Pulaunya dewa-dewa, kata orang

Image

Image

Di atas langit para dewa, masih ada langit garuda, katanya

Image

Jejak langkah manusia di pulaunya para dewa. Bukankah dewa hanya angan-angan manusia?

Image

Separuh biru langit, setengah bibir pantai. Hamparan pasir dan hijau kelapa, jejak manusia di pulaunya dewa-dewa

Advertisements

Koran

Yang hanya beralas koran menghadap tuhan di terik siang
Pantaskah mengharap naik sampai ke surga?
Betapa dhaifnya

Tapi siapa tau lantaran beralas koran
pintu surga mau membuka
karena yang membuatnya berkisah tentang bumi manusia
dengan segala persoalannya

(September 2012)

Diri Sendiri

Kekuasaan manusia adalah kekuasaan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnya dipahaminya sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, masyarakat yang tak pernah selesai terbentuk, semesta hidup yang tak kunjung tertangkap oleh dalil.

(Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7, hlm. 307)

Jejak Luka

Untuk N

Ini kali ada masa
mungkin pernah dia bertanya
pada air, pada mata
pada mantra yang tersisa
pada segala yang tampak serupa
tapi tak pernah sama
langit yang itu-itu juga

Berita hari ini
sesal hari kemarin
seolah luput dari jangkauan

dan ingatan letih di pojok sana
perlahan hadir
seperti hendak bercerita tentang getir
: jejak luka manusia

(Mei 2011)

Catcher In The Rye

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.”

(Catcher In The Rye, J.D Salinger, h. 267)

Among other things, you’ll find that you’re not the first person who was ever confused and frightened and even sickened by human behavior. You’re by no means alone on that score, you’ll be excited and stimulated to know. Many, many men have been just as troubled morally and spiritually as you are right now. Happily, some of them kept records of their troubles. You’ll learn from them – if you want to. Just as someday, if you have something to offer, someone will learn something from you. It’s a beautiful reciprocal arrangement. And it isn’t education. It’s history. It’s poetry.

Surat Neptunus Buat Dewi ‘Dee’ Lestari

perahu kertas

(Resensi novel “Perahu Kertas” Dee)

Hai Dee yang baik,

Perkenalkan, saya salah seorang pembaca Perahu Kertas (PK). Kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Tapi pastinya saya sudah tau seorang Dewi “Dee’ Lestari karena kamu penulis dan penyanyi terkenal di negeri ini.

Kalau boleh, Dee, izinkan saya menulis surat ini. Anggaplah ini sekadar kesan-kesan saya setelah membaca PK. Tapi mungkin saya nggak akan menghanyutkannya surat ini di sungai, kali, apalagi lautan.

Baiklah, saya mulai ya.
Pastinya kita semua tau, Dee, manusia tak pernah lahir dari batu atau jatuh dari langit. Manusia adalah produk lingkungannya. Ia terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup tempat di mana ia lahir, tumbuh, dan mati. Termasuk di dalamnya pengalaman membaca seseorang.

Pernah suatu kali di malam yang sepi, sambil memegang sebuah buku, saya merenungkan sebuah pertanyaan iseng: bisakah kita membaca sebuah buku tanpa membawa serta pengalaman membaca kita sebelumnya? Atau lebih jauh lagi, bisakah kita membaca sebuah buku tanpa mengikutsertakan pengalaman hidup kita selama ini yang terkait dengan buku, musik, atau film misalnya? Dalam bahasa sederhana: bisakah kita mengosongkan dahulu semua panca indera kita, segala pikiran dan hati kita ketika akan membaca sebuah buku?

-baca selanjutnya->

Najis

highres_699937Sesungguhnyalah, manusia itu sebatang sungai yang tercemar, dan orang harus jadi sehamparan laut untuk menerima sebatang sungai yang tercemar tanpa ia sendiri jadi najis

(F. Nietzsche dalam “Zarathustra”,  seperti dikutip GM dalam “Setelah Revolusi Tak Ada Lagi”, h. 193)