Menguak Kamp Maut di Rusia

Gulag

“Tuhan selalu tahu penderitaan di muka bumi,

tapi Dia belum pernah merasakannya” (Anatoly V. Silin, penyair Rusia)

Judul Buku : Gulag (The Gulag Archipelago 1918-1956)

Penulis: Aleksandr I. Solzhenitsyn

Penerjemah: Akhmad Susanto

Penyunting : M. Mushthafa

Penerbit : Bentang, Yogyakarta

Oktober, 2004, xxvii+630 halaman

Sejarah tak pernah bisa ditulis dengan kata “seandainya”. Lebih dari 60 tahun yang lalu sekiranya dunia tak hanya membuka mata terhadap kekejaman Nazi Jerman, mungkin akan lebih banyak manusia-manusia Eropa yang terselamatkan dari kekejaman dan penyiksaan kamp-kamp kerja paksa yang ada.

Dan bagi mereka yang pernah menonton film The Pianist (Roman Polanski, 2002) mungkin akan terlintas tanya dalam hati, apa yang lebih parah daripada kekejaman Nazi Jerman pada Perang Dunia II ? Terkesan retoris memang, tapi boleh jadi jawaban untuk pertanyaan ini adalah Kepulauan Gulag di Rusia di masa rezim Komunis pimpinan Stalin.

Di masa itu dunia memang hanya tahu kekejaman Nazi Jerman di Eropa dengan Hitler sebagai gembongnya. Tapi sebenarnya saat itu juga, di benua yang sama, di bawah langit yang sama, sedang berlangsung kebengisan rezim Stalin di Rusia yang menghabisi hampir sepertiga dari populasi warganya (sekitar 60 juta jiwa jadi korban, versi lain menyebut 35 juta jiwa). Kejadian ini demikian tersembunyi karena rezim Stalin menjalankan kekejamannya di sebuah kepulauan yang luput dari perhatian dunia internasional.

Di tempat ini puluhan juta tahanan, baik tahanan politik maupun non politik, wanita maupun anak-anak, mengalami berbagai macam variasi kekejaman yang tiada taranya. Rangkaian penyiksaan dimulai dari masa penangkapan yang berlangsung dalam beberapa gelombang selama tahun 1918-1953. Mereka yang ditangkap adalah mereka yang dianggap menentang kebijakan Partai.

Di dalam penjara yang tersebar di beberapa tempat ini mereka dimasukkan ke dalam sel tahanan dan mengalami penyiksaan di luar batas nalar kemanusiaan. Penjaga penjara diantaranya menggunakan sistem pengatur udara untuk membuat sebuah sel dingin membeku dan kemudian panas membara hingga pori-pori seorang tahanan bisa mengeluarkan darah.

Sebuah sel yang berukuran 3 x 3 meter menjadi penuh sesak karena diisi oleh 30 tahanan sekaligus. Di dalam sel yang lebih mirip kandang ini para tahanan hanya mengenakan celana dalam. “Kandang” itu sendiri tidak berjendela dan berlubang angin (hlm. 82-83). Suhu di dalam sel ini bisa mencapai 40 hingga 45 derajat Celsius. Dengan tubuh mereka yang telanjang dan berdesakan itu maka kulit mereka akan terjangkit eksim karena keringat mereka sendiri. Tak ada kesempatan menghirup napas segar. Untuk buang air hanya ada ember sebagai ganti toilet. Dan semua ini bisa berlangsung sampai berminggu-minggu.

Selain mengalami itu semua, tahanan juga harus mengalami serangkaian interogasi yang jika diuraikan bisa mencapai 52 teknik penyiksaan (hlm. 76). Diantaranya mereka menghukum tahanan dengan memasukkannya ke dalam “kotak”. “Kotak” ini adalah sebuah ruangan, bisa sangat terang karena diberi lampu listrik tapi bisa juga gelap, yang dindingnya terbuat dari kayu dan dibangun sedemikian rupa sehingga tahanan hanya bisa berdiri dengan tubuh menempel rapat ke pintu dan mereka dipaksa untuk tidak tidur hingga beberapa hari bahkan seminggu lamanya. Kadang “kotak” ini juga diisi dengan ratusan bahkan ribuan kutu, yang dibiarkan berkembang biak.

***

Aleksandr I Solzhenitsyn menceritakan semua kejadian mengerikan itu dalam bukunya The Gulag Archipelago yang ia tulis setelah dibebaskan dari kamp kerja paksa pada 1953. Selama 8 tahun sejak ia ditangkap pada 1945 Solzhenitsyn mengalami sendiri rangkaian kekejaman di masa rezim Stalin. Buku yang dalam edisi aslinya terdiri dari 3 jilid ini akhirnya meraih penghargaan Nobel sastra di tahun 1970. Meski sebenarnya buku ini juga bisa dikatakan sebagai laporan jurnalistik yang ditulis dengan gaya sastra. Dan untuk lebih memudahkan pembacanya, buku yang telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa dan telah terjual sebanyak 30 juta eksemplar ini diterbitkan pula edisi ringkasnya pada 1985.

