Tanah Tumpah Darah

di atas bendera revolusi…sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati.

(GM, Caping 4 h. 80)

Advertisements

P16 Air vs P46 Air, judulnya

Capung Sunset

Kalau kau pernah naik kapal terbang—entah itu maskapai Perkutut Air atau Capung Air—tentu kau pernah merasakan yang namanya sensasi kejutan sesaat sebelum kapalmu berangkat lepas landas melayang di udara. Sensasi kejutan itu bisa membuat kita sedikit menahan nafas sesaat-dua saat. Seperti apa rasanya? Pertanyaan seperti ini mungkin sama maknanya ketika kita harus menjelaskan lezat dan maknyusnya makan es krim kepada orang yang belum pernah makan es krim. Artinya, singkat kata, rasanya sulit dilukiskan. Ya, meski sensasi kejutan itu hanya berlangsung sesaat dalam hitungan detik, tapi sulit menjelaskannya dengan kata-kata. Apakah “rasa” punya kata dalam bahasa manusia?

-baca selanjutnya-

Sungai Mutiara

Sungai Mutiara

Suatu kali di malam yang dingin, di tepi sebuah jalan di Tokyo, seorang warga Indonesia pernah ditanya seorang arsitek Jepang, “Tahukah Tuan,” tanyanya, “berapa jumlah tenaga listrik yang dipakai oleh mesin jajanan yang menawarkan Coca-Cola dan kripik kentang di seberang jalan itu?”. Yang ditanya tentunya tidak tahu dan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Sang arsitek pun menjawab, “Jumlahnya lebih besar ketimbang jumlah tenaga listrik yang tersedia buat seluruh Bangladesh.”

Kita tahu, arsitek Jepang itu rupanya sedang bicara soal ketidakadilan dunia. Sebuah tema yang hingga hari ini selalu tak pernah habis dibicarakan. Untuk lebih jelasnya mungkin kita bisa membayangkan ini: Di suatu tempat di atas bumi ini ada orang-orang yang bisa menikmati segala fasilitas air, listrik, kendaraan, dan energi yang berlimpah yang membuatnya bisa hidup dengan nyaman berlebihan. Tapi kita juga tahu, di detik yang sama, di belahan bumi lain, di tempat-tempat terpencil, di pojok-pojok dunia yang terlupakan, ada orang-orang yang sungguh sengsara menderita karena kesulitan mendapatkan setetes air, listrik, dan kebutuhan lainnya.

-baca selanjutnya->