Dhita, Dili, Silaban

Biarkan saya bercerita tentang 3 orang.

Orang Pertama: Namanya Endhita. Dia seorang model, artis film, sinetron, sekaligus presenter di TV. Di tengah dunia yang padat jadwal dan serba gemerlap dia mengaku sebenarnya sangat menyukai pantai dan keheningan. Seringkali ia ingin mencari tempat sunyi, jauh dari kesibukan dan hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta. Karena itulah ia tak pernah bosan pergi ke pantai-pantai di Bali, Belitung sampai Lengkawi.

“Aku ingin hidup di pantai yang tenang, damai, hidup seperti nelayan yang sederhana,” katanya. “Hidup di kota pikiran bisa ruwet.” Di pantai ia bisa jadi dirinya sendiri, begitu katanya.

Orang Kedua: Sewaktu masih berjualan jagung bakar di Puncak, Bogor, Dili pernah punya niat mengambil anakan burung elang jawa yang ada di hutan sekitar kawasan perkebunan teh di Puncak, Bogor. Maksudnya sederhana: menambah modal untuk berjualan. Tapi kini bisa dibilang profesi Dili adalah sebagai pemandu wisata “nonton” elang Jawa di kawasan perkebunan teh Puncak, Bogor. Yang dipandunya tidak tanggung-tanggung: ribuan turis dan peneliti dari manca negara seperti Jepang, Perancis, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat, termasuk sejumlah aktivis pemantau burung. Hanya Dili satu-satunya penduduk sana yang aktif dalam konservasi burung langka itu. “Hutan di kawasan ini harus dijaga betul-betul supaya elang tetap bisa bertahan,” katanya.

Orang Ketiga: Pantur Silaban namanya. Guru besar Fisika ITB ini suatu kali pernah ditanya, kenapa sebagai orang Batak Anda tidak jadi pengacara atau sopir angkot, misalnya? Dia memberi jawaban lewat sebuah cerita. Begini katanya.

Ada suami istri pekerja keras yang mengumpulkan modal sedikit demi sedikit untuk berjualan ikan di sekitar tempat mereka tinggal. Mereka pun sepakat memberi nama perusahaannya: Di sini Kami Menjual Ikan Segar.

Setelah bertahun-tahun usahanya cukup berhasil dengan nama seperti itu. Suatu hari datang pembeli. “Panjang sekali merek usahamu,” kata orang itu. “Kamu menjual ikan di sini, bukan di tempat lain, untuk apa kata di sini.” Masuk akal memang. Dicoretlah kata itu.

Datang lagi pembeli lain. “Mereknya kok Kami Menjual Ikan Segar. Sudah pasti kalian yang jual, untuk apa kata kami.” Dicoretlah kata kami. Hari lain datang lagi pembeli. “Kamu kan letakkan ikan di sini untuk dijual, untuk apa lagi kata ‘menjual’?” Dicoretnya lagi kata itu. Sekarang tinggal Ikan Segar. Pembeli lain masih datang, dan bertanya, kamu kan nggak jual ikan busuk? Dicoretnya kata ‘segar’. Tinggal Ikan. Pembeli terakhir datang, “dari jauh saya sudah mencium ikan, untuk apa kamu menamakan toko ‘ikan’. Akhirnya setelah itu mereka gulung tikar.

Nah, saya sudah bercerita tentang 3 orang. Cerita yang boleh jadi lebih baik berakhir tanpa kesimpulan. Kalaupun kita ingin mengambil benang merah dari ke-3 cerita di atas maka katakanlah kita baru bicara soal “kesetiaan, ketulusan, dan kegigihan menjalani profesi.” Atau dengan kata lain, pesan terselubung yang bisa kita dapatkan dari ke-3 cerita di atas adalah “sayangilah yang kau dapat meski tak seindah yang kau inginkan.”

Pandasurya
September 2007

One thought on “Dhita, Dili, Silaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s