Ini Sekeranjang Puisi Untukmu, Jangan Sedih..

1. Aku Ini Binatang Jalang – Chairil Anwar

2. Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

3. Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung – Joko Pinurbo

4. Menjadi Penyair Lagi – Acep Zamzam Noor

5. Matahari yang Mengalir – Dorothea Rosa Herliany

6. Kepada Cium – Joko Pinurbo

7. Konde Penyair Han – Hanna Fransica

8. Aku Ingin Jadi Peluru – Wiji Thukul

9. Where The Sidewalk Ends – Silverstein

10. Yang Sakral dan Yang Sekuler – Gadis Arivia

11. Ciuman Hujan – Pablo Neruda

12. Nikah Ilalang – Dorothea Rosa Herliany

13. Tirani dan Benteng – Taufik Ismail

14. Ayat-Ayat Api – Sapardi Djoko Damono

15. Sajak-sajak Sepatu Tua – WS Rendra

16. Setanggi Timur – Amir Hamzah

17. Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya – Gunawan Maryanto

18. Jantung Lebah Ratu – Nirwan Dewanto

19. Sub Rosa – Aurelia Tiara

20. Tersebab Aku Melayu – Taufik Ikram Jamil

21.  Selepas Bapakku Hilang – Fitri Nganthi Wani (Putri Wiji Thukul)

Advertisements

Abad yang Berlari

Ketika makna tak perlu lagi dicari dalam puisi,
buang jauh-jauh segala aturan yang orang bilang tentang menulis puisi,
bahwa puisi harus berima, harus ini harus itu, dan bla..bla..bla

ini batu untukmu, jangan sedih (h. 23)

Membaca buku puisi Afrizal Malna ini betapa terasa kata begitu sulit dimengerti,
atau memang mustahil dan tidak untuk dimengerti?
Atau si penyair memang tak ingin dimengerti?
Si penyair seperti punya dunianya sendiri.
Dan kita jadi bertanya-tanya,
jangan-jangan si penyair sendiri juga tak mengerti apa yang ditulisnya.
Mungkin Tuhan pun takkan mengerti.

Si penyair seperti menuliskan apa pun yang melintas spontan di kepalanya.
Surealis jadinya.
Nyata-tidak nyata, nyambung-tidak nyambung,
ilusi barangkali.

Maka muncullah pertanyaan, kalau tidak untuk dimengerti buat apa ditulis?
Pertanyaan semacam ini punya rumusan jawaban:
tidak semua hal harus ditanya ‘kenapa’, ‘untuk apa’,
tidak semua hal harus ‘kenapa mengapa’

Sekadar ingin eksis? Menyatakan keberadaan diri?
Boleh jadi, barangkali.
Di dunia yang kian sibuk dan sempit ini,
setiap orang mungkin memang ingin tampil apa pun bentuk wujudnya.

Baiklah, mungkin hanya segelintir bait yang mudah kita nikmati dari buku puisi ini.
Seperti yang berikut ini:

Kalaulah burung pecah ia kembali jadi langit. Kalaulah ikan pecah ia kembali jadi laut. Kalaulah rumput pecah ia kembali jadi tanah. Kalaulah bunga pecah ia kembali jadi angin.
(Padang Rumput, h. 27)

Membaca buku puisi yang tipis ini bisa membuat hidup jadi serba terasa relatif, serba nisbi.
Mungkin jadi seperti yang ditulis si penyair di h. 15,

kita hanya membuat kata, pada sepi di luar sana

Dan kalaulah puisi pecah ia kembali jadi sunyi…

(Pandasurya, Januari 2010)
-di luar hujan pagi ini, jalanan seperti cermin
gerimis dalam hati..

Sedikit Cerita dari Bienal Sastra Salihara

Di sebuah metropolitan yang katanya setiap orang hanya untuk dirinya sendiri, masihkah ada ruang untuk merayakan sastra? Masihkah sastra diberi tempat?

Gerimis seperti mengikis jalanan Jakarta malam itu.

Saya sedang di tengah perjalanan menuju Salihara. Maksud hati ingin menghadiri acara pementasan musik dan pembacaan puisi di Komunitas Salihara yang mengadakan Bienal Sastra 2011. Jalanan ke arah Pasar Minggu menuju lokasi Salihara seperti biasanya selalu padat tak bersahabat. Selagi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, hujan semakin menderas.