***

Mereka yang telah ditangkap dan diinterogasi selanjutnya dipindahkan ke kepulauan Gulag yang terbentang dari Selat Bering sampai ke laut Bosporus. Ribuan kamp maut telah menunggu mereka di sini.

Di kepulauan inilah mereka melakukan kerja paksa membangun kanal, sarana transportasi, dan pekerjaan berat lainnya. Semua dilakukan dengan “teknologi gerobak dorong dan sekop” alias pembangunan cara primitif. Dalam nada satire Solzhenitsyn menulis: sangat tidak adil membandingkan pembangunan yang kami lakukan dengan pembangunan piramid Mesir. Sebab piramid Mesir dibangun dengan teknologi yang terbaru saat itu, sementara kami mengunakan teknologi dari 40 abad sebelumnya!

Dengan kondisi kamp yang demikian menyiksa dan kerja paksa yang sangat berat, tidak heran jika mayat-mayat dengan mudah bergelimpangan di lokasi kerja (hlm. 267)

Kehidupan di kamp yang sangat mengenaskan terekam dengan gambaran para tahanan yang saking laparnya memakan bangkai kuda yang sudah mati lebih dari seminggu. Di tambang emas Utiny para zek meminum setengah barel pelumas yang dibawa ke sana untuk meminyaki kereta. (hlm. 273)

***

Hasil terjemahan yang cukup baik membuat buku ringkasan dari buku aslinya ini tetap mudah dicerna. Gaya bertutur penulisnya yang lincah, bernuansa satire, menambah kelebihan buku ini hingga bisa mengguncangkan mental pembacanya jika tidak terbiasa membayangkan kekejaman manusia yang bertebaran di dalam lembar-lembar halamannya.

***

Sebuah kisah pelarian diceritakan oleh penulis buku ini dengan sangat dramatis, yaitu pelarian Grigory Kudla dan Ivan Duschechkin pada tahun 1949. Setelah berhasil keluar dari kamp dan berjalan selama seminggu mereka tidak menemukan satu pun sumber air. Sejauh mata memandang adalah dataran luas atau gurun pasir, padang tundra yang tidak berpohon dan tanahnya terbekukan secara permanen atau hamparan rawa taiga yang luas. Salah seorang dari mereka, Duchechkin, tidak kuat lagi berjalan tanpa minum selama seminggu. Kudla memapahnya dengan harapan menemukan sumber air di balik sebuah bukit di depan mereka. Dengan terseret-seret mereka berusaha mencapai ke balik bukit itu. Namun, setelah sampai ternyata yang ada hanya genangan lumpur. Dushechkin menyerah dengan mengatakan, “Aku tidak kuat lagi. Potong leherku dan minum darahku.”

Di sini Solzhenitsyn pun menulis dengan nada sinis: Bagaimana pendapat para moralis ketika membaca ini? Apakah ada pilihan lain yang bisa diambil? Kudla juga tidak bisa berpikir jernih. Dushechkin pasti mati sebentar lagi—untuk apa Kudla harus ikut binasa bersamanya. Tapi seandainya ia menemukan air tidak jauh dari sana, bagaimana mungkin dia bisa melanjutkan hidup dengan mananggung rasa bersalah yang demikian besar terhadap Dushechkin?

Akhirnya Kudla memutuskan untuk berjalan lagi. Ia menyeret tubuhnya ke sebuah bukit kecil yang bercelah. Beruntung di celah itu ia menemukan air dan minum sepuasnya. Mereka pun selamat—tapi untuk sementara—karena akhirnya mereka pun tertangkap lagi oleh penjaga hutan (hlm. 487-488).

***

Perhatian dunia mulai tertuju ke Rusia ketika Solzhenitsyn menerbitkan novel pendek pertamanya One Day in the Life of Ivan Denisovich tahun 1962 (sudah diterjemahkan Gayus Siagian, Pustaka Jaya, Jakarta, 1976). Karyanya inilah yang membuat nama Solzhenitsyn melambung dan dikenal dunia sebelum The Gulag Archipelago diterbitkan tahun 1967.

Kisah nyata tentang kekejaman, penindasan antar manusia atas nama politik, ideologi, atau entah apa tak akan berakhir hanya sampai halaman terakhir sebuah buku. Di masa rezim Orde Baru, di negeri sendiri, kita mengenal kekejaman di Pulau Buru. Kini di abad milenium yang mentereng ini, dunia juga masih mengenal Kamp Guantanamo di Kuba, Penjara Abu Ghraib di Irak atau penjara-penjara lain di belahan dunia lain.

Di setiap masa, setiap generasi, sejarah selalu berulang…

Pandasurya

(Januari 2006)

3 thoughts on “Menguak Kamp Maut di Rusia

  1. 55 juta?? 30 juta? Kayaknya berlebihan dEh kalau ndak mau di bilang ‘pengecut’! Tp yg jelas ,Stalin adalah sosok pemimpin yg HEBat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s