Pak, kemaren-kemaren saya sakit jadi nggak bisa jualan”

 

Teman saya hanya bisa melongo menerima uang kembalian itu. Dan sebelum ia bisa mengucapkan kata-kata, si penjual rokok itu sudah berlalu dari pandangannya. Sore itu hujan makin deras mengguyur jalanan Jakarta.

 

Kita tak perlu rumit-rumit menerjemahkan apa arti di balik kejadian yang dialami teman saya itu. Kita boleh saja bertanya-tanya, “How come?!”, “Hari gini kok ada sih penjual rokok asongan yang jujur dan baik hati?”. Tapi inilah Jakarta. Kemacetan memang bisa melahirkan banyak keajaiban tak terduga.

 

Pandasurya

(November 2007)

(ps)

 

One thought on “The Magic of Traffic

  1. Hmmm…. seperti dalam cerita sinetron, atau cerita sinetron yg mirip kejadian tsb? entahlah..
    Kalau saya jadi teman maneh, akan tiap hari lewat jalan itu dan selalu membeli rokok dari dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s