Kaki Gunung Salak, Suatu Pagi

Entah kenapa
tiap kali menatap langit pagi,
kau teringat kata-kata ini:

“Kita lahir terlalu pagi
untuk terlambat mati..”

Kau tau, en, kata-kata itu terdengar seperti ungkapan penyesalan
dari mereka yang tak mampu mengubah keadaan

Dan terkadang, ketika kita tak bisa mengubah keadaan,
bukan berarti kita bisa berdamai dengan kenyataan

sementara yang lain akan bilang,

“Lihatlah pagi apa adanya, bukan apa yang seharusnya..”

mungkin yang sebenarnya terjadi adalah ini:
tiap zaman menciptakan paginya sendiri

tapi di hari-hari ini
orang mungkin terlalu bergegas untuk sekadar mengingat embun pagi

atau sebaliknya, mereka akan bilang,
tak ada kata terlalu pagi untuk mengingat mati. Entahlah.

yang pasti ini pagi, en
dan kita masih di sini
jalanan masih hijau
udara bening dan
air masih dingin
juga angin

pagi ini doa terasa lebih hening

(Maret-April 2013)

DSC_0070-ed3

DSC_0149-ed3

DSC_0216-ed3

DSC_0252-ed3

DSC_0228-ed3

DSC_0224-ed3

Pagi

life of pi-2

Kabar dari seberang pulau itu bilang,
“Hujan di sini. Deras. Jalanan menuju pagi banjir tenggelam,” katamu,
tak sempat menyapa batu nisan

Di sini
hujan pagi juga datang
pelan-pelan
dari jendela kosan

serupa gumam dalam diam
seperti sunyi mengiris sepi
mampir di halaman

Langit masih mendung, en, gelap di luar

tak lama berselang,
hanya sependek ingatan,
hujan pergi dengan langkah pelan-pelan
seperti berat meninggalkan
tapi dia pergi
tanpa menengok ke belakang

seperti pilunya Pi tadi malam,
ketika Richard Parker meninggalkan

(Desember 2012)

Rolling Setun

Malam waktu itu
di tengah hingar suara
kecamuk pikiran mendera
tak sempat kau bertanya
pada angin, pada ruang, pada malam yang tenggelam

kabar itu datang tiba-tiba
tanpa dipinta
Malam yang membuatmu berat berkata-kata

sejenak dua jenak alam sekitarmu seperti bisu
orang-orang bicara tapi tak ada suara
semua gerak seperti gerakan lambat

benarkah kabar ini?

Dan selanjutnya adalah yang terjadi:

Ini pagi. Matahari seperti berkaca-kaca
setelah kopi dan selembar daun roti
Dunia berubah, en
Dunia mungkin berubah
Benarkah semuanya takkan pernah sama lagi?

seperti berangkat pergi
menyongsong kesedihan pagi hari
Dunia mengabur
Matahari lebur

(Jekardah, September 2012)

Ada yang lebih dari

sekelam apa pun hidupmu,
ada yang lebih leluasa dari pagi.
malam namanya.

segetir apa pun nafasmu,
ada yang lebih tenggelam dari malam.
angan namanya.

sedalam apa pun anganmu,
ada yang lebih malam dari gelap.
terang namanya.

seberat apa pun matamu,
ada yang lebih luas dari langit.
kasur namanya.

seluas apa pun malammu,
ada yang lebih mewah dari waktu.
tidur selamanya.

tidurlah, an.

separah apa pun lukamu,
ada yang lebih ringan dari kapas.
pikiran namanya.

dan seringan apa pun langkahmu
ada yang lebih berat dari hari.
pikiran namanya.

di sana, sejauh pandangan mata,
ada yang lebih jernih dari mataair.
airmata namanya.

dan di sini, di dalam sini
ada yang lebih tenang dari danau.
sentuhan namanya.

(Maret-April 2012)

Rekam Jejak Ingatan

Selepas maghrib menjelang malam waktu itu. Jalanan sudah gelap. Lampu-lampu rumah dan jalanan mulai bersinar berpendar. Di perjalanan angkot menuju travel untuk kembali ke “kota maklum” tiba-tiba hujan turun cukup deras. Dan dengan terdorong suasana hujan malam di perjalanan yang sepi dan terasa mellow karena berat meninggalkan rumah dan teringat padanya, pada kisah beberapa malam sebelumnya, kata-kata ini melintas di kepalamu dan terus mengiang,

“rintik hujan seperti berlari”

Dari kaca depan angkot itu kaupandangi hujan deras yang mengguyur, lampu jalanan dan lampu kendaraan yang melaju tampak mengabur disiram hujan. Dan selanjutnya bait kedua pun lahir,

“lampu jalanan basah
berpacu mengabur diri”

Dan setelah travel berangkat pun hujan deras makin menjadi. Kata-kata itu masih juga terus mengiang, ”rintik hujan seperti berlari..” Dari balik kaca, melihat ke arah jalanan di luar sana, kata-kata di sudut hati membisiki,

“hujan ini sederas sunyi
tak ada jalan kembali”

dan sebagai penutup adalah ingatan puisi masa lalu.

***

rintik hujan seperti berlari
lampu jalanan basah
berpacu mengabur diri

hujan ini sederas sunyi
tak ada jalan kembali

malam ini kau cantik sekali
seperti hening pagi

(Perjalanan Bandung-Jkt, Mei 2011)

Sabda Ibunda

kasih-ibu

Tentu kau masih mengenangnya,
ketika ingatanmu menjangkau masa lalu

Di suatu sore yang cerah secerah pagi
ibundamu bersabda lirih,
“Apa pun pilihan hidupmu, nak
jujurlah pada diri sendiri
jangan khianati hati nurani.”

Dan di lubuk hatimu yang terdalam
kau pun tahu
ibunda tak pernah minta lebih dari itu

(Februari 2004)