Fur Fathia by Hamid Basyaib

disalin dari sini

Fathia yang baik,

Pernah kamu bertanya, berapa persen cinta saya pada kamu?

“Tidak sampai seratus persen”.

Kamu mengeluh, dan beberapa hari kemudian mengajukan pertanyaan serupa. Jawaban saya tetap – bukan yang ingin kamu dengar. Di kesempatan lain kamu mengulangi “tekanan politik” dengan mengajukan pertanyaan sama.

Saya tahu kamu lebih suka saya berbohong – dengan mendayu-dayu, dengan mengutip lagu pop atau ungkapan klise remaja di sinetron yang sedang merayu gadis pujaannya, meski tak sampai berlutut atau menyembul dari balik pohon sawo seperti jagoan Bollywood. Karena kali itu saya tak ingin berdusta, maka saya tetap menjawab “tidak seratus persen”. Saya hanya bisa menambahkan bahwa cinta saya – sepanjang yang mampu saya rasakan saat itu – pasti besar, cukup besar untuk membangun sebuah landasan kebersamaan hidup kita. Dan saya pun tidak mengharap kamu mencintai saya seratus persen.

Sampai akhirnya kamu mengerti, dan tiba pada kesimpulan gemilang: “Saya setuju. Saya tahu, kalau cinta kamu seratus persen, kamu tak punya ruang lagi untuk berpikir.”

Dan tanpa ruang sisa itu, cinta akan rutin, dan karenanya membosankan, setidaknya tak mungkin lagi mekar – tak mungkin tumbuh ke berbagai arah yang barangkali tak terduga, tapi lebih kaya. Dan setiap hal yang setinggi seratus persen hanya punya satu arah perubahan: menurun, berkurang, mengalami erosi. Mungkin akhirnya mati.

Cinta memang tak pernah bunuh-diri. Ia biasanya mati karena dibunuh oleh satu atau kedua pelaku yang terlibat dalam percintaan itu.

Kamu seolah memetik buah dari pohon kearifan yang sama dengan yang mengilhami Kahlil Gibran, yang menyarankan supaya dalam kebersamaan tetap harus ada ruang bagi kedua pihak. Kamu menginsafi, perkawinan bukanlah penunggalan dua pribadi, tapi kesepakatan antara dua orang yang punya sejarah personal masing-masing untuk memandang ke satu arah yang sama. Keduanya tak perlu, tak boleh, melebur menyatu.

Sebab harga termurah dari peleburan itu adalah hilangnya diri kita, berubah menjadi bukan siapa-siapa, menjadi bukan apa-apa. Biarlah sudut terpencil di bilik jantungmu turut saya rawat untuk kamu, sambil saya percaya bahwa di sana ada saya. Tolong pelihara juga sudut eksklusif saya.

Dan kemudian kamu setuju menikah.

Sudah tentu saya berterima kasih atas kesediaan yang lekas ini. Seperti kamu, saya pun tak pernah tahu ada statistik tentang tingkat kelanggengan suatu perkawinan berdasarkan lama masa pacaran. Apakah panjang masa pacaran mampu menjamin keawetan sebuah perkawinan? Apakah masa yang singkat berpeluang besar untuk kegagalannya? Saya belum pernah baca data yang meyakinkan.

Yang saya tahu: ada pasangan yang perkawinannya langgeng sampai akhir hayat, setelah melalui masa pacaran yang singkat (atau tak pernah melewatinya sama sekali karena dijodohkan orangtua); ada pasangan yang usia perkawinannya jauh lebih singkat daripada masa pacarannya, sampai para tamu resepsi pernikahan mereka mengeluh: belum habis letih dari menghadiri pestanya, perkawinannya sudah hancur.

Apakah peristiwa-peristiwa seperti itu bagian dari rahasia alam, satu dari misteri kehidupan yang tak terhingga banyaknya? Saya tak tahu. Bahkan, seperti berulang kali saya katakan, saya tak pernah tahu alasan lengkap mengapa saya mencintai kamu.

