Tarian Bumi, Tarian Langit Matahari

“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.” (h. 21)

“Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu? (h. 39-40)

“Dalam hidup ini, Sekar, tak ada yang gratis. Air, udara, semua energi yang membuatmu hidup harus kau bayar. Kau pernah bahagia? Kalau kau mendapatkan hadiah itu dari hidup, kau harus bersiap-siap, karena beberapa detik lagi penderitaan akan berdiri dengan angkuhnya di hadapanmu.” Suara batin yang sering memaksanya untuk sadar, bahwa hidup memang harus disiasati, sebelum manusia hanya sekadar jadi pecundang. (h. 101)

“Apa arti cinta, Luh. Aku hanya memerlukan hidup layak, hidup terhormat!”
“Kau juga memerlukan kasih sayang. Jangan samakan dirimu dengan benda-benda mati!” Suara Kenten penuh amarah.
“Hidup telah mengajari aku jadi batu.”
“Kau pernah bertanya pada batu? Betapa menyakitkan menjadi batu!”
“Siapa yang mengatakan itu padamu? Apa batu pernah mengeluh padamu?”
Luh Kenten diam.
“Aku tidak akan pernah bermimpi sepertimu.”
“Berarti kau benda mati. Manusia hidup memiliki keinginan, memiliki mimpi. Itulah yang menandakan manusia itu hidup. Batu juga memiliki keinginan. Dalam kediamannya dia mengandung seluruh rahasia kehidupan ini.”
“Hidupku bukan hidupmu. Aku tidak suka bermimpi.”
(h. 106-107)

“Tahukah kau, Luh, kau terlalu lugu untuk hadir dalam kehidupan ini.”

Advertisements

Koran

Yang hanya beralas koran menghadap tuhan di terik siang
Pantaskah mengharap naik sampai ke surga?
Betapa dhaifnya

Tapi siapa tau lantaran beralas koran
pintu surga mau membuka
karena yang membuatnya berkisah tentang bumi manusia
dengan segala persoalannya

(September 2012)

Tahun Baru, Siklus Waktu

“Tak ada yang benar-benar baru di bawah langit yang sama…”

breguet_image691591

Tahun Baru baru saja berlalu. Tahun 2009 sudah berjalan. Tiga hari sebelum Tahun Baru 1 Januari umat Islam juga melewati Tahun Baru 1 Muharam. Ada dua tahun baru dalam seminggu. Tahun baru Islam dan Tahun baru Masehi. Yang pertama adalah tahun baru berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Dan yang kedua adalah tahun baru berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Peristiwa yang jarang terjadi dari dua perhitungan benda langit yang berbeda, matahari dan bulan.

Tapi kedua Tahun Baru itu sama-sama berdasarkan perhitungan benda langit yang berputar. Dan kehidupan memang seperti lingkaran. Kehidupan berputar, waktu berganti, tapi semua akan kembali ke titik awal permulaan. Setiap perjalanan, setiap titian waktu yang kita jalani sehari-hari, detik demi detik, menit ke menit, jam demi jam, berganti hari, kemudian bulan, lalu tahun, semua kembali ke titik awal lingkaran. Ada yang lahir, tumbuh, dan akhirnya semua akan mati. Apa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Siklus Kehidupan. Siklus Kematian.

Seperti kisah dalam sebuah film Korea, Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003). Film yang minim kata tapi kaya makna ini berkisah tentang seorang biksu Buddha yang mengasuh muridnya sejak kecil hingga dewasa. Hingga akhirnya sang murid pun menggantikan peran gurunya mengasuh kembali seorang anak kecil. Persis seperti judul filmnya yang menggambarkan siklus waktu 4 musim.

-baca selanjutnya

Sungai Mutiara

Sungai Mutiara

Suatu kali di malam yang dingin, di tepi sebuah jalan di Tokyo, seorang warga Indonesia pernah ditanya seorang arsitek Jepang, “Tahukah Tuan,” tanyanya, “berapa jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang di seberang jalan itu?”. Yang ditanya tentunya tidak tahu dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sang arsitek pun menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Kita tahu, arsitek Jepang itu rupanya sedang bicara soal ketidakadilan dunia. Sebuah tema yang hingga hari ini selalu tak pernah habis dibicarakan. Untuk lebih jelasnya mungkin kita bisa membayangkan ini: Di suatu tempat di atas bumi ini ada orang-orang yang bisa menikmati segala fasilitas air, listrik, kendaraan, dan energi yang berlimpah yang membuatnya bisa hidup dengan nyaman berlebihan. Tapi kita juga tahu, di detik yang sama, di belahan bumi lain, di tempat-tempat terpencil, di pojok-pojok dunia yang terlupakan, ada orang-orang yang sungguh sengsara menderita karena kesulitan mendapatkan setetes air, listrik, dan kebutuhan lainnya.

-baca selanjutnya->