Berburu Buku Murah Di Blok M Square

Ruangan tanpa buku ibarat tubuh tanpa jiwa, kata seorang negarawan Romawi kuno Cicero (106-43 SM). Buku juga sudah akrab di telinga kita sebagai jendela dunia. Takkan ada peradaban tanpa buku. Dan selalu ada harta karun terpendam di dalam sebuah buku.

Sejak kita mulai belajar bicara, menulis dan membaca kita mulai mengenal buku. Dan kita semua pasti pernah membaca buku. Tapi mungkin tidak semua orang mampu membeli dan mengoleksi buku, apalagi buku-buku berharga mahal.

Di Jakarta ada salah satu tempat, tepatnya di daerah Blok M, yang menyediakan buku-buku murah berkualitas dengan harga terjangkau. Tempatnya terletak di lantai basement gedung Blok M Square (BMS). Di sini ada banyak kios dan lapak yang menggelar dagangannya. Para pencari dan penggemar buku yang berkunjung pun akan merasa cukup nyaman karena tempat ini ber-AC, bersih, dan tidak gelap.

-baca selanjutnya

Pernyataan Sikap Goodreads Indonesia atas Pelarangan Buku

Pelarangan Buku & Penarikan Buku dari Peredaran Merugikan Pembaca dan Melanggar Hak Pembaca

Pada 23 Desember 2009, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima judul buku yang dianggap ‘mengganggu ketertiban umum’, yakni pertama, Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Rosa. Kedua, Suara Gereja bagi Umat Tertindas: Penderitaan Tetesan Darah dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocratez Sofyan Yoman. Ketiga, Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan. Keempat, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan. Kelima, Mengungkap Misteri Keberagaman Agama karya Syahrudin Ahmad. Selain itu, di kurun waktu yang sama juga terjadi penarikan buku Membongkar Gurita Cikeas karya George Junus Aditjondro dari peredaran. Pelarangan dan penarikan buku ini merupakan satu dari banyak kejadian serupa dengan yang selama ini sudah seringkali terjadi di Indonesia.
-baca selanjutnya->

Selendang Pelangi, Selendang Puisi

rainbow_by_iamJoliePuisi lahir dari sepi. Dan kita tak pernah bertanya untuk apa. Seperti bunga mawar yang tak pernah ditanya untuk apa dia ada. Bunga mawar ada begitu saja tanpa kenapa. Tidak selamanya dalam hidup ada hal-hal yang bisa ditanya untuk apa, apa maksudnya, atau untuk tujuan apa. Tidak semua hal harus penting sebagaimana tidak semua harus ada apa atau kenapa mengapa.

Mereka yang terlalu serius menjalani hidup dengan tekanan rutinitas yang padat dan terlalu tegang biasanya sulit menikmati puisi, apalagi memahaminya. Maka mungkin untuk itulah buku seperti ini ada. “Selendang Pelangi”, judulnya. Kumpulan puisi isinya. Karya 17 penyair perempuan Indonesia.

Kenapa hanya 17? Bisa jadi pertanyaan ini tidak terlalu penting. Kalau pun misalnya hanya 10, maka orang bisa bertanya pula, kenapa hanya 10? Tapi kalau pun “terpaksa” mau dikaitkan dan dicarikan jawabannya, mungkin sengaja dipilih 17 penyair karena angka 17 adalah “angka keramat” atau semacam “nomor cantik“ di negeri ini. Dan bukan kebetulan pula jika kata ‘cantik’ juga identik dengan kaum perempuan. Jadi kenapa 17? Sangat boleh jadi karena dikaitkan dengan hari kemerdekaan negeri ini yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus.

Kenapa pula judulnya “Selendang Pelangi”? Kombinasi dua kata ‘Selendang’ dan ‘Pelangi’ memang membentuk nama yang indah. Rasanya seseorang memang harus terlahir sebagai orang Indonesia untuk memahami betul arti kata ini. Judul “Selendang Pelangi” tentu dipilih bukan tanpa alasan atau kebetulan.

