BLUR

blur-ed

“Saya percaya, semakin baik mutu jurnalisme, makin baik pula mutu masyarakat.”
–Bill Kovach

Advertisements

The Old Man and The Sea

the old manTerjemahan yang baik konon adalah terjemahan yang tidak terasa sebagai terjemahan. Alias benar-benar alih bahasa, bukan terjemahan mentah-mentah, harafiah, atau sekadar ganti bahasa.

Di tahun 2008 lalu setidaknya ada dua penerbit yang “berani-beraninya” menerbitkan novel terjemahan karya masterpiece Hemingway ini. Pertama, penerbit Selasar Surabaya Publishing yang cetakan pertamanya April 2008 dan kedua, Serambi Jakarta dengan Cet. I Mei 2008. Sementara penerbit Pustaka Jaya sebenarnya juga pernah menerbitkan terjemahan novel ini di tahun 1973.

Tapi kenapa disebut “berani-beraninya”? Karena menerjemahkan sebuah karya apalagi sebuah novel terjemahan dari penulis peraih Nobel bila tanpa dipersenjatai dengan penerjemah dan editor yang handal adalah sama artinya dengan menguji nyali atau bermain-main api yang ujung-ujungnya bisa mengakibatkan tragedi “setor nyawa” atau “jatuh harga” di hadapan sidang pembaca yang kritis.

Layaknya sebuah novel terjemahan, pertanyaan paling pertama dan utama yang layak diajukan adalah: seperti apa kualitas terjemahannya? Jawabannya, biarkan karya yang bicara. Karena kalau sudah bicara kualitas, jangankan pembaca berpengalaman yang kritis, pembaca awam yang masih “hijau” alias “bau kencur” pun rasanya tidak akan terlalu sulit membedakan mana “emas” mana “loyang.” Untuk hal yang satu ini soal selera mari kita singkirkan lebih dulu.

Nah, yang berikut ini ada sedikit contoh. Sebuah paragraf dalam bahasa asli novel ini:

He loved green turtles and hawks-bills with their elegance and speed and their great value and he had a friendly contempt for the huge, stupid logger-heads, yellow in their armour plating, strange in their lovemaking, and happily eating the Portuguese men-of-war with their eyes shut.

Terjemahan versi Selasar di hlm 31:
Dia menyukai penyu hijau dan paruh elang karena bentuknya yang elegan dan kecepatannya juga nilainya yang tinggi. Ia juga menyimpan suka-suka benci ketika melihat kepala tukang kayu bodohnya yang besar, warna kekuningan apa lapisan kulitnya, keanehan bercintanya dan dengan sukaria melahap ubur-ubur Portugis dengan matanya yang terpejam.

Terjemahan versi Serambi di hlm 40:
Dia suka penyu hijau dan jenis yang paruhnya seperti elang dengan keanggunan yang dimilikinya, dan harganya yang tinggi. Makhluk itu menjijikkan tapi lucu dengan bentuknya yang besar, kepala besar yang tampak bodoh, warna kuning tempurungnya, gaya kawinnya yang aneh, serta kegemarannya melahap ubur-ubur dengan mata terpejam.

Memang, sepintas terjemahan versi Serambi masih lebih bisa diterima ketimbang terjemahan Selasar yang acakadut.

Nah, kalau sudah membaca dua versi terjemahan di atas, rasanya bukan salah bunda mengandung kalau pembaca jadi malas melanjutkan bacaannya tapi malah membalik-balik halaman mencari-cari lagi kejanggalan-kejanggalan kalimat, salah ketik atau tanda baca, yang nampaknya masih bertebaran di novel terjemahan ini. Pekerjaan mencari kutu yang menyita waktu tapi menguji kecermatan, kejelian, dan kesabaran. Konon begitulah katanya:-)

(Pandasurya, 6 Agustus 2009)

kau, aku, kita, dia, mereka

Kali ini ingin kukatakan kepadamu,
sesungguhnya novel ini berkisah tentangmu, “kau”, “aku”, “kita”, “dia”, dan “mereka”.

