Ah, Klise

Oleh HASIF AMINI

 

Berakit-rakit ke hulu. Air beriak. Ada udang. Badai pasti. Tong kosong. Tak ada rotan. Tak ada gading. Habis manis.

 

Dalam wujud kalimat, sebuah klise gampang dikenali. Jika separuh kalimat disebut, separuh sisanya langsung bisa ditebak. Dalam wujud yang lebih ringkas–frase atau kata–seketikalah ia tampak dalam keseluruhannya: unsur yang dimaksud untuk mengesankan meski ternyata hanya membosankan. Sebuah klise memang bisa memudahkan orang menyampaikan dan memahami maksud, sekaligus seakan bergaya dengan ungkapan yang berkuntum warna. Tetapi kuntum yang dipetik dan disuntingkan itu sebetulnya sudah layu, tak punya lagi kesegaran dan keharuman, bahkan mungkin sudah renyuk, dan busuk. Adapun prinsip pemakai klise tetap saja: “Kalau bisa tinggal mencomot, kenapa mesti repot mencari?”

 

Ya, apa salahnya menggunakan klise? Apa dosanya membubuhkan (sebutlah) “semoga” di akhir risalah, menyisipkan “bibirnya padat merekah” di kolom gosip, “laris manis” dalam tinjauan buku, atau “selamat jalan…” di ujung obituari? Tentu–salah dan dosa itu–banyak.

 

Salah satu yang terpenting: klise mengembangbiakkan kemalasan dalam laku berpikir dan berbahasa, lalu melumpuhkan dua kemampuan itu pelan-pelan. Penulis yang malas merumuskan pikirannya dalam rangkaian kata yang segar dan bernas, pembaca yang tak membiasakan diri menikmati daya rangsang dan daya gugah bahasa, sesungguhnya tengah asyik merayakan kebebalan. Hadirnya sebuah klise, yakni perulangan sepotong ungkapan untuk kesekian ribu/juta kali, membuat kemungkinan penciptaan melalui bahasa sejenak berhenti. Dan jika yang sejenak itu demikian sering terjadi dalam sebuah bahasa, para penggunanya niscaya terancam bahaya kehilangan cara yang cerdas dan otentik untuk menyatakan diri. Mereka jadi terlatih dan akan tangkas sekali meniru apa saja yang umum berlaku.

 

Dalam paragraf pembuka di atas, penggalan sejumlah klise itu hampir semua berasal dari khazanah peribahasa. Itu bukan kebetulan. Peribahasa yang anonim (sebagaimana sastra yang bertanda tangan) adalah pohon tempat berkembangnya bunga-bunga kata yang cemerlang. Ia menyampaikan segugus gagasan melalui kiasan. Tetapi kiasan, sesegar apa pun pada mulanya, akan lapuk juga setelah begitu sering digunakan. Seperti halnya sepatah kata akan terasa hilang makna dan tinggal bunyi jika diujarkan berulang-ulang, demikian pun sebuah kalimat, pun dalam bentuk tertulis. Riwayat sebuah klise adalah kisah perjalanan kata-kata menjadi aus akibat pemakaian terus-menerus, kisah mekar hingga luruhnya segerumbul bunga menjadi seonggok sampah yang perlu disapu segera.

 

Ah, tapi jangan-jangan kita tak bisa sepenuhnya membebaskan diri dari klise–apalagi, misalnya, ketika berada di bawah kuasa yang tak bisa diganggu gugat bernama tenggat. Bahasa, bagaimanapun, terdiri atas pelbagai pengulangan sejumlah besar unsurnya (di samping sederet panjang variasi, tentu). Karena itu, barangkali ada baiknya kita tak berdiri terlalu tegang menghadapi tebaran klise yang bagaikan virus flu di sekitar kita. Seraya memperkuat kekebalan diri terhadap serangannya, dengan banyak menghirup bahasa yang segar dari karya-karya tulis terbaik dari segala penjuru, kita mungkin bisa juga bermain-main dengan klise, bersikap sadar sekaligus ironis di hadapannya. Dengan demikian, jika “buruk muka”, cukuplah “cermin dijual atau dihibahkan” saja. Sebab, seperti kata sebuah klise, bukankah masing-masing orang dan setiap hal selalu punya sisi lebih dan kurangnya sendiri-sendiri? Ingat saja, misalnya, pesan pendek dari sebuah nomor tak dikenal ini (0815196xxxx): “Cinta itu buta, tapi ternyata pintar juga memijit dan bermain piano.”

 

 

KORAN TEMPO

 

Rubrik Bahasa

 

Edisi 2005-12-05

 

© Copyright KORANTEMPO.COM 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s