Kebenaran Itu Ibarat Cicak

Tulisan ini berawal dari sebuah film dan akan berakhir pada sebuah film.

“The truth is out there”, kata film seri terkenal The X-Files. Kebenaran itu ada di luar sana. Kalimat itu seperti menyiratkan bahwa kebenaran yang ada di luar sana bisa dicari, bisa ditemukan, meski tidak mudah. Tapi siapa yang merasa perlu mencari kebenaran itu? Buku Elemen-elemen Jurnalisme ini memberi jawab: wartawanlah yang mencari dan menyampaikan karena ada warga yang membutuhkan. Tapi tentu  wartawan bukanlah Nabi atau orang suci. Buku ini menjelaskan tentang apa yang seharusnya diketahui dan dilakukan wartawan serta yang diharapkan publik (warga).

Kebenaran itu ibarat cicak, kata Turgenev sastrawan Rusia. Yang kita tangkap selalu cuma ekornya, yang menggelepar seperti hidup—sementara cicak itu sendiri lepas.  Di zaman banjir informasi ini kebenaran dalam bentuk berita ada di tangan media. Untuk itulah buku ini ada. Elemen –elemen jurnalisme media  yang harus menjadi pegangan wartawan untuk mencapai kebenaran dijelaskan dalam buku ini. Dan hal itu juga sepatutnya diketahui warga masyarakat. Buku ini penting sekali.

***

Saat ini tidak semua orang menyadari dan mau mengakui bahwa hidup kita sudah diatur oleh media. Sesungguhnya, secara langsung maupun tidak, media telah mengatur bagaimana kita hidup, bagaimana kita bertindak, hingga bagaimana kita berpikir, apa isi pikiran kita, hingga ke sudut terpencil dan terdalam batin kita.

Tapi di hari-hari ini, di tengah berita-berita tentang Osama, Briptu Norman, dan DPR yang memuakkan, mungkin hanya segelintir orang yang masih menyempatkan waktu untuk bertanya-tanya, apa arti berita di tengah deburan ombak gosip yang tayang tanpa henti membanjiri? Belum lagi dalam hitungan menit bahkan detik informasi bisa mengalir deras dari layar monitor alat komunikasi di zaman canggih ini.


Saat ini pula pergerakan dunia maya terutama, membuat kita bisa berpikir ulang tentang apa arti berita “penting” dan “gak penting” tergantung kita punya kepentingan. Dengan sertamerta kita pun “dituntut” memilah-milah mana info sampah dan mana yang berguna. Tapi untuk apa sebenarnya berita ada?

Sebagaimana telah disimpulkan sejarawan dan sosiolog, berita ternyata memuaskan dorongan hati manusia yang mendasar. Orang mempunyai kebutuhan dalam dirinya—sebuah naluri—untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri mereka sendiri. Tahu terhadap peristiwa-peristiwa yang tidak bisa kita saksikan dengan mata sendiri ternyata menghadirkan rasa aman, kontrol diri, dan percaya diri. (h. 1)

Manusia membutuhkan berita karena naluri dasar, yang kita sebut Naluri Kesadaran. Mereka perlu mengetahui apa yang terjadi di balik bukit, untuk menyadari berbagi kejadian di luar pengalaman mereka. Pengetahuan tentang sesuatu memberi mereka rasa aman, membuat mereka bisa merencanakan dan mengatur hidup mereka. Saling tukar informasi ini menjadi dasar untuk menciptakan komunitas, membuat ikatan antar-manusia.(h. 14)

Makin demokratis sebuah masyarakat, makin banyak berita dan informasi yang didapatkan (h. 17)

Pada mulanya

Seperti yang tertera di halaman 17, setelah abad pertengahan berakhir, berita muncul dalam bentuk lagu dan cerita, dalam balada-balada yang disenandungkan pengamen keliling. Kemudian apa yang disebut jurnalisme modern muncul pada awal abad ke-17 yaitu melalui perbincangan orang-orang di tempat umum seperti kafe-kafe di Inggris, atau “kedai minum” di Amerika. Di tempat inilah para pemilik bar sering mencatat apa yang mereka lihat dan dengar dalam buku perjalanan yang disimpan di ujung meja bar. Suratkabar pertama muncul dari kafe-kafe ini sekitar 1609 ketika percetakan mulai mengumpulkan berita perkapalan, gosip, argumen politik dan mencetaknya di atas kertas.

Buku ini memaparkan dengan cukup menarik tentang apa itu jurnalisme, sejarah awalnya dan yang terpenting 9 Elemen, yang menjadi pijakan utama dari apa yang disebut jurnalisme, dibahas satu per satu.

9 Elemen Jurnalisme:

  1. Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran
  2. Loyalitas pertama jurnalisme kepada warga
  3. Intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi
  4. Para praktisinya harus menjaga independensi terhadap sumber berita
  5. Jurnalisme harus berlaku sebagai pemantau kekuasaan
  6. Jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga
  7. Jurnalisme harus berupaya membuat hal yang penting menarik dan relevan
  8. Jurnalisme harus menjaga agar berita komprehensif dan proporsional
  9. Para praktisinya harus diperbolehkan mengikuti nurani mereka

Jurnalisme eksis dalam konteks sosial. Warga sebagai individu ataupun masyarakat secara keseluruhan karena kebutuhannya bergantung pada laporan yang akurat dan dapat diandalkan tentang peristiwa yang terjadi.

Hal inilah yang dikejar jurnalisme—bentuk kebenaran yang bisa dipraktikkan dan fungsional. Ini bukan kebenaran dalam pengertian mutlak atau filosofis. Ini bukan kebenaran ala persamaan kimiawi. Namun jurnalisme bisa—dan harus—mengejar kebenaran di dalam pengertian yang bisa kita jalankan dari hari ke hari. (h. 45)

Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri.(h. 12) Tujuan utama jurnalisme adalah menyampaikan kebenaran sehingga orang-orang akan mempunyai informasi yang mereka butuhkan untuk berdaulat.(h. 15)

Seperi kata penulis Goenawan Mohamad , pada akhirnya, menulis atau menyampaikan berita adalah sebuah laku moral.

Ketika membaca buku ini saya juga jadi teringat bagian akhir film The Devil Wears Prada (2006), pada akhirnya Andrea (Anne Hathaway) yang sebenarnya ingin jadi wartawan itu, memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai asisten pribadi dari seorang bos yang sangat menjengkelkan.  Dan setelah itu, ketika ia diwawancara kerja oleh sebuah harian di New York, si pewawancara itu mengatakan tentang keputusan Andrea berhenti dari pekerjaan sebelumnya,

“You must have done something right.”

***

Mungkin memang ada masanya seorang yang teguh berjalan mempertahankan prinsip kebenaran adalah seperti pejalan sepi di lorong sunyi. Bekalnya hanyalah sebatang obor yang menerangi pandangannya dari kegelapan sekitar.  Orang lain mungkin bahkan tak peduli dengan cahaya terang obor itu. Mereka terlalu jauh di sana, asyik dengan pesta masing-masing. Tapi pada akhirnya—entah kapan—mungkin ketika pesta berubah menjadi kerusuhan dan banyak jadi korban–orang-orang mungkin akan sadar dan paham bahwa mereka juga butuh obor itu.

***

Berita hari ini,
Berita hari kemarin,
seperti luput dari jangkauan
Dan di antara timbunan sampah yang menggunung
mungkin masih terselip mutiara sayu tanpa kata.
Dan itu kau..

(Pandasurya, Mei 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s