***
Berkat yin bahasa lahir
Berkat yang bunyi lahir
Percampuran yin dan yang melahirkan insan
Ketika insan lahir, suara hilang
Ketika suara lahir, nyanyian lenyap
(h. 520)

Aku tidak mempercayai keajaiban-keajaiban sama seperti aku, pada mulanya, tidak mempercayai takdir. Namun, ketika kita ada dalam keadaan putus asa, tidakkah yang tersisa hanyalah keajaiban-keajaiban tempat kita berharap? (h. 118-119)

Dalam gelap gulita, setiap orang punya takdirnya masing-masing (h. 124)

Di dunia ini, tak ada cara untuk memahami apa yang seharusnya terjadi (h. 246)

Pengembara yang sebenarnya tak memiliki tujuan sama sekali (408)

Dia berkata bahwa dirimulah yang menyatakan bahwa cinta hanya sebuah ilusi yang berguna untuk menyesatkan diri sendiri (h. 441)

Manusia adalah salahsatu makhluk sulit yang menciptakan badai-badainya sendiri (h. 507)

Kebijaksanaan juga adalah semacam kemewahan, semacam ongkos dari sebuah kemewahan (508)

Kau tahu bahwa aku tak bisa melakukan apa-apa selain berbicara kepada diriku sendiri untuk mengusir kesepianku. Kau tahu bahwa kesepianku ini tanpa penawar, tak seorang pun dapat melipur laraku, aku hanya dapat berkata pada diriku sendiri sebagai kawan bicaraku.
Dalam monolog panjang ini, “kau” adalah sasaran ceritaku, sesosok aku yang mendengarkanku dengan penuh perhatian, “kau” hanyalah bayang-bayang diriku.
Saat aku mendengarkan “kau” yang menjadi milikku, aku menciptakan “dia” untukmu, karena kau seperti aku, kau tak kuasa menanggung kesepian, kau juga harus menemukan kawan bicara.
Maka kau bicara dengan “dia” seperti aku bicara dengan “kau”.
Dia berasal dari “kau”, tapi mengukuhkan keakuanku.
“Kau”, kawan berbincangku, kau membawa pengalaman dan imajinasiku dalam hubungan antara “kau” dan “dia” tanpa dapat membedakan mana imajinasi dan mana kenyataan..(h. 455-456)

Tak ada keajaiban, itulah yang dikatakan Tuhan kepadaku, ketidakpuasan yang abadi. Aku mengajukan pertanyaan kepadanya: Dalam hal ini, apakah masih ada sesuatu yang harus dicari?

Semuanya tenang di sekelilingku. Salju turun dalam kesunyian. Aku tercengang dalam ketenangan ini. Sebuah ketenangan surgawi.
Tak ada kegembiraan. Kegembiraan hanya berhubungan dengan kesedihan.
Hanya turun salju.

Pada saat ini, aku tak tahu di mana tubuhku berada, aku tak tahu dari mana potongan tanah surga ini berasal. Aku meneliti sekeliling.
Aku tak tahu bahwa aku tak mengerti apa-apa, aku juga mengira bahwa aku mengerti semuanya.

Peristiwa-peristiwa berlalu di belakangku. Selalu ada sebuah mata asing. Yang terbaik adalah berpura-pura mengerti. Pura-pura mengerti, tapi sama sekali tidak mengerti.

Pada kenyataannya, aku sama sekali tidak mengerti, sama sekali tidak.
Begitulah.

Peking—Paris, Musim Panas 1982—September 1989

(h. 713)

Rye

“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal. Sementara mereka yang dewasa justru bersedia untuk hidup dengan rendah hati untuk memperjuangkan hal itu” (h. 265)

Kalau ada satu kata yang bisa menggambarkan novel ini maka kata itu adalah ‘ngelantur’.
Maklum saja, kalau ditanya, novel ini tentang apa, maka niscaya kita akan bingung menjawabnya. Kenapa? Karena bisa dibilang novel ini tidak bercerita tentang apa-apa, kecuali omongan ngelantur, ngalor-ngidul dari si tokoh aku yaitu Holden Caulfield, seorang remaja yang baru dikeluarkan dari sekolahnya.

