Rye

“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal. Sementara mereka yang dewasa justru bersedia untuk hidup dengan rendah hati untuk memperjuangkan hal itu” (h. 265)

Kalau ada satu kata yang bisa menggambarkan novel ini maka kata itu adalah ‘ngelantur’.
Maklum saja, kalau ditanya, novel ini tentang apa, maka niscaya kita akan bingung menjawabnya. Kenapa? Karena bisa dibilang novel ini tidak bercerita tentang apa-apa, kecuali omongan ngelantur, ngalor-ngidul dari si tokoh aku yaitu Holden Caulfield, seorang remaja yang baru dikeluarkan dari sekolahnya.

Kelebihan novel ini jelas dari cara bertuturnya si tokoh aku yang ngelantur, dengan bahasa yang menghujat blak-blakan sana-sini. Kekurangan novel ini juga jelas: tidak ada ceritanya.

Terjemahannya bagus, cukup bagus. Si penerjemah cukup berhasil meng-alihabahasa-kan gaya bahasa hujatan itu ke dalam bahasa Indonesia.

Tapi meski ngelantur masih ada tapinya, untungnya. Setelah sekian ratus halaman ngelantur yang membosankan akhirnya novel ini bisa meninggalkan kesan juga di halaman-halaman akhir, bahkan boleh jadi kesan yang mendalam. Simak saja kutipan-kutipan favorit berikut ini yang terjadi ketika si Holden ‘diceramahi’ oleh seorang tokoh yaitu Pak Antolini.

“Bagi orang-orang seperti ini (orang seperti Holden maksudnya), yang mereka rasakan sepanjang hidup, atau dalam sebagian hidup mereka, adalah bahwa lingkungan di sekitar mereka tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka. Atau mereka pikir bahwa lingkungan mereka sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka akhirnya sama sekali berhenti mencari. Mereka menyerah sebelum mereka memulai.” (h. 264)

“Aku tidak bilang bahwa yang dapat memberikan makna pada dunia hanyalah mereka yang berpendidikan dan terpelajar. Bukan begitu.tetapi yang kumaksud adalah bahwa mereka yang berpendidikan dan terpelajar, sekaligus cerdas dan kreatif—yang sayangnya kombinasi semacam itu agak jarang ada– cenderung untuk meninggalkan catatan yang amat sangat berharga dibandingkan dengan mereka yang sekadar cerdas dan kreatif. Orang-orang seperti ini cenderung untuk mengekspresikan dirinya dengan lebih jelas, dan mereka biasanya punya gairah untuk terus menelusuri pemikiran mereka sampa tuntas. Dan–yang lebih penting lagi—sembilan dari sepuluh orang seperti itu jauh lebih rendah hati ketimbang pemikir yang tidak terpelajar.” (h. 267-268)

“Ada hal lain yang lebih bermanfaat dari pendidikan akademis. Apabila kamu terus menekuninya sampai batasnya entah di mana itu, proses ini akan membuat kamu mengetahui seberapa besar kapasitas berpikirmu. Apa yang sesuai dan, barangkali, apa yang tidak. Setelah beberapa saat, kamu akan tahu pemikiran apa yang akan berkembang dalam kapasitas pemikiranmu. Satu hal yang jelas, kamu akan bisa menghemat begitu banyak waktu ketimbang mencoba-coba apakah satu gagasan bisa kamu terima atau tidak, atau bisa kamu kembangkan atau tidak. Kamu akan tahu persis sampai di mana kemampuanmu yang sesungguhnya dan dengan begitu kamu bisa mengembangkan pemikiranmu sejalan dengan itu.”(h. 268)

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.“(h.267)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s