blur-ed

“Saya percaya, semakin baik mutu jurnalisme, makin baik pula mutu masyarakat.”
–Bill Kovach

Advertisements

BLUR

Pagi

life of pi-2

Kabar dari seberang pulau itu bilang,
“Hujan di sini. Deras. Jalanan menuju pagi banjir tenggelam,” katamu,
tak sempat menyapa batu nisan

Di sini
hujan pagi juga datang
pelan-pelan
dari jendela kosan

serupa gumam dalam diam
seperti sunyi mengiris sepi
mampir di halaman

Langit masih mendung, en, gelap di luar

tak lama berselang,
hanya sependek ingatan,
hujan pergi dengan langkah pelan-pelan
seperti berat meninggalkan
tapi dia pergi
tanpa menengok ke belakang

seperti pilunya Pi tadi malam,
ketika Richard Parker meninggalkan

(Desember 2012)

Ini Sekeranjang Puisi Untukmu, Jangan Sedih..

1. Aku Ini Binatang Jalang – Chairil Anwar

2. Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

3. Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung – Joko Pinurbo

4. Menjadi Penyair Lagi – Acep Zamzam Noor

5. Matahari yang Mengalir – Dorothea Rosa Herliany

6. Kepada Cium – Joko Pinurbo

7. Konde Penyair Han – Hanna Fransica

8. Aku Ingin Jadi Peluru – Wiji Thukul

9. Where The Sidewalk Ends – Silverstein

10. Yang Sakral dan Yang Sekuler – Gadis Arivia

11. Ciuman Hujan – Pablo Neruda

12. Nikah Ilalang – Dorothea Rosa Herliany

13. Tirani dan Benteng – Taufik Ismail

14. Ayat-Ayat Api – Sapardi Djoko Damono

15. Sajak-sajak Sepatu Tua – WS Rendra

16. Setanggi Timur – Amir Hamzah

17. Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya – Gunawan Maryanto

18. Jantung Lebah Ratu – Nirwan Dewanto

19. Sub Rosa – Aurelia Tiara

20. Tersebab Aku Melayu – Taufik Ikram Jamil

21.  Selepas Bapakku Hilang – Fitri Nganthi Wani (Putri Wiji Thukul)

The Old Man and The Sea

the old manTerjemahan yang baik konon adalah terjemahan yang tidak terasa sebagai terjemahan. Alias benar-benar alih bahasa, bukan terjemahan mentah-mentah, harafiah, atau sekadar ganti bahasa.

Di tahun 2008 lalu setidaknya ada dua penerbit yang “berani-beraninya” menerbitkan novel terjemahan karya masterpiece Hemingway ini. Pertama, penerbit Selasar Surabaya Publishing yang cetakan pertamanya April 2008 dan kedua, Serambi Jakarta dengan Cet. I Mei 2008. Sementara penerbit Pustaka Jaya sebenarnya juga pernah menerbitkan terjemahan novel ini di tahun 1973.

Tapi kenapa disebut “berani-beraninya”? Karena menerjemahkan sebuah karya apalagi sebuah novel terjemahan dari penulis peraih Nobel bila tanpa dipersenjatai dengan penerjemah dan editor yang handal adalah sama artinya dengan menguji nyali atau bermain-main api yang ujung-ujungnya bisa mengakibatkan tragedi “setor nyawa” atau “jatuh harga” di hadapan sidang pembaca yang kritis.

Layaknya sebuah novel terjemahan, pertanyaan paling pertama dan utama yang layak diajukan adalah: seperti apa kualitas terjemahannya? Jawabannya, biarkan karya yang bicara. Karena kalau sudah bicara kualitas, jangankan pembaca berpengalaman yang kritis, pembaca awam yang masih “hijau” alias “bau kencur” pun rasanya tidak akan terlalu sulit membedakan mana “emas” mana “loyang.” Untuk hal yang satu ini soal selera mari kita singkirkan lebih dulu.

Nah, yang berikut ini ada sedikit contoh. Sebuah paragraf dalam bahasa asli novel ini:

He loved green turtles and hawks-bills with their elegance and speed and their great value and he had a friendly contempt for the huge, stupid logger-heads, yellow in their armour plating, strange in their lovemaking, and happily eating the Portuguese men-of-war with their eyes shut.

Terjemahan versi Selasar di hlm 31:
Dia menyukai penyu hijau dan paruh elang karena bentuknya yang elegan dan kecepatannya juga nilainya yang tinggi. Ia juga menyimpan suka-suka benci ketika melihat kepala tukang kayu bodohnya yang besar, warna kekuningan apa lapisan kulitnya, keanehan bercintanya dan dengan sukaria melahap ubur-ubur Portugis dengan matanya yang terpejam.