Kelebihan novel ini jelas dari cara bertuturnya si tokoh aku yang ngelantur, dengan bahasa yang menghujat blak-blakan sana-sini. Kekurangan novel ini juga jelas: tidak ada ceritanya.

Terjemahannya bagus, cukup bagus. Si penerjemah cukup berhasil meng-alihabahasa-kan gaya bahasa hujatan itu ke dalam bahasa Indonesia.

Tapi meski ngelantur masih ada tapinya, untungnya. Setelah sekian ratus halaman ngelantur yang membosankan akhirnya novel ini bisa meninggalkan kesan juga di halaman-halaman akhir, bahkan boleh jadi kesan yang mendalam. Simak saja kutipan-kutipan favorit berikut ini yang terjadi ketika si Holden ‘diceramahi’ oleh seorang tokoh yaitu Pak Antolini.

“Bagi orang-orang seperti ini (orang seperti Holden maksudnya), yang mereka rasakan sepanjang hidup, atau dalam sebagian hidup mereka, adalah bahwa lingkungan di sekitar mereka tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka. Atau mereka pikir bahwa lingkungan mereka sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka akhirnya sama sekali berhenti mencari. Mereka menyerah sebelum mereka memulai.” (h. 264)

“Aku tidak bilang bahwa yang dapat memberikan makna pada dunia hanyalah mereka yang berpendidikan dan terpelajar. Bukan begitu.tetapi yang kumaksud adalah bahwa mereka yang berpendidikan dan terpelajar, sekaligus cerdas dan kreatif—yang sayangnya kombinasi semacam itu agak jarang ada– cenderung untuk meninggalkan catatan yang amat sangat berharga dibandingkan dengan mereka yang sekadar cerdas dan kreatif. Orang-orang seperti ini cenderung untuk mengekspresikan dirinya dengan lebih jelas, dan mereka biasanya punya gairah untuk terus menelusuri pemikiran mereka sampa tuntas. Dan–yang lebih penting lagi—sembilan dari sepuluh orang seperti itu jauh lebih rendah hati ketimbang pemikir yang tidak terpelajar.” (h. 267-268)

“Ada hal lain yang lebih bermanfaat dari pendidikan akademis. Apabila kamu terus menekuninya sampai batasnya entah di mana itu, proses ini akan membuat kamu mengetahui seberapa besar kapasitas berpikirmu. Apa yang sesuai dan, barangkali, apa yang tidak. Setelah beberapa saat, kamu akan tahu pemikiran apa yang akan berkembang dalam kapasitas pemikiranmu. Satu hal yang jelas, kamu akan bisa menghemat begitu banyak waktu ketimbang mencoba-coba apakah satu gagasan bisa kamu terima atau tidak, atau bisa kamu kembangkan atau tidak. Kamu akan tahu persis sampai di mana kemampuanmu yang sesungguhnya dan dengan begitu kamu bisa mengembangkan pemikiranmu sejalan dengan itu.”(h. 268)

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.“(h.267)

Pi

Penting dalam hidup ini untuk mengakhiri segala sesuatu dengan semestinya. Hanya dengan begitu kita bisa merelakan. Kalau tidak, hati kita terbebani oleh penyesalan, oleh kata-kata yang mestinya diucapkan tapi tak pernah tersampaikan (h. 402)

Cinta sulit dipercaya, tanyakan pada siapa pun yang sedang jatuh cinta. Kehidupan ini juga sulit dipercaya, tanyakan pada ilmuwan mana pun. Tuhan juga sulit dipercaya, tanyakan pada siapa pun yang mempercayainya. Kenapa Anda tidak bisa menerima hal-hal yang sulit dipercaya? (h. 417)

Dunia ini bukanlah seperti yang kelihatan. Tapi sesuai cara kita memahaminya, bukan begitu? Dan dalam memahami sesuatu, kita memasukkan sesuatu ke dalamnya, bukan begitu? Dengan demikian, hidup ini juga suatu cerita, bukan? (h. 423)

Kalau nyawa kita sendiri terancam, kemampuan kita berempati jadi tumpul oleh hasrat egois yang amat sangat untuk bertahan hidup (h. 178)

Aurel Yang Malang

Praktisnya memang bisa dibilang buku ini bukanlah karya Jostein Gaarder, tapi dia hanya menerjemahkan surat panjang yang ia temukan pada sebuah pameran buku di Buenos Aires, Argentina pada 1995. Surat yang konon dibuat pada abad ke-5 ini berisi tanggapan seorang perempuan bernama Floria kepada kekasihnya yaitu Aurel (Santo Agustinus, salah seorang Bapak Gereja yang berpengaruh hingga kini) atas buku Pengakuan (Confessiones) yang ditulis Santo Agustinus.