Di tengah jalanan basah yang disinari lampu kendaraan di tengah kemacetan, cahaya seperti berpendar dalam tangkapan mata, dan sesuatu melintas di pikiran tanpa permisi, apa yang bisa menjadi inspirasi di tempat semacam ini selain sebersit puisi?

Malam itu Bienal Sastra Salihara menggelar pentas musik dan pembacaan puisi yang menghadirkan Ivan Nestorman, seorang pemusik asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, dan 2 orang penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Acara ini juga diadakan bertepatan untuk merayakan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Rencananya acara berlangsung di teater atap Salihara. Namun tersebab malam masih dipeluk hujan maka acara digelar di serambi Salihara.

Sekitar pukul 9 malam acara baru dimulai. Setelah Ayu Utami selaku Direktur Bienal Sastra menyampaikan sedikit kata sambutan, Ivan Nestorman dan bandnya naik ke pentas dan menyapa para hadirin, “Malam baik,” katanya ramah. Sosok Ivan Nestorman yang berambut gimbal sepintas mengingatkan orang pada musisi terkenal Bob Marley. “’Malam baik’ mungkin adalah terjemahan langsung dari ‘goodnight’”, ujar Ivan. Hadirin tersenyum. Lalu lagu Benggong pun mengawang di udara. Sebuah lagu yang unik, indah, bernuansa tropis, etnis. Itu lagu pembuka yang dimainkan Ivan dan bandnya malam itu. Ia mengatakan bahwa lagu Benggong adalah lagu rakyat Manggarai, Flores, yang bercerita tentang perpisahan ketika seorang anak pergi jauh untuk merantau meninggalkan orangtua dan kampung halamannya.

Setelah beberapa lagu acara diselingi dengan pembacaan puisi dari 2 penyair, Zaim Rofiqi dan Esha Tegar Putra. Lalu Ivan dan bandnya kembali ke pentas membawakan musikalisasi puisi “Malam Laut” karya penyair Toto Sudarto Bachtiar, “Surat Kertas Hijau” dan “Dia dan Aku” dari Sitor Situmorang. “Saya orang gunung yang suka laut,” kata Ivan setelah membawakan “Malam Laut” dengan cukup memukau. Selanjutnya beberapa lagu dari Lamalera, Lembata pun mengalun indah. Penonton tampak cukup menikmati sajian musikalisasi puisi yang menghangatkan suasana malam itu.

***

Sejak 8-29 Oktober 2011 lalu Komunitas Salihara mengadakan Bienal Sastra 2011 bertema ‘Klasik Nan Asyik’ di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara ini dibuka dengan diskusi buku Lenka pada 8 Oktober dan diakhiri dengan Adu Puisi dan Pementasan Musik dari Gugun and Blues Shelter pada 29 Oktober lalu.

Rangkaian acara yang menampilkan sejumlah sastrawan, penyair, pemusik ini antara lain berisi pembacaan karya sastra, bincang sastra, ceramah dan diskusi, musikalisasi puisi, dan pementasan musik. Dan acara-acara itu berlangsung gratis tanpa dipungut biaya.

Bienal sastra yang diadakan Komunitas Utan Kayu-Salihara ini berlangsung dua tahunan dan tahun ini adalah yang ke-6. Acara ini bermula dari ide sejumlah sastrawan di Komunitas Utan Kayu yang pernah mengikuti festival sastra di Belanda. Dari sanalah muncul ide untuk mengadakan hal serupa di tanah air untuk memperkaya khazanah kesusastraan melalui unsur-unsur Nusantara maupun dunia.

***

Malam itu saya cukup menikmati dan terkesan dengan acara Bienal Sastra Salihara. Merayakan dan menikmati sastra bagi sebagian orang di Jakarta mungkin juga adalah bagian dari ritual jeda dari penat. Semacam pelepasan dan penghiburan diri dari segala kesumpekan, kepenatan hidup di kota seperti Jakarta.

Dibanding hiburan atau acara lain yang itu-itu saja, rasanya Jakarta tak banyak menyuguhkan acara semacam Bienal Sastra Salihara ini. Meskipun acara ini gratis, menyajikan dan menikmati sastra mungkin juga sebentuk kemewahan di tengah orang-orang yang sehari-harinya hanya sempat memikirkan bagaimana bisa makan hari ini. Sementara sebagian yang lain yang perutnya sudah kenyang dan nyaman, mungkin berpikir selintas tentang sastra pun tidak sempat.