Terjemahan versi Serambi di hlm 40:
Dia suka penyu hijau dan jenis yang paruhnya seperti elang dengan keanggunan yang dimilikinya, dan harganya yang tinggi. Makhluk itu menjijikkan tapi lucu dengan bentuknya yang besar, kepala besar yang tampak bodoh, warna kuning tempurungnya, gaya kawinnya yang aneh, serta kegemarannya melahap ubur-ubur dengan mata terpejam.

Memang, sepintas terjemahan versi Serambi masih lebih bisa diterima ketimbang terjemahan Selasar yang acakadut.

Nah, kalau sudah membaca dua versi terjemahan di atas, rasanya bukan salah bunda mengandung kalau pembaca jadi malas melanjutkan bacaannya tapi malah membalik-balik halaman mencari-cari lagi kejanggalan-kejanggalan kalimat, salah ketik atau tanda baca, yang nampaknya masih bertebaran di novel terjemahan ini. Pekerjaan mencari kutu yang menyita waktu tapi menguji kecermatan, kejelian, dan kesabaran. Konon begitulah katanya:-)

(Pandasurya, 6 Agustus 2009)

kau, aku, kita, dia, mereka

Kali ini ingin kukatakan kepadamu,
sesungguhnya novel ini berkisah tentangmu, “kau”, “aku”, “kita”, “dia”, dan “mereka”.

***
Berkat yin bahasa lahir
Berkat yang bunyi lahir
Percampuran yin dan yang melahirkan insan
Ketika insan lahir, suara hilang
Ketika suara lahir, nyanyian lenyap
(h. 520)

Aku tidak mempercayai keajaiban-keajaiban sama seperti aku, pada mulanya, tidak mempercayai takdir. Namun, ketika kita ada dalam keadaan putus asa, tidakkah yang tersisa hanyalah keajaiban-keajaiban tempat kita berharap? (h. 118-119)

Dalam gelap gulita, setiap orang punya takdirnya masing-masing (h. 124)

Di dunia ini, tak ada cara untuk memahami apa yang seharusnya terjadi (h. 246)

Pengembara yang sebenarnya tak memiliki tujuan sama sekali (408)

Dia berkata bahwa dirimulah yang menyatakan bahwa cinta hanya sebuah ilusi yang berguna untuk menyesatkan diri sendiri (h. 441)

Manusia adalah salahsatu makhluk sulit yang menciptakan badai-badainya sendiri (h. 507)

Kebijaksanaan juga adalah semacam kemewahan, semacam ongkos dari sebuah kemewahan (508)

Kau tahu bahwa aku tak bisa melakukan apa-apa selain berbicara kepada diriku sendiri untuk mengusir kesepianku. Kau tahu bahwa kesepianku ini tanpa penawar, tak seorang pun dapat melipur laraku, aku hanya dapat berkata pada diriku sendiri sebagai kawan bicaraku.
Dalam monolog panjang ini, “kau” adalah sasaran ceritaku, sesosok aku yang mendengarkanku dengan penuh perhatian, “kau” hanyalah bayang-bayang diriku.
Saat aku mendengarkan “kau” yang menjadi milikku, aku menciptakan “dia” untukmu, karena kau seperti aku, kau tak kuasa menanggung kesepian, kau juga harus menemukan kawan bicara.
Maka kau bicara dengan “dia” seperti aku bicara dengan “kau”.
Dia berasal dari “kau”, tapi mengukuhkan keakuanku.
“Kau”, kawan berbincangku, kau membawa pengalaman dan imajinasiku dalam hubungan antara “kau” dan “dia” tanpa dapat membedakan mana imajinasi dan mana kenyataan..(h. 455-456)

Tak ada keajaiban, itulah yang dikatakan Tuhan kepadaku, ketidakpuasan yang abadi. Aku mengajukan pertanyaan kepadanya: Dalam hal ini, apakah masih ada sesuatu yang harus dicari?

Semuanya tenang di sekelilingku. Salju turun dalam kesunyian. Aku tercengang dalam ketenangan ini. Sebuah ketenangan surgawi.
Tak ada kegembiraan. Kegembiraan hanya berhubungan dengan kesedihan.
Hanya turun salju.

Pada saat ini, aku tak tahu di mana tubuhku berada, aku tak tahu dari mana potongan tanah surga ini berasal. Aku meneliti sekeliling.
Aku tak tahu bahwa aku tak mengerti apa-apa, aku juga mengira bahwa aku mengerti semuanya.

Peristiwa-peristiwa berlalu di belakangku. Selalu ada sebuah mata asing. Yang terbaik adalah berpura-pura mengerti. Pura-pura mengerti, tapi sama sekali tidak mengerti.