Surat panjang Floria ini menggeledah sejumlah aspek penting keimanan, filsafat, teologi, tuhan, sufi, cinta, indrawi, jasmani, rohani. Rangkaian kata-katanya memukau sampai akhir.  Bagi sebagian orang mungkin tema-tema itu termasuk berat, tapi buku ini memaparkannya dalam bentuk surat yang cukup mudah dicerna orang awam.

Dan inilah cuplikan surat Floria yang menggambarkan pemikirannya yang kritis-brilian-dahsyat itu:

Kau menjauhkan aku karena kau terlalu mencintaiku, katamu. Wajar, tentu saja, untuk bertahan di sisi pasangan yang dicintai. Tetapi kau melakukan kebalikannya, karena kau sudah mulai menganggap remeh perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan. Kau berpikir bahwa aku membelenggumu kepada dunia panca indra, tanpa menyisakan kedamaian dan kesunyian yang dapat membuatmu berkonsentrasi pada keselamatan jiwamu…Tuhan menginginkan di atas segalanya, agar manusia hidup dengan menahan nafsu, tulismu. Aku tidak percaya pada Tuhan yang demikian (h. 16-17)

Bukankah benar-benar tidak setia menelantarkan seseorang yang dicintai demi keselamatan jiwa sendiri? Bukankah akan lebih mudah bagi seorang perempuan untuk menanggung kenyataan bahwa seorang laki-laki meninggalkannya karena ia ingin menikah—atau dalam hal ini, bila ia menginginkan perempuan lain? TetapI tidak ada perempuan lain dalam hidupmu. Kau hanya lebih mencintai jiwamu sendiri daripada diriku. Jiwamu sendiri, Aurel, itulah yang ingin kau selamatkan, jiwa yang pernah kau temukan di dalam diriku. (h. 18)

Aku harus menemukan apa yang dikatakan ajaran-ajaran filsafat tentang hal-hal yang memisahkan pasangan yang saling mencinta. Kalau kau telah tertarik pada perempuan lain, aku mungkin saja ingin bertemu dengannya. Tetapi sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, ia adalah sebuah prinsip filsafat. Maka, agar aku dapat mengerti dirimu dengan lebih baik, paling tidak aku harus berada pada jalan yang sama dengan yang telah kau tempuh. Aku harus membaca ajaran-ajaran filsafat…Sainganku bukan hanya sainganku sendiri. Ia adalah saingan semua perempuan, ia adalah malaikat maut bagi cinta itu sendiri. Kau menyebutnya sebagai Pengendalian Diri. (h. 21-22)

Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya (Horace, h. 23)

Ada satu hal khusus yang aku sukai dalam nasihat Cicero: ia memacuku untuk tidak mencari arah filosofis tertentu, melainkan untuk mencintai dan mencari serta memenangkan kebenaran itu sendiri…Dan kebenaran, Aurel, adalah hal yang telah mendorongku membaca tentang filsuf dan pujangga-pujangga terkenal. Sejak kita berpisah, aku telah mencurahkan seluruh hidupku untuk kebenaran—sama seperti kau dulu pergi untuk mencurahkan dirimu berkonsentrasi pada Pengendalian Diri. Aku masih mengasihimu, walapun harus kukatakan bahwa saat ini aku masih lebih mengasihi kebenaran (h. 23)

Kau merujuk pada kata-kata Paulus bahwa “baik bagi seorang laki-laki untuk tidak menyentuh seorang perempuan”. Dan Aurel sayang, mengapa kau hanya menuliskan ayat ini? Tidakkah kau belajar di sekolah retorika tentang bahayanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya? (h. 39)

