jekardah

dari negeri tepian, jekardah akan tampak serupa negeri bayang-bayang, an. orang-orang terlupa dengan bayangannya sendiri.

welkam tu jekardah, katanya.
dan dari seberang jalan itu dia akan datang menjemputmu.
melambaikan tangan dengan senyum pahit masa lalu.
Gerimis turun perlahan siang itu.

kau berdiri terdiam beberapa saat dan beberapa saat lagi. menyadari betapa senyuman bisa kehilangan arti di saat-saat seperti ini. mendung batin menghampiri.

mungkin hanya di kota imajiner semacam ini orang-orang pernah merasa kehilangan bayangannya sendiri. tak ada yang peduli. waktu tak punya arti lagi.

dan kau membayangkan, di trotoar senja itu orang-orang akan berjalan dalam gerakan lambat. dengan langit senja yang disepuh warna sepia.

hidup tak berarti apa-apa, an.
tak pernah apa-apa.

sampai jumpa, sambutnya.

(April-Mei 2012)

Advertisements

Jakarta: Kata Saya

Jakarta. Saya tak pernah suka kota ini.

Betapa pun kota ini punya sejarah yang panjang, saya tak pernah merasa punya ikatan emosi dengan kota ini. Saya tak pernah punya nenek moyang atau silsilah keluarga yang pernah tinggal di kota ini. Bagi saya, Jakarta adalah sebuah kota yang sudah selesai, sekaligus tak pernah selesai. Jakarta sudah selesai dari segala apa adanya, bagi orang yang menganggapnya begitu. Dan Jakarta juga tak pernah selesai dari segala apa adanya, bagi orang yang menganggapnya begitu. Saya selalu mengganggap Jakarta sebagai kota apa adanya, seadanya, tapi juga bisa segalanya. Bagi mereka yang menganggapnya begitu.

Kalau ada yang bertanya apa arti Jakarta buat saya, maka saya akan menjawab, Jakarta bukan apa-apa bagi saya. Jakarta tak pernah singgah atau menyentuh hati saya. Sekarang ini Jakarta hanyalah sebuah kota tempat saya mengisi waktu, membuang waktu, beraktivitas, berletih, mencari makan, buang hajat. Tak pernah lebih dari itu.

Sudah 3 tahun saya di sini. Saya tak pernah merasa sedikitpun “tinggal” atau “berumah” di kota ini. Jakarta bukan “rumah” bagi saya. Saya tak pernah merasakan “pulang” di kota ini. Saya tak pernah merasa jadi “warga” kota ini. Saya tak punya KTP Jakarta.

Dan sekarang #savejakarta, katanya, kata mereka. Diselamatkan dari apa? Untuk apa menyelamatkan sesuatu yang tak butuh diselamatkan? Apakah Jakarta sudah seperti Gotham yang sudah sedemikian hancur parah bobrok karena kebusukan korupsi, suap, dan bergelimang kejahatan hingga seorang Batman perlu turun tangan? Mungkin. Tapi barangkali Jakarta belum seperti Gotham. Entah dalam waktu dekat.

Ya, saya pernah membayangkan Jakarta akan seperti Gotham: kejahatan, korupsi, suap, preman, dan segala kebusukan merajalela di seantero kota sampai ke sudut-sudut pelosok paling sunyi: batin warganya. Tapi nyatanya kota seluas 66 ribu hektar lebih ini selalu lolos dari lubang jarum kehancuran. Betapa pun banjir menerjang, betapa pun lautan kemacetan melingkupi, betapa pun kerusuhan melanda, kota ini tak pernah lumat, kota ini tak pernah hancur bubur. Jakarta masih tegak berdiri, angkuh tak peduli, meski bergelimang caci-maki dan korupsi. Jakarta tak butuh seorang Batman. Jakarta tak butuh superhero. Kota ini dikutuk untuk selamat.

-baca selanjutnya

Sungai Mutiara

Sungai Mutiara

Suatu kali di malam yang dingin, di tepi sebuah jalan di Tokyo, seorang warga Indonesia pernah ditanya seorang arsitek Jepang, “Tahukah Tuan,” tanyanya, “berapa jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang di seberang jalan itu?”. Yang ditanya tentunya tidak tahu dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sang arsitek pun menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Kita tahu, arsitek Jepang itu rupanya sedang bicara soal ketidakadilan dunia. Sebuah tema yang hingga hari ini selalu tak pernah habis dibicarakan. Untuk lebih jelasnya mungkin kita bisa membayangkan ini: Di suatu tempat di atas bumi ini ada orang-orang yang bisa menikmati segala fasilitas air, listrik, kendaraan, dan energi yang berlimpah yang membuatnya bisa hidup dengan nyaman berlebihan. Tapi kita juga tahu, di detik yang sama, di belahan bumi lain, di tempat-tempat terpencil, di pojok-pojok dunia yang terlupakan, ada orang-orang yang sungguh sengsara menderita karena kesulitan mendapatkan setetes air, listrik, dan kebutuhan lainnya.

-baca selanjutnya->