Tanah Tumpah Darah

di atas bendera revolusi…sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.

(GM, Caping 4 h. 80)

Advertisements

Kolom: “Esai Dengan Gaya”

Oleh Farid Gaban

PENGANTAR

Dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi.

Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak esai atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:

– OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.

– SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”.

– PERSUASIF: memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Dia dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survai media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan:

-baca selanjutnya->

Seperti Tarian Burung Camar

oleh Farid Gaban

Tulisan yang hidup adalah senjata penting untuk menaklukkan minat pembaca di tengah persaingan antar media komunikasi yang kian ketat. Mereka dikangeni karena berjiwa — personal, memiliki sudut pandang yang unik dan cerdas, serta penuh vitalitas.

Tulisan yang baik tak ubahnya seperti tarian burung camar di sebuah teluk: ekonomis dalam gerak, tangkas dengan kejutan, simple dan elok. Tulisan yang baik adalah hasil ramuan ketrampilan (reporter) menggali bahan penting di lapangan dan kemampuan (redaktur) menuliskannya secara hidup.

-baca selanjutnya->

Ilmu

The ThinkerApa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?

(Emha Ainun Nadjib)

P16 Air vs P46 Air, judulnya

Capung Sunset

Kalau kau pernah naik kapal terbang—entah itu maskapai Perkutut Air atau Capung Air—tentu kau pernah merasakan yang namanya sensasi kejutan sesaat sebelum kapalmu berangkat lepas landas melayang di udara. Sensasi kejutan itu bisa membuat kita sedikit menahan nafas sesaat-dua saat. Seperti apa rasanya? Pertanyaan seperti ini mungkin sama maknanya ketika kita harus menjelaskan lezat dan maknyusnya makan es krim kepada orang yang belum pernah makan es krim. Artinya, singkat kata, rasanya sulit dilukiskan. Ya, meski sensasi kejutan itu hanya berlangsung sesaat dalam hitungan detik, tapi sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apakah “rasa” punya kata dalam bahasa manusia?

-baca selanjutnya-