Aku ingat saat kita duduk di bawah sebuah pohon Ara. Sambil mengerdip pada matahari, aku memandangmu. Aku pasti melakukannya dengan cara yang begitu memikat, karena kau menahan tatapanku sambil memandang turun ke tanah dengan ragu sekali atau dua kali sebelum kau menatapku kembali. Rasanya nyaris seperti kita pernah hidup bersama. Aku langsung menyadari bahwa aku dapat mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwa. ..Kemudian kita berbicara tentang kehidupan dan cinta secara umum. Aku sepertinya ingat betapa kau sangat terkejut melihatku dengan begitu santai membela tindakan Dido yang memperjuangkan cinta. Seakan-akan kau bertanya padaku dengan tatapanmu, apakah seorang perempuan dapat benar-benar mencintai seorang laki-laki sehingga ia akan mengorbankan nyawanya sendiri bila ia dikhianati. (h. 45- 46)

Kau tidak menyembunyikan betapa dalam dan kuatnya kau membenci Venus. Dia, Aurel, adalah jembatan permata yang menghubungkan jiwa kita yang kesepian dan penuh ketakutan. Tetapi bukan itu saja. Kini kau juga membenci segala kesenangan seksual. Dan lebih lagi, kau tak henti menghina panca indra itu sendiri. Sungguh, kau telah berubah menjadi seorang kasim!

Saat ini kau memandang rendah segala indra serta semua buah dan minuman anggur yang mereka tawarkan pada jiwa kita. Tetapi bukan itu saja. Kau mulai membual kepada Tuhan tentang betapa kini kau sadar telahmemandang rendah seluruh ciptaan-Nya. Kau melakukan ini, katamu, karena kau melihat “cahaya” dengan mata hatimu.

Kulihat kau telahkehilangan arah hidupmu di tengah-tengah para teolog. Pekerjaan yang sangat menyedihkan! Bagaimana mungkin yang kecil memimpin yang besar? Bagaimana mungkin sebuah ciptaan mendefinisikan penciptanya? Juga, bagaimana mungkin sebuah ciptaan dapat menentukan bahwa dirinya akan berhenti berfungsi sebagai sebuah ciptaan?

Kita adalah manusia hasil ciptaan, Aurel. Dan kita diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh berusaha untuk hidup sebagai sesuatu kecuali sebagai diri kita sendiri. Bukankah dengan demikian kita mengejek Tuhan? Kita adalah manusia, Aurel. Pertama-tama kita harus hidup, kemudian—ya—kemudian kita bisa berfilsafat.

Apakah aku tidak lebih dari tubuh seorang perempuan bagimu? Kau tahu bahwa hal itu tidak benar. Dan bagaimana pula kau dapat membedakan tubuh dengan jiwa? Bukankah dengan demikian kau berusaha mengacaukan proses penciptaan yang telah dilakukan Tuhan? Oh ya, tentu saja, macanku yang tak beriman. Ketika kau mencengkeramku dengan belaianmu yang tajam, kau juga mencabik jiwaku. (h. 51-53)

Masihkah kau dapat mengingat bagaimana kau bercinta denganku dan seolah-olah mengeratkan tiap kuncup sebelum ia terbuka? Betapa kau menikmati diriku di dalam dirimu! Bagaimana kau membiarkan dirimu diracuni oleh wewangianku! Bagaimana kau menyantap sari-sariku! Dan kemudian kau pergi dan menjualku, demi keselamatan jiwamu. Betapa tidak setia, Aurel, kau seharusnya merasa bersalah! Tidak, aku tidak percaya pada Tuhan yang menuntut korban manusia. Aku tidak percaya pada Tuhan yang menyia-nyiakan hidup seorang perempuan demi menyelamatkan nyawa seorang laki-laki. (h. 59)

Hidup sangatlah singkat, dan kita tak pernah benar-benar yakin akan adanya keabadian bagi jiwa kita yang rapuh. Mungkin kehidupan inilah kehidupan kita satu-satunya. Kau tidak akan mau mempercayai itu, Aurel. Kau akan mengobrak-abrik otakmu hingga kau menemukan keabadian bagi jiwamu sepertinya lebih penting bagimu untuk menyelamatkan jiwamu dari hukuman abadi, ketimbang untuk menyelamatkan hubungan kita. (h. 68)

