Rolling Setun

Malam waktu itu
di tengah hingar suara
kecamuk pikiran mendera
tak sempat kau bertanya
pada angin, pada ruang, pada malam yang tenggelam

kabar itu datang tiba-tiba
tanpa dipinta
Malam yang membuatmu berat berkata-kata

sejenak dua jenak alam sekitarmu seperti bisu
orang-orang bicara tapi tak ada suara
semua gerak seperti gerakan lambat

benarkah kabar ini?

Dan selanjutnya adalah yang terjadi:

Ini pagi. Matahari seperti berkaca-kaca
setelah kopi dan selembar daun roti
Dunia berubah, en
Dunia mungkin berubah
Benarkah semuanya takkan pernah sama lagi?

seperti berangkat pergi
menyongsong kesedihan pagi hari
Dunia mengabur
Matahari lebur

(Jekardah, September 2012)

Advertisements

Pulang

Di ruang tunggu bandara seperti ini
selalu melintas tanya seolah seketika,
ke mana orang-orang akan datang dan pergi, an?
Mereka si orang asing berkulit putih, hitam, berwarna, lalulalang bersama bayang cahaya

apa arti asing dan berwarna sebenarnya?
apa arti tanah air, an, bagi mereka yang tak punya negeri asal?

Sementara gunung Lokon di depan sana
diliputi awan tipis, diam dalam dingin keanggunan misteri

Dan langit senja berpelangi ini, seolah mengundang diri untuk bertanya,
benarkah setiap orang selalu punya tempat untuk pulang?

(18 Juli 2012)