Fiksi-Fantasi

Terkadang memang manusia merasa harus lari ke dunia fiksi-fantasi bertabur dewa-dewa yang tak berpijak di bumi untuk kembali disadarkan bahwa sesungguhnya ia hidup di dunia nyata dengan menjalani kesumpekan sehari-hari..(Pandasurya, Mei 2011)

Advertisements

Kirkus

Saya membayangkan–mungkin sudah ada juga yang pernah punya pikiran yang sama– di waktu mendatang kita punya komunitas/kelompok/lembaga yang diperhitungkan semacam “Kirkus Review”nya buku-buku Indonesia. Dan di toko-toko buku besar bisa terpajang rak khusus/label “Buku Pilihan/Rekomendasi (nama kelompok/komunitas itu)”.

Artinya, kita di Indonesia ini sepertinya (atau sudah saatnya) perlu juga punya lembaga “Kritik Buku” yang mumpuni semacam Kirkus Review itu.

Kelompok/komunitas/lembaga itu bisa punya semacam kelompok/dewan khusus yang mengulas/mengkritik buku-buku dari berbagai genre yang ada.

Yah, saya membayangkan..

“Penerbit boleh menerbitkan buku apa saja, tapi pada akhirnya sang pembacalah yang menilai dan menentukan buku apa yang ingin dibacanya”
So Many Books, So Little Time,” kata Frank Zappa.
Because life is too short to read bad books,” jawab Kirkus Review.

Menapaki Nama Indonesia

teks dan foto dari http://www.lenteratimur.com/menapaki-nama-indonesia/

Laksana bayi, nama yang terberi padanya kerap sudah jauh terdengar sebelum prosesi kelahiran terjadi. Nama tersebut sering kali tak sekadar jatuh dari langit. Ia cenderung didapat dari sejumlah perenungan dan inspirasi, pun sekian kali diskusi. Demikian pula dengan nama ‘Indonesia’. Nama ini sudah ada dan tersebar sebelum ia lahir. Namun, bagaimanakah sesungguhnya proses penamaan ini terjadi?

Sebelum bernama Indonesia, orang-orang Eropa telah memiliki beragam sebutan tunggal untuk mengidentifikasi banyak kawasan macam Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Maluku (juga Papua dengan banyak perdebatan). Ada yang menamakannya dengan ‘The Indies’, ‘The East Indies’, ‘The Indies Possesions’, ‘Insulinde’ (the islands of the Indies), atau ‘Tropisch Netherland’ (the tropical Netherland), atau ‘The Netherland (East) Indies’.

Selain nama-nama tersebut, tersebar pula nama-nama lain untuk kepulauan ini, yang umumnya digunakan oleh mereka yang bukan berasal dari Belanda, seperti ‘Oceanie’, ‘Oceania’, dan ‘Malasia’ (Perancis), ‘the Eastern Seas’, ‘the Eastern Island’, dan ‘the Indian Archipelago’. Ada juga bangsa-bangsa selain Eropa yang memberikan macam-macam nama, namun itu tak merujuk sebagaimana di benak Eropa terhadap bentang daerah yang relatif sama.

Pada pertengahan abad 19, lahir sebuah jurnal yang berkonsentrasi untuk mendedah jejak dinamika kehidupan di kawasan yang kini bernama Indonesia. The Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, demikian nama jurnal tersebut. Lahir pada 1847 dan berkedudukan di Singapura, jurnal ini digawangi oleh editor James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia.

Dalam volume pertamanya, Logan menyatakan bahwa artikel-artikel di jurnal ini akan terdiri atas hal-hal yang berhubungan dengan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Philipina, Maluku, Bali, Semenanjung Melayu, Siam, dan, dia berharap, China.

-baca selanjutnya->