Tapi kita tau, di luar sana masih ada orang-orang yang mau menyempatkan waktu untuk sekadar menikmati puisi karena mereka tau, seperti kata penyair Goenawan Mohamad, sajak adalah sesuatu yang berharga justru karena tak ditanya untuk apa. Guna puisi adalah hadir dengan tanpa guna.

Dan malam itu puisi seolah menegaskan kembali perannya di dunia yang sibuk ini: untuk menghayati keadaan dengan segala ketakbergunaannya. Mungkin tak sepenuhnya tanpa guna. Karena sastra bagaimanapun adalah hasil karya kreatif manusia yang bisa memberi getar pada hidup yang seringkali tak terduga.

Ya, malam itu malam baik dengan sajian musik bernuansa tropis dan sajak-sajak yang menikam pikiran dalam segelas kopi berisi perang, cinta, kuasa, & pengkhianatan.

Dan malam itu lagu Ivan Nestorman masih juga terngiang-ngiang,

“Di Lamalera orang berdansa dengan lautan..

Di Lamalera Lembata orang bercanda dengan lautan. Pemuda menari di pucuk gelombang..”

(Pandasurya, November 2011)

Catcher In The Rye

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.”

(Catcher In The Rye, J.D Salinger, h. 267)

Among other things, you’ll find that you’re not the first person who was ever confused and frightened and even sickened by human behavior. You’re by no means alone on that score, you’ll be excited and stimulated to know. Many, many men have been just as troubled morally and spiritually as you are right now. Happily, some of them kept records of their troubles. You’ll learn from them – if you want to. Just as someday, if you have something to offer, someone will learn something from you. It’s a beautiful reciprocal arrangement. And it isn’t education. It’s history. It’s poetry.

Selendang Pelangi, Selendang Puisi

rainbow_by_iamJoliePuisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.

Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.

Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.

-baca selanjutnya->

Ashes and Snow

Apa yang bisa dikatakan tentang film ini selain film dokumenter yang puitis, indah, hening..?

Film karya Gregory Colbert, seniman asal Kanada ini, menangkap momen-momen pribadi antar manusia dengan fauna, dan interaksi keduanya tanpa ada jarak yang memisahkan.

Perpaduan indah antara fotografi, film dan puisi…

Ashes and Snow

Dan kau pun berbisik kepadaku
“Pejamkanlah matamu
biarkan aku bercerita tentang langit senja yang sephia
tentang gurun yang mengabarkan keheningan”

ashes-and-snow2

Di hamparan pasir itu
kau bertapa bersama Cheetah
bersama alam yang diam
Tak ada awal tak ada akhir
waktu beku seolah tak hendak berlalu

Kau menari bersama angin
tarian tanpa nama
kaulah pasir itu
kaulah hening itu

Dan kau bercerita tentang gajah
tentang langit yang jadi rumah mereka
gajah-gajah itu dulunya bisa terbang, katamu
dan tiap malam mereka tidur di atas awan

ashes-and-snow4

kukatakan kepadamu
ceritakanlah tentang keindahan
tentang air yang mengalir damai

dan di kedalaman samudera
kau menari bersama paus
tarian indah keheningan
kaulah tarian itu
kaulah sunyi itu

tak ada awal tak ada akhir
dengarlah kepak sayap burung-burung
dan nyanyian tak bersuara
serupa bidadari baru turun dari surga

kau menari bersama angin
hanyut dalam hening..
sunyi
tenang
damai

(November 2008)

Cuplikan film Ashes and Snow (2005)

Download Film:

http://rapidshare.com/files/40261536/AshAnSnow.part1.rar
http://rapidshare.com/files/40266979/AshAnSnow.part2.rar
http://rapidshare.com/files/40272360/AshAnSnow.part3.rar
http://rapidshare.com/files/40277591/AshAnSnow.part4.rar
http://rapidshare.com/files/40282648/AshAnSnow.part5.rar
http://rapidshare.com/files/40288175/AshAnSnow.part6.rar
http://rapidshare.com/files/40293532/AshAnSnow.part7.rar
http://rapidshare.com/files/40293586/AshAnSnow.part8.rar