Sungai Mutiara

Sungai Mutiara

Suatu kali di malam yang dingin, di tepi sebuah jalan di Tokyo, seorang warga Indonesia pernah ditanya seorang arsitek Jepang, “Tahukah Tuan,” tanyanya, “berapa jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang di seberang jalan itu?”. Yang ditanya tentunya tidak tahu dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sang arsitek pun menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Kita tahu, arsitek Jepang itu rupanya sedang bicara soal ketidakadilan dunia. Sebuah tema yang hingga hari ini selalu tak pernah habis dibicarakan. Untuk lebih jelasnya mungkin kita bisa membayangkan ini: Di suatu tempat di atas bumi ini ada orang-orang yang bisa menikmati segala fasilitas air, listrik, kendaraan, dan energi yang berlimpah yang membuatnya bisa hidup dengan nyaman berlebihan. Tapi kita juga tahu, di detik yang sama, di belahan bumi lain, di tempat-tempat terpencil, di pojok-pojok dunia yang terlupakan, ada orang-orang yang sungguh sengsara menderita karena kesulitan mendapatkan setetes air, listrik, dan kebutuhan lainnya.

Kini, warga dunia juga sedang ramai membicarakan isu global warming atau pemanasan global. Bumi makin panas. Es di kutub mencair. Permukaan air laut naik. Bencana alam akibat global warming banyak terjadi di mana-mana. Sementara sebagian orang menikmati segala fasilitas kenikmatan yang bisa mengakibatkan global warming di seantero bumi, sebagian orang lagi yang tidak beruntung tidak bisa ikut menikmati fasilitas kenikmatan tadi, yang tidak ikut campur dalam pemanasan global, hanya bisa pasrah gigit jari menerima akibat dari perbuatan yang tidak mereka lakukan.

Dengan kata lain, kalau ada pemerataan penderitaan di seluruh bumi akibat global warming, kenapa tidak ada pemerataan kenikmatan bagi seluruh penduduk bumi? Well, itu sekadar pertanyaan retoris…

Tapi tentang ketidakadilan dunia, saya jadi teringat cerita unik nan menyentuh berikut ini. Kejadiannya tidak jauh-jauh, di negeri kita sendiri, di bumi ibu pertiwi.

Pernah suatu hari seorang artis ibukota nan cantik jelita berkunjung ke sebuah desa terpencil nan luhur dan mulia. Di sana ia mendapat pengalaman seharga mutiara. Di tepi sebuah sungai, di pedalaman Baduy, Jawa Barat–bukan di tepi sebuah jalan di Tokyo–sang artis ibukota sempat berbincang dengan seorang warga desa Baduy.

“Neng, jangan gunakan sabun, sampo dan odol saat sedang di sungai,” kata seorang warga desa di sana.
“Kenapa memangnya?,” sang artis bertanya tanpa dosa.
“Kasihan, Neng, nanti orang kota tak bisa minum dan memakai air
karena airnya sudah kotor,” jawab warga desa itu polos nan lugu.

Sang artis pun berpaling tersipu malu, mengangguk ia tanda mengerti, mungkin terpana dalam hati, dan tak terasa matanya sudah berkaca-kaca.

Di zaman di mana global warming sedang menggila seperti sekarang ini, suara yang polos dan lugu dari warga desa yang sederhana itu seolah menjadi setetes air penyejuk di tengah dunia yang makin sesak oleh padat dan panasnya suhu bumi ini.

Dan di kemudian hari, ketika sang artis sinetron ibukota, yang tidak lain tidak bukan adalah Paramitha Rusady, sedang mengikuti gerakan menanam pohon untuk kelestarian lingkungan, ia sempat mengatakan bahwa menurutnya lingkungan jauh lebih penting ketimbang sinetron. Sang artis ini juga bilang, “kalau orang pedalaman saja sudah peduli akan lingkungan, bagaimana dengan kita orang kota?”

(Pandasurya, Oktober 2007 )

3 thoughts on “Sungai Mutiara

  1. Peduli terhadap global warming juga nich Pak? Udah nonton film terbarunya cow gw blom (Keanu Reeves) judulnya The Day The Earth Stood Still. Nah, kita masih di beri kesempatan nich untuk memperbaiki bumi kita tercinta ini so jangan sia-siakan kesempatan itu yach 

    So guys, kita harus dukung gerakan stop global warming. Caranya???????? Dimulai dari diri sendiri kali ye……… secara ilmu kita lebih tinggi gt dari yang di pedalaman masak kalah …… malu dong…..

  2. cerita ini intinya adalah :
    1. global warning bisa mengakibatkan kerusakan otak seperti yg terjadi pada orang desa di atas, masa kota tidak mempunyai pabrik untuk memfilter air lagipula air itu kan dibuat mandi oleh artis jadi sama aja kotor sekalipun tanpa sabun.
    2. orang desa mengerti justru karena orang desa tidak ngerti apa2 makanya dia hanya menerima akibat dari kerusakan lingkungan tapi 1 hal perlu diingat orang yang pandai yang menyebabkan kerusakan lingkungan juga bisa memperbaiki lingkungan, sedangkan orang desa tetap tidak bisa berbuat apa2 makanya pendidikan itu penting dan mahal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s