Pada kenyataannya, aku sama sekali tidak mengerti, sama sekali tidak.
Begitulah.

Peking—Paris, Musim Panas 1982—September 1989

(h. 713)

Rye

“Mereka yang belum dewasa adalah yang bersedia mati demi memperjuangkan satu hal. Sementara mereka yang dewasa justru bersedia untuk hidup dengan rendah hati untuk memperjuangkan hal itu” (h. 265)

Kalau ada satu kata yang bisa menggambarkan novel ini maka kata itu adalah ‘ngelantur’.
Maklum saja, kalau ditanya, novel ini tentang apa, maka niscaya kita akan bingung menjawabnya. Kenapa? Karena bisa dibilang novel ini tidak bercerita tentang apa-apa, kecuali omongan ngelantur, ngalor-ngidul dari si tokoh aku yaitu Holden Caulfield, seorang remaja yang baru dikeluarkan dari sekolahnya.

Kelebihan novel ini jelas dari cara bertuturnya si tokoh aku yang ngelantur, dengan bahasa yang menghujat blak-blakan sana-sini. Kekurangan novel ini juga jelas: tidak ada ceritanya.

Terjemahannya bagus, cukup bagus. Si penerjemah cukup berhasil meng-alihabahasa-kan gaya bahasa hujatan itu ke dalam bahasa Indonesia.

Tapi meski ngelantur masih ada tapinya, untungnya. Setelah sekian ratus halaman ngelantur yang membosankan akhirnya novel ini bisa meninggalkan kesan juga di halaman-halaman akhir, bahkan boleh jadi kesan yang mendalam. Simak saja kutipan-kutipan favorit berikut ini yang terjadi ketika si Holden ‘diceramahi’ oleh seorang tokoh yaitu Pak Antolini.

“Bagi orang-orang seperti ini (orang seperti Holden maksudnya), yang mereka rasakan sepanjang hidup, atau dalam sebagian hidup mereka, adalah bahwa lingkungan di sekitar mereka tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka. Atau mereka pikir bahwa lingkungan mereka sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka. Sehingga mereka akhirnya sama sekali berhenti mencari. Mereka menyerah sebelum mereka memulai.” (h. 264)

“Aku tidak bilang bahwa yang dapat memberikan makna pada dunia hanyalah mereka yang berpendidikan dan terpelajar. Bukan begitu.tetapi yang kumaksud adalah bahwa mereka yang berpendidikan dan terpelajar, sekaligus cerdas dan kreatif—yang sayangnya kombinasi semacam itu agak jarang ada– cenderung untuk meninggalkan catatan yang amat sangat berharga dibandingkan dengan mereka yang sekadar cerdas dan kreatif. Orang-orang seperti ini cenderung untuk mengekspresikan dirinya dengan lebih jelas, dan mereka biasanya punya gairah untuk terus menelusuri pemikiran mereka sampa tuntas. Dan–yang lebih penting lagi—sembilan dari sepuluh orang seperti itu jauh lebih rendah hati ketimbang pemikir yang tidak terpelajar.” (h. 267-268)

“Ada hal lain yang lebih bermanfaat dari pendidikan akademis. Apabila kamu terus menekuninya sampai batasnya entah di mana itu, proses ini akan membuat kamu mengetahui seberapa besar kapasitas berpikirmu. Apa yang sesuai dan, barangkali, apa yang tidak. Setelah beberapa saat, kamu akan tahu pemikiran apa yang akan berkembang dalam kapasitas pemikiranmu. Satu hal yang jelas, kamu akan bisa menghemat begitu banyak waktu ketimbang mencoba-coba apakah satu gagasan bisa kamu terima atau tidak, atau bisa kamu kembangkan atau tidak. Kamu akan tahu persis sampai di mana kemampuanmu yang sesungguhnya dan dengan begitu kamu bisa mengembangkan pemikiranmu sejalan dengan itu.”(h. 268)

“..kamu akan sadar bahwa kamu bukanlah orang pertama yang merasakan kebingungan dan ketakutan bahkan muak setengah mati dengan perilaku sesama manusia. Kamu tidak sendiri. Dan kamu akan bergairah dan terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Banyak, ada banyak orang mengalami kegelisahan moral juga spiritual seperti yang kamu alami sekarang. Untunglah, beberapa orang sempat mencatat apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka. Kamu bisa belajar dari mereka—kalau kau mau. Dan di kemudian hari, kalau kamu mulai bisa membagi pengalamanmu, orang lain pun akan belajar sesuatu dari kamu. Ini timbal balik yang begitu indah. Dan ini bukan pendidikan sekolah. Inilah yang disebut dengan sejarah. Ini adalah bait-bait puisi.“(h.267)