Yang Pudar

Demi informasi,

Tolong
jangan paksa kami menghalalkan segala cara,
melakukan hal yang negatif, tercela, tidak terpuji, bahkan keji,
melanggar kode etik,
dan nurani.

kami masih percaya ini adalah bagian dari tugas mulia.
atau kepercayaan itu mulai pudar dari diri kami sendiri?

(Feb’12)

Advertisements

Cinta Dalam Sepotong Roti*

heart-in-hand2jpgDan di hari-hari ini seseorang akan bercerita tentang nurani yang terluka oleh zaman. Atau ini hanya sekadar cerita tentang barang yang paling mahal sedunia.

Entah bagaimana asal-usulnya, di hari yang ganjil itu, di bulan Februari tanggal 14 itu,  orang-orang paling kaya sedunia berkumpul di pasar termahal yang pernah ada. Seorang bocah laki-laki berpakaian kumal duduk bersimpuh di suatu sudut. Seorang super kaya berjalan pelan menghampirinya.

“Barang apa yang kau jual, nak?”

“Yang saya jual tak seorang pun akan sanggup membelinya”

“Oh ya? Benarkah? Barang apa yang kau jual, nak?

“Tuan takkan sanggup membelinya”

“Semahal itukah barangmu, nak? Bagaimana kalau saya bayar dengan gunung?”

“Ini bahkan lebih mahal dari segunung uang, Tuan”

“Bagaimana kalau saya bayar dengan laut ?”

“Ini bahkan lebih mahal dari lautan permata”

“Ehm, bagaimana kalau saya bayar dengan pulau?”

“Tidak, Tuan, barang ini bahkan lebih mahal dari pulau intan berlian”

“Baiklah. Ini tawaran terakhir, nak. Bagaimana kalau saya bayar dengan semua yang saya tawarkan tadi plus semua yang saya miliki?”

“Sudahlah Tuan, barang ini bahkan lebih mahal dari semua yang Tuan tawarkan.”

“Sebenarnya apa yang kau jual, nak?

-baca selanjutnya

Sabda Ibunda

kasih-ibu

Tentu kau masih mengenangnya,
ketika ingatanmu menjangkau masa lalu

Di suatu sore yang cerah secerah pagi
ibundamu bersabda lirih,
“Apa pun pilihan hidupmu, nak
jujurlah pada diri sendiri
jangan khianati hati nurani.”

Dan di lubuk hatimu yang terdalam
kau pun tahu
ibunda tak pernah minta lebih dari itu

(Februari 2004)