Ada yang lebih dari

sekelam apa pun hidupmu,
ada yang lebih leluasa dari pagi.
malam namanya.

segetir apa pun nafasmu,
ada yang lebih tenggelam dari malam.
angan namanya.

sedalam apa pun anganmu,
ada yang lebih malam dari gelap.
terang namanya.

seberat apa pun matamu,
ada yang lebih luas dari langit.
kasur namanya.

seluas apa pun malammu,
ada yang lebih mewah dari waktu.
tidur selamanya.

tidurlah, an.

separah apa pun lukamu,
ada yang lebih ringan dari kapas.
pikiran namanya.

dan seringan apa pun langkahmu
ada yang lebih berat dari hari.
pikiran namanya.

di sana, sejauh pandangan mata,
ada yang lebih jernih dari mataair.
airmata namanya.

dan di sini, di dalam sini
ada yang lebih tenang dari danau.
sentuhan namanya.

(Maret-April 2012)

Advertisements

Terang-gelap

Rasanya tak pernah ada cukup waktu, an,
untuk mencerna dan meresapi semua yang terlewati setiap hari.
Seperti tak pernah ada hari ini..

Dan pada akhirnya
yang terang tak selamanya bunyi, an
yang gelap tak selamanya sunyi.

Malam bersahabat dengan diam.

(Feb 2012)

Dan Malaikat pun..*

a.k.a. Fight Club

Dan setelah semuanya
segalanya sedang menuju kehancuran

9..
8..
7..

Lalu kau membaca Fight Club
dan seperti tersadarkan bahwa
dunia tak pernah seperti yang kaubayangkan
ada dunia lain di luar sana
dan di dalam sini
: gelap yang luput dari kata
gelap yang terlalu menyilaukan

kau bertarung hanya untuk bertarung
berduel dengan orang yang tak pernah kaukenal sebelumnya
: dirimu sendiri
bagaimana kau mengenal dirimu jika kau tak pernah bertarung?
ini bukan soal kalah-menang
pertarungan tak sebanding dengan kata
kau bertarung hanya untuk bertarung
tak ada yang selesai setelah bertarung
tapi juga tak ada lagi yang masih penting

Jika kau tak pernah bertarung
kau bertanya-tanya tentang luka
tentang dunia yang terlalu sempurna
keindahannya, kebusukannya
orang-orang yang serba tau segalanya
matilah dengan segala yang kautau**, katamu
matilah dengan segala kemungkinan
ini tentang mimpi yang tak pernah jadi nyata
gelap yang terlalu menyilaukan

Dan suara-suara yang kau dengar selalu berkata:
“jangan pernah mengharap mati tanpa bekas luka”

6..
5..
4..

Ya, kau tau, ini tentang penghancuran diri
Total. Jenderal. Sampai batas tak berbatas.
Infinity. Definitely.
mungkin kita harus menghancurkan segalanya
untuk menjadi lebih baik
dan tak seorang pun berhak menentukan
seperti apa ‘menjadi lebih baik’ itu

kau marah
kau berdarah
Ya, kau berdarah
tapi jangan pikirkan bahkan sekadar kata “sakit”
Tak ada yang peduli apakah kau hidup atau mati
tak ada bedanya
dan rasa itu menyenangkan
Bencana dan keberuntungan sama saja***

3..
2..
1..

Luka.
Bahagia.
Semuanya terlalu sempurna
tapi tak berarti apa-apa
tak pernah apa-apa
berujung segalanya

(Pandasurya, Juli-Agustus 2010)

*lirik lagu Malaikat–The Milo
**komentar Putu Wijaya di back cover Supernova–Dee
***bait puisi Rendra

Mengheningkan C.i.n.t.a

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Yang perih, yang getir
Yang berakhir getir, berawal luka

Yang kelam, yang terpendam
Yang galau, yang kacau
Gelap yang teriris paling gelap,
Yang tercabik-cabik
Dikoyak rapuh. Retak
Digilas remuk. Pecah berkeping

Semua ada di sini
Semua berkumpul di sini
Menggelegak di sini

Dan kata-kata lebur di sini
Di hening yang terdalam

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Mengheningkan C.i.n.t.a

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

Yang perih, yang getir

Yang berakhir getir, berawal luka

Yang kelam, yang terpendam

Yang galau, yang kacau

Gelap yang teriris paling gelap,

Yang tercabik-cabik

Dikoyak rapuh. Retak

Digilas remuk Pecah berkeping

Semua ada di sini

Semua berkumpul di sini

Menggelegak di sini

Dan kata-kata lebur di sini

Di ruang yang terdalam

Ketika hati tercabik, bagaimana bunyinya?

(April’2010)