en kafe, lalu aku

di sudut kafe itu
kita bercerita tentang negeri yang tak seharusnya
barangkali memang tak seharusnya pernah ada
negerimu, negerinya, dia, dan mereka
atau siapa saja
barisan yang berujung luka

lalu aku, kata sebaris sajak itu
seperti lukamu, lukaku, luka siapa saja

tapi sejarah tak pernah bisa ditulis dengan kata ‘seandainya’

kita tau, en, terkadang memang tak ada cara untuk membendung sungai

dan kita terkejut, tertegun, dan tertawa
mendengar kisah yang serupa meski tak sama
sampai waktu pun tiba
seperti ketika kau luluh dan berujung pada merah darah di tanganmu

kita takkan pernah tau, en
adakah sungai yang lain akan bermuara ke samudera yang berbeda?
barangkali iya jawabnya

setiap mata punya ceritanya sendiri

seperti matamu yang tersenyum malam itu

(September 2012)

Advertisements

Najis

highres_699937Sesungguhnyalah, manusia itu sebatang sungai yang tercemar, dan orang harus jadi sehamparan laut untuk menerima sebatang sungai yang tercemar tanpa ia sendiri jadi najis

(F. Nietzsche dalam “Zarathustra”,  seperti dikutip GM dalam “Setelah Revolusi Tak Ada Lagi”, h. 193)

Sungai Mutiara

Sungai Mutiara

Suatu kali di malam yang dingin, di tepi sebuah jalan di Tokyo, seorang warga Indonesia pernah ditanya seorang arsitek Jepang, “Tahukah Tuan,” tanyanya, “berapa jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang di seberang jalan itu?”. Yang ditanya tentunya tidak tahu dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sang arsitek pun menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Kita tahu, arsitek Jepang itu rupanya sedang bicara soal ketidakadilan dunia. Sebuah tema yang hingga hari ini selalu tak pernah habis dibicarakan. Untuk lebih jelasnya mungkin kita bisa membayangkan ini: Di suatu tempat di atas bumi ini ada orang-orang yang bisa menikmati segala fasilitas air, listrik, kendaraan, dan energi yang berlimpah yang membuatnya bisa hidup dengan nyaman berlebihan. Tapi kita juga tahu, di detik yang sama, di belahan bumi lain, di tempat-tempat terpencil, di pojok-pojok dunia yang terlupakan, ada orang-orang yang sungguh sengsara menderita karena kesulitan mendapatkan setetes air, listrik, dan kebutuhan lainnya.

-baca selanjutnya->