Lilin

It is better to light a candle than just to curse the darkness..

(Saman, Ayu Utami, h. 178)

Jangan caci-maki Kegelapan, nyalakan lilin..
lilin3





*The phrase “it’s better to light a candle than curse the darkness” is a very slight alteration on the less common Chinese proverb “‘Don’t curse the darkness – light a candle.” The advice given is “if something i
s wrong, do something about it rather than complain.”

(http://everything2.com)

Advertisements

Menciptakan Dialog dalam Tulisan

Oleh Putu Wijaya

Sebuah tulisan yang baik selalu tersusun dalam struktur. Ada awal, isi, dan kesimpulan. Ada introduksi, analisa dan akhirnya opini. Secara umum bentuknya menjadi awal, isi, dan akhir. Tetapi sudah lama ada berbagai terobosan yang mengacak urutan, sehingga kesimpulan bisa ditempatkan di awal, kemudian mundur perlahan-lahan memberikan introduksi dan kemudian analisa. Itu membuat tulisan menjadi dinamis. Namun tak tercegah juga kadang bisa malahan ruwet.

 

Struktur tulisan sudah beragam dan tidak bisa dibandingkan untuk mencari yang terbaik. Materi tulisan, format tulisan, karakter penulis, bahkan setting ke mana dan kepada siapa serta dalam situasi bagaimana tulisan itu dilahirkan, memberi andil terhadap struktur mana yang kemudian dipilih. Karena struktur pada akhirnya adalah bagian dari strategi, untuk membuat tulisan tersebut lebih berbicara kepada pembacanya.

 

Strategi sendiri adalah bagian dari teknik penulisan. Teknik penulisan menentukan wujud dan karakter dari isi pikiran yang hendak disampaikan. Ia bukan hanya struktur, ia juga mengandung pertimbangan psikologis yang memberikan emosi pada tulisan, sehingga tulisan menjadi hidup.

-baca selanjutnya->

Mengarang adalah Berjuang

Oleh Putu Wijaya

(Di depan guru-guru pemenang karya tulis)

Astya Puri, 14 November 1998

***

Ada tugas, saya harus berbicara di depan guru-guru dari seluruh Indonesia yang memenangkan lomba karya tulis. Topiknya pengalaman pribadi sebagai seorang pengarang. Saya segera menyusun strategi. Bukan saja tentang apa yang akan dibicarakan, tetapi terutama sekali bagaimana membicarakannya.

Pada waktunya, saya muncul ke dalam forum yang diselenggarakan di hotel berbintang tiga itu, tepat waktu, siap, formal. Pakaian saya rapih dan harum untuk mengesankan bahwa zaman seniman Senen sudah lewat. Sekarang seniman itu rapih dan berdisiplin. Saya ingin membuktikan satu hal yang saya anggap sangat penting tentang citra kepengarangan. Bahwa mengarang itu bukan kerja ongkang-ongkangan, tetapi berjuang.

Sebelum masuk ke dalam gedung, berulangkali saya balik makalah saya:

Pendahuluan

Menulis buat saya adalah pekerjaan yang tidak mudah. Bertahun-tahun saya belajar dari tulisan orang lain yang saya kagumi. Saya kagum pada cerita-cerita Pramoedya. Ia terasa kokoh. Bahasanya mengalir, lancar, kaya dengan ungkapan-ungkapan yang baru. Kemudian Toha Mohtar menuntun saya pada kesederhanaan dan kejujuran. Trisnoyuwono mengajarkan saya keberanian untuk menelanjangi diri sendiri. Sementara Rijono Pratikto membuat saya menyadari betapa pentingnya imajinasi dan plot. Lalu Goenawan Mohamad mengajak saya untuk meluaskan wawasan dan menajamkan gagasan. Pekerjaan sebagai wartawan memberikan saya pemahaman pada dead line.

-baca selanjutnya->