-baca selanjutnya->

Surat Neptunus Buat Dewi ‘Dee’ Lestari

perahu kertas

(Resensi novel “Perahu Kertas” Dee)

Hai Dee yang baik,

Perkenalkan, saya salah seorang pembaca Perahu Kertas (PK). Kita memang belum pernah kenal sebelumnya. Tapi pastinya saya sudah tau seorang Dewi “Dee’ Lestari karena kamu penulis dan penyanyi terkenal di negeri ini.

Kalau boleh, Dee, izinkan saya menulis surat ini. Anggaplah ini sekadar kesan-kesan saya setelah membaca PK. Tapi mungkin saya nggak akan menghanyutkannya surat ini di sungai, kali, apalagi lautan.

Baiklah, saya mulai ya.
Pastinya kita semua tau, Dee, manusia tak pernah lahir dari batu atau jatuh dari langit. Manusia adalah produk lingkungannya. Ia terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup tempat di mana ia lahir, tumbuh, dan mati. Termasuk di dalamnya pengalaman membaca seseorang.

Pernah suatu kali di malam yang sepi, sambil memegang sebuah buku, saya merenungkan sebuah pertanyaan iseng: bisakah kita membaca sebuah buku tanpa membawa serta pengalaman membaca kita sebelumnya? Atau lebih jauh lagi, bisakah kita membaca sebuah buku tanpa mengikutsertakan pengalaman hidup kita selama ini yang terkait dengan buku, musik, atau film misalnya? Dalam bahasa sederhana: bisakah kita mengosongkan dahulu semua panca indera kita, segala pikiran dan hati kita ketika akan membaca sebuah buku?

-baca selanjutnya->

Sehat Itu Murah, Sehat Itu Bahagia (Resensi)

sehat itu murah2Bagi sebagian orang kesehatan mungkin bukanlah segala-galanya. Tapi segalanya bukan apa-apa tanpa kesehatan.

Buku menarik dan penting ini memuat petunjuk-petunjuk praktis yang bisa dilakukan sehari-hari tentang bagaimana menjalani gaya hidup sehat yang murah. Dengan buku ini juga sang penulis benar-benar menempatkan profesi dokter pada kedudukannya semula, yaitu mengobati orang sakit dan terutama mencegah orang jatuh sakit. Tentu bukan sebuah pandangan yang populer, karena itu sama artinya dengan mengurangi penghasilan dokter dan rumah sakit.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah, sederhana, dengan kalimat yang mudah dipahami orang awam. Pilihan katanya pun berasa “nyastra”. Inilah keunikan dan kelebihan buku ini. Seperti yang ditulis di hlm 75:

“Gaya hidup yang salah menelurkan jiwa yang galau, rohani yang sumbang, dan mental yang beku. Orang zaman sekarang kelihatannya saja sehat, namun di dalamnya kebanyakan gundah-gelisah. Hidup berkecukupan, namun tak merasa berbahagia. Segala punya, namun merasa hidupnya tak bermakna. Penyakit hidup tak bermakna menyusutkan rasa sentosa kita.”

Tak heran karena dokter ini juga suka menulis puisi sejak SMA hingga sekarang. Bahkan Antologi puisinya yang terakhir “ Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh” sudah terbit tahun 2006. Sebelum masuk ke halaman Daftar Isi di buku ini pembaca pun sudah disambut dengan sebuah puisi yang dipersembahkan penulis untuk keluarganya tercinta.

-baca selanjutnya->

Tsotsi (Resensi)

tsotsi cover2Hari mulai petang ketika kau bertanya kepadaku: benarkah hanya yang paling kejam yang bisa sejahtera? Aku tahu kau sedang bicara tentang Tsotsi…

***
Pencerahan, kau tahu, bisa dimulai dari keadaan yang paling gelap. Begitulah proses hidup yang dialami Tsotsi, tokoh utama novel ini. Tapi maaf saja, pencerahan itu tidak datang dari sebuah buku, seorang ustad, pendeta, atau kitab suci sekali pun. Pencerahan itu hadir melalui sesosok bayi mungil.