Saya hanya sanggup mengungkapkan beberapa saja – kamu sangat cerdas, kamu membaca buku-buku bermutu, kamu cantik, punya minat yang luas, punya nyali besar untuk mengambil tanggung jawab dan risiko-risiko yang tak kecil, kamu pekerja keras, berambisi untuk melakukan banyak hal secara lebih baik, kamu jujur, berterus terang hampir dalam masalah apapun, efisien, berusaha menikmati hidup sepenuh-penuhnya, percaya bahwa masih banyak prestasi besar yang sanggup kamu raih di masa depan, kamu baik hati (meski tak selalu mau menunjukkannya, mungkin karena dibayangi anggapan umum yang sering mengidentikkan kebaikan hati dengan kelemahan atau kebodohan dan keluguan). Saya akan menunggu dengan berdebar terungkapnya sejumlah alasan lain setelah kita hidup bersama nanti; saya akan ungkapkan dalam surat-surat selanjutnya, dengan mencicilnya, mungkin sampai bertahun-tahun lagi.

Fathia yang memikat,

Meski cinta pada dasarnya emosional, keingintahuan orang di sepanjang sejarah selalu berusaha memperluas pangsa rasionalnya. Geloranya universal. Semua kebudayaan besar memiliki epos cinta masing-masing – Rama & Shinta, Romeo & Juliet, Qais & Layla, Sam Pek Eng Tay, Tristan & Isolde, Marc Anthony & Cleopatra. Daya pukau kisah-kisah itu, bahkan berikut kepahitan dan tragedi mereka, terus memancar sampai hari ini, mendorong para penggubah menulis pelbagai versi turunan; membuat nama-nama itu bagian integral dari nomenklatur sebuah bangsa dan bahasa mereka masing-masing, bahkan menjadikan nama-nama itu idiom bahasa dan budaya universal.

Tapi keuniversalan cerita mereka tak pernah mampu mereduksi kekhususan kisah cinta orang-orang biasa seperti kita. Teks besar cinta mereka tak membuat cinta kita sekadar catatan kaki. Bukankah kita pun merasakan segenap getaran yang tak terkira, yang tak terkatakan itu? Getaran yang membuat kita hanya mampu menangis, satu-satunya cara kita menyerah karena tak sanggup merumuskannya dengan seluruh simpanan perbendaharaan kata kita?

Itu sebabnya beribu-ribu lagu terus ditulis orang di seputar cinta. Setiap hari kita mendengar lahirnya lagu baru tentang tema ini. Dan pernahkah kamu menerka-nerka berapa novel dan film bertema cinta yang pernah dibuat orang? Tak akan pernah ada yang mampu menghitungnya.

Bahkan pada lagu-lagu tak bersyair pun kita bisa merasakan kedalaman yang hening tapi menggelisahkan itu. Dengarlah Fur Elise Beethoven. Saya selalu terpana setiap mendengar denting piano sonata berusia 200 tahun yang sampai hari ini terus direproduksi untuk berbagai keperluan itu – dari bel pintu dan musik permanen penjual es krim keliling sampai nada dering telepon seluler terbaru dan ilustrasi musik film mutakhir. Setiap mendengarnya saya berusaha meraba amuk cinta Beethoven pada Elise. Selalu gagal. Saya hanya menangkap ketulusan, keagungan, kesyahduan cinta di sana – juga kegemasan, ketaksabaran dan kadang ketakkuasaan membendung luapan perasaan yang menerjang-nerjang liar tak terkendali.

Fathia yang menawan,

Meski kamu Elise, maafkan saya karena saya bukan Beethoven – orang yang juga membuat saya tak habis heran karena ia menulis Symphony No.6, sebuah puisi musikal yang mengiris (saya menyukai interpretasi Cleveland Philharmonic Orchestra). Pusat Studi Beethoven di Universitas Colorado menyimpan beberapa puluh lembar rambut maestro Jerman itu, dan dari sana menyimpulkan bahwa tingginya kadar timah dalam air minum dan air mandinya adalah penyebab ia cepat tua dan berambut perak. Tapi saya lebih tertarik untuk tahu dari lapisan batinnya yang manakah ia mengeluarkan Fur Elise – juga Das Lebowl, rintihannya yang menyayat hati karena perpisahan dengan kekasih.

