Sehat Itu Murah, Sehat Itu Bahagia (Resensi)

sehat itu murah2Bagi sebagian orang kesehatan mungkin bukanlah segala-galanya. Tapi segalanya bukan apa-apa tanpa kesehatan.

Buku menarik dan penting ini memuat petunjuk-petunjuk praktis yang bisa dilakukan sehari-hari tentang bagaimana menjalani gaya hidup sehat yang murah. Dengan buku ini juga sang penulis benar-benar menempatkan profesi dokter pada kedudukannya semula, yaitu mengobati orang sakit dan terutama mencegah orang jatuh sakit. Tentu bukan sebuah pandangan yang populer, karena itu sama artinya dengan mengurangi penghasilan dokter dan rumah sakit.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang renyah, sederhana, dengan kalimat yang mudah dipahami orang awam. Pilihan katanya pun berasa “nyastra”. Inilah keunikan dan kelebihan buku ini. Seperti yang ditulis di hlm 75:

“Gaya hidup yang salah menelurkan jiwa yang galau, rohani yang sumbang, dan mental yang beku. Orang zaman sekarang kelihatannya saja sehat, namun di dalamnya kebanyakan gundah-gelisah. Hidup berkecukupan, namun tak merasa berbahagia. Segala punya, namun merasa hidupnya tak bermakna. Penyakit hidup tak bermakna menyusutkan rasa sentosa kita.”

Tak heran karena dokter ini juga suka menulis puisi sejak SMA hingga sekarang. Bahkan Antologi puisinya yang terakhir “ Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh” sudah terbit tahun 2006. Sebelum masuk ke halaman Daftar Isi di buku ini pembaca pun sudah disambut dengan sebuah puisi yang dipersembahkan penulis untuk keluarganya tercinta.

Tak diragukan lagi dokter ini memang mahir menulis dan produktif. Selain sudah banyak menulis di majalah, tabloid dan koran nasional, buku ini adalah bukunya yang ke-67. Buku yang dilabeli “Best Seller” di sampul depannya ini ternyata sudah mencapai cetakan ke-10 pada Desember 2008 lalu sejak terbit pertama kali Desember 2006.

Tak hanya berselera sastra, dokter ini juga menulis dengan selera humor yang sehat. Seperti yang ditulisnya di hlm 80:

“Kata nenek saya, dokter yang bertangan dingin itu yang menulis resepnya sedikit. Semakin panjang resep ditulis, memperlihatkan semakin tinggi ketidakmampuan dokternya.

Maka tanpa perlu takut dibentak, atau disemprot dokter, pasien yang berani bertanya sebetulnya membantu dokter agar lebih ringkas menulis resep, dan cermat memilihkan obat. Siapa tahu dokternya lagi mengantuk, atau ingat pabrik obat merek tertentu, dengan banyak ditanya dokter jadi mulai mengingat kembali pesan gurunya: jangan meracuni tubuh pasien dengan seabrek obat sebab perut pasien bukan apotek…

Siapa tahu obatnya tidak cocok dengan kondisi pasien (kocek maupun tubuhnya). Siapa tahu dokter salah menulis aturan pakai, atau mengeja huruf, sehingga pasien pria diberi pil KB istrinya, atau orang lagi duduk di bis tertiup angin saja gampang tidur malah diresepkan obat tidur. Atau siapa tahu dokter mulai budek mendengar keluhan sehingga sakit perut diresepkan obat ayan.”

Buku ini juga tentunya menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang organ tubuh, makanan, penyakit, obat, dengan bahasa yang sederhana, mudah dicerna dan diingat.

Oh ya, satu lagi. Di hlm 229 dokter ini ternyata masih menyempatkan diri untuk menulis tentang mojang priangan.

“Mojang priangan memperlihatkan kesehatan kulit sejati. Para artis yang menu hariannya tidak tentu (kurang sayur, buah, mineral, dan vitamin), kalah pesona kulitnya dengan mojang yang tinggi aktivitas fisiknya (memetik teh, berkebun, mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri). Selain menu hariannya banyak sayur-mayur mentah (lalapan), dan menghirup udara segar pula. Pancaran pesona kulit mojang-mojang desa berpendar di kulit wajah. Kualitas kulit seperti ini tak tersaingi oleh tebalnya rias wajah paling canggih mana pun. “

Dan akhirnya, seperti yang ditulis dokter ini di hlm Prakata:
“Tujuan utama hidup bukan untuk menambah tua, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia. Untuk itu harus pintar hidup.

Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Pandai-pandailah mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku hidup Anda. Bila bijak membaca buku hidup, kita berharap ada bonus umur di tahun senja kita.

Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.

Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa mengahapus kesedihan dunia dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.

Sehat membuat Anda bisa melakukan segala apa saja yang Anda mau, berapa pun umur Anda. Termasuk untuk tidak lupa menyapa Tuhan.“

(Pandasurya, 4 Agustus 2009)
–Ditulis seiring kabar meninggalnya Mbah Surip—Orang paling bahagia yang pernah hidup di dunia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s