Mari Bung Bisnis Kembali !

Julukan zaman baheula yang mengatakan Bandung sebagai kota kembang sudah sepantasnya punah jadi riwayat basi, tinggal kenangan sepi. Termasuk pula sebutan mentereng Parijs Van Java. Alih-alih berdecak kagum, orang akan bertanya bingung, “Paris apanya? Paris ti Hongkong?” Kini kedua julukan yang sempat membesarkan nama Bandung itu memang sudah sangat lain dari kenyataan. Jauh panggang dari api, kata orang. Dan fakta-faktanya memang menunjukkan demikian. Semua warga Bandung pun sudah mengerti dan maklum dengan keadaan kotanya sekarang ini. Soal merelakan atau tidak, silakan dijawab masing-masing dalam hati.

-baca selanjutnya->

Tukul-Empat Mata Atawa Kocaknya “Kembali Ke Laptop”

Tukul Spiderman

Barang siapa yang pelit senyum lihatlah penampakan seorang Tukul Arwana. Dengan melihat casingnya saja, baik tampak samping, depan, atau belakang, pelawak satu ini dijamin bisa mengundang tawa. Bahkan hanya dengan melihat siluetnya pun mungkin orang bisa tersenyum. Boleh jadi karena alasan itulah seorang Tukul menjadi host dari acara talk show Empat Mata di TV 7 (Trans 7 sekarang). Gerak-geriknya di depan kamera bisa membuat orang tertawa terpingkal-pingkal.

-baca selanjutnya->

Bandung Kok Jadi Gini, Bung?

Bung,

Kalau melihat keadaan kota Bandung sekarang kadang saya jadi berpikir, kok tega-teganya orang masih saja menyebut Bandung dengan seabrek julukan atau sebutan yang serba mentereng: Bandung kota kembang-lah, Bandung kota Parijs Van Java-lah, Bandung berhiber-lah (dulu), Bandung bermartabat-lah (sekarang). Bandung ini-lah, Bandung itu-lah. Terserahlah. Bukan apa-apa, soalnya, julukan-julukan itu sangat tak sesuai dengan kenyataan. Atau mungkin ini bagian dari politik permainan kata? Entahlah.

-baca selanjutnya->

Dinding Kaca Ruang KM-ITB

Bisa dibilang ini cerita tentang seberkas ingatan yang menjangkau masa lalu.

Entah di tahun kapan. Pada hari dan tanggal serta bulan yang murni lenyap dari ingatan, seorang mahasiswa berjalan menyusuri lorong SC Timur ruang KM-ITB. Siapa nama, dari jurusan mana, angkatan berapa sama sekali tak penting buat ditulis disini. Yang jelas, waktu itu langkahnya cepat bergegas tanda dikejar kesibukan karena beragam aktivitas kampus dan tugas-tugas kuliah. Kesibukan yang sebenarnya ia buat sendiri dengan sepenuh kesadaran, dengan konsekuensi yang seringkali merepotkan penuh tanggungan. Dan siapa pula orangnya yang tak sempat jumawa dengan segunung kesibukan? Kata orang, utang risiko harap ditanggung dan dibayar sendiri, berikut bunga-bunganya.

-baca selanjutnya->

DataFaktaLegenda


Ada pernah masanya ketika kita berpikir bahwa data, fakta dan legenda dari sebuah berita bisa jadi alat kepentingan atau sebentuk cerita tipuan mata. Dan belum lama ini kita membaca beritanya di koran hari itu dengan sepenuh kesadaran dan kemurahan hati yang terbatas. Mungkin berita yang kurang lebih sama rasanya dengan kue surabi yang basi :

-baca selanjutnya->

Tentang Esai-esai Pribadi

Oleh: Mula Harahap

Apakah esai? Kalau saya boleh merumuskan maka, pertama-tama, esai adalah sebuah prosa–tulisan kreatif–yang relatif pendek, yang menguraikan sebuah pemikiran atau perasaan. Sebagai prosa–sebagai salah satu bentuk pengungkapan dalam sastra–maka ia juga sarat dengan kalimat dan pilihan kata yang kaya. Ia tidak lugas, sebagaimana sebuah tulisan ilmiah. Dan sebagaimana bentuk pengungkapan sastra lainnya, esai tidak perlu terlalu memusingkan kebenaran data dan fakta, karena yang hendak dicapai oleh sang penulis adalah menanamkan kesan yang dalam di dalam diri pembaca, terhadap pikiran atau perasaan yang disampaikannya.

-baca selanjutnya->

Xanana

Hari itu, di sebuah desa di tepi hutan, presiden pemaaf itu menemui seorang ibu tua yang kurus. Pelukan dan air mata jadi saksi kisah mereka di masa perjuangan. Presiden itu, sang komandante, pernah ditolong putra sang ibu di masa gerilya. Kini putranya sudah tiada.

Xanana Gusmao, sang presiden pemaaf itu suatu kali bercerita tentang masa-masa gerilya dalam acara Kick Andy, MetroTv, Kamis malam. “Saya pernah sakit parah,” dengan suara pelan ia memulai kisahnya. “Lama sekali, terkena malaria. Demam selama setahun. Rasanya ingin mati. Tanpa makanan, tanpa apa pun. Lalu kami bertemu ibu tua itu. Dia dan putranya merawat saya di dalam lubang bawah tanah itu. Pasukan kami hanya makan singkong. Dia menjual barang-barang apa saja ke kota untuk membeli obat malaria untuk saya.”

-baca selanjutnya->