Tsotsi sendiri adalah sebutan untuk gangster di kawasan kumuh dan tertindas bernama Sophiatown di kota Johannesburg, Afrika Selatan, di tahun 1940-an. Athol Fugard dengan tajam menyoroti akibat brutal dari rezim apartheid (diskriminasi ras) yang sangat menindas kaum kulit hitam pada masa itu.

UU Pertanahan 1913 menyebabkan 77% wilayah negara dikuasai dan digunakan kaum kulit putih, sementara sisanya warga kulit hitam harus tinggal di perkampungan-perkampungan kumuh dengan tekanan sosial-ekonomi yang tinggi di pinggiran kota. Bahkan Fugard sempat menulis: “Melihat sistem ini beroperasi, mengajari saya bagaimana caranya bekerja dan apa pengaruh sebenarnya pada manusia.”(hlm. xvii)

Puncak-puncaknya di akhir 1950-an, ketika Fugard menulis novel ini, warga kulit hitam dipaksa memasuki kehidupan bawah tanah, kejahatan pun menawarkan peluang hidup: hanya yang paling kejam yang bisa sejahtera. Mereka memangsa sesama orang Afrika, merampok, membunuh, dan memerkosa tanpa dihukum. Menurut Fugard, pengaruh dari rezim pemerintah ini adalah gugurnya harapan dan terdesaknya orang-orang yang tertindas untuk mengincar orang lain yang lebih rendah darinya dalam rantai makanan. Tsotsi adalah produk dari kondisi brutal semacam ini. (hlm. xix)

-baca selanjutnya->

Indonesia atau Endonesia?

(Versi singkat asal-usul nama Indonesia)

indonesia-batik

“Kau tak kenal bangsamu sendiri…”
–Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa)


Selama 64 tahun menjalani kemerdekaannya, sensus penduduk di negeri ini tak pernah mengungkapkan ada berapa juta orang yang tidak tahu tentang asal-usul nama negeri tempat kelahiran dan kematiannya. Hal ini tak perlu disesali benar. Karena ini memang bukan menyangkut soal perut atau “periuk nasi” banyak orang. Juga tak pernah menjadi garis hidup yang menentukan peta nasib seseorang. Perkara asal-usul nama memang bisa dianggap penting atau sebaliknya, tergantung dari sudut pandang mana orang menilainya.

Negeri ini ada di antara dua samudera, itu kata ilmu bumi atau peta geografi. Tapi negeri ini bermula dari satu nama sungai, itu kata ilmu sejarah. Dari Indusnesos menjadi Indunesia dan akhirnya jadilah Indonesia. Indus adalah nama sebuah sungai di India dan nesos berasal dari bahasa Yunani yang artinya ‘gugusan pulau’ atau ‘kepulauan’. Dengan begitu, nama Indonesia punya arti ‘kepulauan India’. Tak ada yang risih atau repot dengan arti nama ini. Dan orang India pun tak pernah keberatan nama negerinya dicatut jadi nama sebuah bangsa.

Seorang pelaut Portugis yaitu Manoel Godinho de Eredia pernah membuat peta yang di dalamnya tercantum nama Luca-antara atau Nuca-antara untuk kepulauan Malaya. Kurang lebih ada kaitannya dengan kerajaan Majapahit di abad ke-15 yang menamakan daerah kekuasaannya dengan nama Nusantara. Sebelum Majapahit ada Kerajaan Singasari yang menamakannya Dipantara, Nusantara di antara dua benua. Lalu pada abad ke-16 Portugis menguasai Indonesia dan menamakannya India Portugis.

-baca selanjutnya->