Slow Yourself Down..

Seorang perempuan, muda, cantik, Emmy Rossum namanya. Dia tinggal di New York. Dan dia bercerita tentang kota tempat tinggalnya. “Saya lahir dan dibesarkan di New York. Di kota ini kehidupan bergerak sangat cepat,” katanya suatu kali. Dari ceritanya itu, gadis 22 tahun yang juga aktris dan penyanyi ini pun menulis sebuah lagu. “Saya menulisnya di New York dan lagu ini berjudul “Slow Me Down”,” katanya.

“Saya membayangkan dunia bergerak sangat cepat dan kita sulit menahan diri untuk tidak ikut bergerak cepat,“ tuturnya tentang lagu itu. “Jika kita terus bergerak cepat dan tidak memperlambat diri maka kita akan kehilangan banyak hal yang indah di dunia ini.”

Download mp3 “Slow Me Down”

Lihat video klip “Slow Me Down”

Lirik lagu “Slow Me Down”

Maka ia pun menulis:

Rushing and racing and running in circles

Moving so fast, I’m forgetting my purpose

Blur of the traffic is sending me spinning

Getting nowhere

Tell me

Oh won’t you take my hand and lead me

Slow me down

Don’t let love pass me by

Just show me how

‘Cause I’m ready to fall

Slow me down

Don’t let me live a lie

Before my life flys by

I need you to slow me down

Lagu yang indah, lirik yang bagus, dinyanyikan dengan suara yang indah. Emmy Rossum benar, dalam dunia yang bergerak cepat kita juga perlu menahan diri, memperlambat diri supaya tidak kehilangan diri sendiri.

***

Seorang laki-laki, katakanlah Tono, atau Udin, atau siapa pun namanya. Dia tinggal di Jakarta—bukan di New York, dan dia tak kenal Emmy Rossum. Tapi mungkin ia pernah mendengar lagunya di radio atau melihat video clipnya di televisi beberapa waktu lalu. Dan dia punya cerita tentang kota tempat tinggalnya yang kurang lebih sama dengan si cantik Emmy Rossum. Jakarta memang bukan New York. Atau sebaliknya, New York bukan Jakarta. Tak masalah, tergantung bagaimana orang melihatnya.

Tapi di Ibukota ini, kota tempat tinggal si Tono, si Udin, atau siapa pun namanya, kehidupan juga bergerak cepat seperti di New York. Hukum rimba juga berlaku di sini: siap cepat, siapa kuat, dia dapat. Bukankah hari ini kehidupan di setiap kota besar di dunia memang demikian adanya? Setiap kota besar di zaman yang sibuk ini punya cerita yang mirip, meski tak persis sama. Cerita itu berisi tentang orang-orang yang lalu-lalang, bergegas di jalanan, mengadu nasib untuk mengais kehidupan.

Lantas kita pun bisa bertanya, “Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, tapi lebih memberi getar pada hidup? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran,—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?

Hari gini tak ada yang gratis di dunia ini, begitu kata orang. Semua harus ada pengorbanannya, dan harus ada yang jadi korban dan dikorbankan. Dan korban itu bisa jadi diri kita sendiri. Seperti lirik lagu Emmy Rossum, jika kita selalu bergerak cepat dan bergegas, maka kita bisa kehilangan kehidupan, kehilangan jati diri kita sendiri. Dan jika itu terjadi, maka kita akan kehilangan banyak hal yang indah di dunia ini. Dan hal itu mungkin yang selama ini orang sebut dengan cinta, harapan, kebahagiaan.

(Pandasurya, Juli duaribu lapan)

One thought on “Slow Yourself Down..

  1. that’s why i choose to live in rural rather than urban, bro. you know, the reason is, ”supaya aku bisa merasakan hari berganti, menerima sejuknya pagi, memandang tamanku dan embun di pucuk2nya.” karena aku bisa melambat disana… full time dreaming… yang berjara 90 menit dari arus cepat urban..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s