Saya tahu lapis-lapis terdalam perasaan saya pun menyimpan energi cinta yang besar terhadap kamu. Saya bisa merasakannya. Saya bahkan kadang bisa menangkapnya dengan cukup jelas. Maafkan saya kalau belum mampu menariknya ke luar – meski tak harus berupa puisi bunyi seperti Fur Elise.

Mengapa kamu dan saya, kita, tetap berani menikah di tengah kepungan wajah-wajah murung akibat ketakbahagiaan perkawinan mereka; di tengah serakan marriage jokes yang membuat kita tergelak tapi juga miris?

Kamu pasti ingat sejumlah lelucon ironis itu. Ada yang bilang perkawinan ideal adalah antara perempuan buta dan lelaki tuli – si isteri tak akan melihat ulah suaminya yang menjengkelkan, sang suami tak bisa mendengar omelan isteri yang tak pernah putus.

Seorang suami mengaku tak takut lagi pada terorisme karena sudah menikah selama dua tahun. Katherine Hepburn menyilakan para gadis untuk menikah jika mereka “ingin mengganti kekaguman dan pemujaan ribuan lelaki dengan kritik satu orang” – suami, konon, selalu hanya melihat kekurangan isterinya.

Setelah tujuh atau dua belas kali menikah, Zsa Zsa Gabor mengaku tak kapok kawin asalkan suami berikutnya “berusia 85, punya simpanan seratus juta dolar, dan mau menandatangani perjanjian bahwa enam bulan lagi dia akan mati.” Dan dewi Hollywood itu mengaku tak mengerti apa-apa tentang seks, “karena saya selalu menikah.”

Agatha Christie juga tak henti berganti suami, dan sampai pada kearifan untuk ia sarankan pada gadis-gadis yang sedang mencari pasangan hidup: kawinlah dengan arkeolog, sebab makin tua kita (isteri) akan makin tertarik dia. Jika suami bukan ahli purbakala, semua perempuan sudah tahu apa yang sering terjadi.

Apa resep perkawinan yang awet? Seorang suami mengaku dia dan isterinya sanggup menjaga perkawinan selama tujuh belas tahun karena mereka rutin makan di restoran yang baik, dengan red wine lezat dan temaram candle light yang membangun suasana mesra. “Saya melakukannya tiap Senin malam,” katanya, “dan isteri saya Kamis malam”. Suami lain mengaku rumah-tangganya benar-benar bahagia selama dua puluh tahun – tapi kemudian ia dan isterinya tinggal serumah.

Mungkin catatan tertua tentang ironi semacam ini adalah dari Socrates, dari masa sekitar 2500 tahun silam. “Bagaimanapun, kawinlah”, sarannya pada para pria. “Jika kau mendapatkan isteri yang baik, kau akan bahagia. Jika kau mendapat isteri yang buruk, kau akan jadi filosof.” Kini kita tahu kenapa dia jadi filosof.

Mungkin benar bahwa perkawinan itu seperti benteng terkepung: yang di dalam ingin keluar, yang di luar ingin masuk. Atau kita termasuk golongan yang disindir Voltaire, yang mengumumkan bahwa perkawinan adalah satu-satunya medan petualangan yang terbuka bagi para pengecut?

Jadi, mengapa akhirnya kita memutuskan untuk menikah? Mungkinkah sekadar karena kita, di tengah konstruk masyarakat tempat kita hidup ini, tak sanggup menanggung beratnya tekanan sosial yang tak menoleransi kebersamaan hidup kita tanpa dukungan dokumen-dokumen negara dan aturan agama – hal-hal yang tak berhubungan dengan cinta yang merekat kebersamaan kita? Juga karena kita tak akan sanggup melawan kuasa negara yang tak akan memberi status hukum bagi anak-anak yang mungkin lahir dari kebersamaan kita?

