Tahun Baru, Siklus Waktu

“Tak ada yang benar-benar baru di bawah langit yang sama…”

breguet_image691591

Tahun Baru baru saja berlalu. Tahun 2009 sudah berjalan. Tiga hari sebelum Tahun Baru 1 Januari umat Islam juga melewati Tahun Baru 1 Muharam. Ada dua tahun baru dalam seminggu. Tahun baru Islam dan Tahun baru Masehi. Yang pertama adalah tahun baru berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Dan yang kedua adalah tahun baru berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari. Peristiwa yang jarang terjadi dari dua perhitungan benda langit yang berbeda, matahari dan bulan.

Tapi kedua Tahun Baru itu sama-sama berdasarkan perhitungan benda langit yang berputar. Dan kehidupan memang seperti lingkaran. Kehidupan berputar, waktu berganti, tapi semua akan kembali ke titik awal permulaan. Setiap perjalanan, setiap titian waktu yang kita jalani sehari-hari, detik demi detik, menit ke menit, jam demi jam, berganti hari, kemudian bulan, lalu tahun, semua kembali ke titik awal lingkaran. Ada yang lahir, tumbuh, dan akhirnya semua akan mati. Apa yang berasal dari tanah akan kembali ke tanah. Siklus Kehidupan. Siklus Kematian.

Seperti kisah dalam sebuah film Korea, Spring, Summer, Fall, Winter and Spring (2003). Film yang minim kata tapi kaya makna ini berkisah tentang seorang biksu Buddha yang mengasuh muridnya sejak kecil hingga dewasa. Hingga akhirnya sang murid pun menggantikan peran gurunya mengasuh kembali seorang anak kecil. Persis seperti judul filmnya yang menggambarkan siklus waktu 4 musim.

Di sebuah kuil terpencil di tengah danau yang indah itu sang biksu mengasuh si bocah. Ia mengajari muridnya belajar dari alam, dari kehidupan. Hingga suatu hari datanglah seorang perempuan. Si murid yang sudah dewasa itu tergoda hawa nafsunya. Begitu pula si perempuan. Dan yang tersisa setelah itu adalah rasa penyesalan yang dalam.

Hingga akhirnya sang guru pun mati dengan membawa rasa bersalah karena merasa telah gagal membimbing muridnya. Lalu akhirnya sang murid pun menggantikan peran gurunya sebagai biksu. Ia kembali mengasuh seorang bocah yang polos dan lugu.

Begitulah kodrat manusia. Dengan kepolosan dan keluguannya di masa kecil, dengan segala kelebihan dan ketakberdayaannya di kemudian hari, manusia berbuat, menjalani kehidupannya sehari-hari, menjalani siklus waktu, dan selama itu pula ada kalanya ia mencapai sesuatu, berbuat kebajikan atau kesalahan. Manusia memang bukan dewa atau malaikat. Tapi hal itu juga lantas tidak menjadi alasan bagi kita untuk terus berbuat kesalahan.

Waktu adalah kemungkinan untuk mati, kata filsuf Jerman Martin Heidegger. Dan satu-satunya kemungkinan yang paling pasti hanyalah mati. Dengan kata lain, waktu adalah penantian menunggu mati. Semua akan mati. Tak ada yang abadi, kata lagu Peterpan yang terbaru. Nothing Last Forever, kata orang bule. Justru kesadaran akan mati yang selayaknya mendorong kita untuk berbuat yang terbaik.

Man walk, time flies, katanya. Bagaimana pun manusia takkan pernah bisa mengejar waktu. Sebagian orang beranggapan “hidup bukanlah perlombaan, melainkan membidik target: menghemat waktu tidaklah penting, yang penting membidik titik di tengah-tengah.” Tentu ada benarnya.

Sebagian orang yang dijajah ambisi dan obsesi tentu beranggapan sebaliknya. Bagi mereka hidup adalah perlombaan mengejar target. Tentu juga ada benarnya. Toh kehidupan memberi ruang bagi segalanya, bagi segala jenis manusia, lengkap dengan segala karakter dan tabiatnya. Kehidupan terlalu kaya untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Sepertinya yang paling beruntung adalah mereka yang mampu menghemat waktu sekaligus membidik titik di tengah-tengah, alias kombinasi dari kedua jenis manusia itu. Tapi sayangnya tidak semua orang diciptakan seperti itu. Maka yang paling beruntung barangkali adalah mereka yang tahu kapan saat yang tepat untuk menghemat waktu, dan kapan saat untuk membidik target di tengah-tengah.

Dan di setiap tahun baru kita diingatkan kembali untuk selalu berharap dengan semangat baru agar semuanya menjadi lebih baik. Sekaligus menyadari bahwa “tak ada yang benar-benar baru di bawah langit yang sama.” Semua yang ada di bawah kolong langit ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Kesadaran itulah yang membuat kita bisa bercermin, mengambil pelajaran dari peristiwa yang sudah terjadi, dari pengalaman kita atau orang lain di masa lalu. Kita memang tak bisa kembali ke masa lalu tapi kita bisa memulai dari hari ini.

Dan hari ini kalender pun sudah berganti.

(Pandasurya, Januari 2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s