Bagaimana bila ternyata tidak ada surga di atas sana, Aurel? Bayangkan bahwa hanya untuk hidup inilah kita diciptakan! (h.80)
Hidup ini singkat, terlalu singkat. Namun mungkin hanya kini dan di sinilah kita hidup. ..Kita tidak hidup selamanya, Aurel. Tapi itu tidak berarti bahwa kita harus membuat hari-hari yang telah diberikan kepada kita menjadi hampa. (h. 102)

Hidup begitu singkat, kita tidak punya waktu untuk menghakimi dan mengutuk cinta. Pertama-tama kita harus hidup, Aurel, kemudian baru kita bisa berfilsafat. (h. 121)

Keluarlah, Aurel! Keluar dan berbaringlah di bawah pohon ara. Gunakanlah indra-indramu—gunakan untuk terakhir kalinya. Demi aku, Aurel, dan untuk segala yang pernah kita miliki bersama. Bernapaslah, dengarkanlah nyanyian-nyanyian burung, pandanglah kubah di langit dan hiruplah segala wewangian untukmu sendiri. Inilah dunia, Aurel, dan ia hadir di sini saat ini. Di sini, dan sekarang. Kau pernah terjebak ke dalam labirin para teolog dan para penganut Plato. Kini tidak lagi. Sekarang kau telah kembali ke dunia, ke tempat tinggal manusia. (h. 146)

***
Dan pada akhirnya memang kita tidak sekadar bicara tentang tanah, air dan udara, tapi kita juga berbincang tentang manusia, bumi manusia dengan segala persoalannya.

Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?
(Goenawan Mohamad, Caping 2, h. 72)

Tarian Bumi, Tarian Langit Matahari

“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.” (h. 21)

“Carilah perempuan yang mandiri dan mendatangkan uang. Itu kuncinya agar hidup laki-laki bisa makmur, bisa tenang. Perempuan tidak menuntut apa-apa. Mereka cuma perlu kasih sayang, cinta, dan perhatian. Kalau itu sudah bisa kita penuhi, mereka tak akan cerewet. Puji-puji saja mereka. Lebih sering bohong lebih baik. Mereka menyukainya. Itulah ketololan perempuan. Tapi ketika berhadapan dengan mereka, mainkanlah peran pengabdian, hamba mereka. Pada saat seperti itu perempuan akan menghargai kita. Melayani kita tanpa kita minta. Itu kata laki-laki di warung, Meme. Benarkah kata-kata itu? (h. 39-40)

“Dalam hidup ini, Sekar, tak ada yang gratis. Air, udara, semua energi yang membuatmu hidup harus kau bayar. Kau pernah bahagia? Kalau kau mendapatkan hadiah itu dari hidup, kau harus bersiap-siap, karena beberapa detik lagi penderitaan akan berdiri dengan angkuhnya di hadapanmu.” Suara batin yang sering memaksanya untuk sadar, bahwa hidup memang harus disiasati, sebelum manusia hanya sekadar jadi pecundang. (h. 101)

“Apa arti cinta, Luh. Aku hanya memerlukan hidup layak, hidup terhormat!”
“Kau juga memerlukan kasih sayang. Jangan samakan dirimu dengan benda-benda mati!” Suara Kenten penuh amarah.
“Hidup telah mengajari aku jadi batu.”
“Kau pernah bertanya pada batu? Betapa menyakitkan menjadi batu!”
“Siapa yang mengatakan itu padamu? Apa batu pernah mengeluh padamu?”
Luh Kenten diam.
“Aku tidak akan pernah bermimpi sepertimu.”
“Berarti kau benda mati. Manusia hidup memiliki keinginan, memiliki mimpi. Itulah yang menandakan manusia itu hidup. Batu juga memiliki keinginan. Dalam kediamannya dia mengandung seluruh rahasia kehidupan ini.”
“Hidupku bukan hidupmu. Aku tidak suka bermimpi.”
(h. 106-107)

“Tahukah kau, Luh, kau terlalu lugu untuk hadir dalam kehidupan ini.”