Atau mungkin karena diam-diam kita curiga bahwa pasangan-pasangan yang sinis itu hanya menonjolkan aspek-aspek buruk dari perkawinan mereka. Mereka telah berlaku seperti wartawan yang terus berpedoman pada kredo usang: bad news is good news. Mereka curang karena menonjolkan keburukan yang cuma secuil di tengah kebaikan yang melimpah. Mereka menampilkan diri sebagai serangga yang terperangkap.

Mereka berlomba untuk tampil sebagai korban, bukan pelaku, dari perkawinan hasil kerja sama dengan pasangan masing-masing. Status sebagai korban memang menyamankan perasaan – dengan itu mereka bukan hanya tak bersalah atas ketaksempurnaan perkawinan mereka, tapi sekaligus menderita dan dirugikan akibat tindakan pasangan. Tidak ada kekuatan yang lebih besar dalam menarik simpati daripada derita ganda ini.

Tapi katakanlah sinisme mereka sahih; bahwa mereka memang mewakili gejala yang makin umum tentang mengecewakannya perkawinan, seperti terlihat dari statistik perceraian yang meningkat di banyak tempat. Dengan semua itu agaknya kita percaya bahwa kita masih mungkin mencuri kebahagiaan dari situasi umum kekecewaan itu. Sebab kita memaknai kebahagiaan lebih sebagai kata kerja ketimbang kata benda; sebagai konsep dinamis, yang harus diupayakan secara aktif dengan sepenuh kesungguhan, bukan sesuatu yang akan kita terima dengan pasif karena ia kita sangka bisa hadir begitu saja di ruang tamu rumah kita.

Ia pasti terkait erat dengan cinta yang enigmatik itu. Ada ribuan definisi cinta – dan tak ada yang memadai. Kamu boleh memilihnya satu atau beberapa sekaligus. Tapi saya harap kamu sepakat dengan rumusan yang saya ramu dari bahan-bahan Scott Peck: cinta adalah kehendak untuk melampaui kemampuan kita sendiri guna memungkinkan pasangan kita tumbuh secara spiritual.

Dan spiritualitas, seperti kita pahami bersama, bercakupan lebih luas daripada hal-ihwal yang terkait dengan agama, apalagi sekadar dengan aspek ritualnya. Spiritualitas membuat kita bersedia mendaki puncak-puncak kemanusiaan kita; juga membuat kita tak terpaku pada keremehan suatu benda, melainkan mengintai makna yang lebih dalam daripada arti yang lazim ditawarkan oleh benda itu. Seperti kata seorang bijak, “Jika kau tahu bagaimana proses mengelopaknya sekuntum bunga, maka seluruh hidupmu akan berubah.”

Cinta, bahagia, bunga – toh semuanya tak akan membuat perkawinan kita kebal dari pertengkaran. Dan jika itu harus terjadi, ingatlah bahwa kita tak akan meninggalkan gelanggang – dengan begitu, kita tahu bahwa meskipun kita sedang jengkel atau marah, kita tetap saling menyayangi. Jangan pernah lupa aturan utama dalam seni bertengkar ini.

Fathia sayang,

Tahukah kamu bahwa langit terpekat dalam suatu malam adalah di saat menjelang fajar? Ketika bertemu kamu, saya berada dalam kepekatan itu – saat-saat yang nyaris memutusasakan. Saya tahu, jika saya menyerah saya tidak akan berjumpa dengan fajar. Saya memutuskan untuk tidak menyerah.

Lalu di ujung malam yang legam itu saya sungguh-sungguh melihat fajar – kamu. Sekarang saya mengerti ungkapan di banyak lagu pop itu: you are the sunshine of my life. Sekarang saya percaya bahwa yang akan mengubah seluruh hidup saya bukan hanya proses mengelopaknya sekuntum bunga.

Belum pernah saya dicintai sedramatis dan seekspresif ini. Tapi, lebih daripada karena dicintai, saya bahagia karena mencintai kamu.

Kita akan selalu ingat Socrates. Kita akan memastikan bahwa salah satu di antara kita tidak akan jadi filosof…

Dengan pelukan terhangat,

Hamid Basyaib
Jakarta, 22 Maret 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s