Indonesia atau Endonesia?

(Versi singkat asal-usul nama Indonesia)

indonesia-batik

“Kau tak kenal bangsamu sendiri…”
–Pramoedya Ananta Toer (Anak Semua Bangsa)


Selama 64 tahun menjalani kemerdekaannya, sensus penduduk di negeri ini tak pernah mengungkapkan ada berapa juta orang yang tidak tahu tentang asal-usul nama negeri tempat kelahiran dan kematiannya. Hal ini tak perlu disesali benar. Karena ini memang bukan menyangkut soal perut atau “periuk nasi” banyak orang. Juga tak pernah menjadi garis hidup yang menentukan peta nasib seseorang. Perkara asal-usul nama memang bisa dianggap penting atau sebaliknya, tergantung dari sudut pandang mana orang menilainya.

Negeri ini ada di antara dua samudera, itu kata ilmu bumi atau peta geografi. Tapi negeri ini bermula dari satu nama sungai, itu kata ilmu sejarah. Dari Indusnesos menjadi Indunesia dan akhirnya jadilah Indonesia. Indus adalah nama sebuah sungai di India dan nesos berasal dari bahasa Yunani yang artinya ‘gugusan pulau’ atau ‘kepulauan’. Dengan begitu, nama Indonesia punya arti ‘kepulauan India’. Tak ada yang risih atau repot dengan arti nama ini. Dan orang India pun tak pernah keberatan nama negerinya dicatut jadi nama sebuah bangsa.

Seorang pelaut Portugis yaitu Manoel Godinho de Eredia pernah membuat peta yang di dalamnya tercantum nama Luca-antara atau Nuca-antara untuk kepulauan Malaya. Kurang lebih ada kaitannya dengan kerajaan Majapahit di abad ke-15 yang menamakan daerah kekuasaannya dengan nama Nusantara. Sebelum Majapahit ada Kerajaan Singasari yang menamakannya Dipantara, Nusantara di antara dua benua. Lalu pada abad ke-16 Portugis menguasai Indonesia dan menamakannya India Portugis.


Belanda datang Portugis hengkang. Maka Belanda menamai negeri jajahannya Hindia Belanda atau Nederlandsch Indie. Menurut Pramoedya Ananta Toer, pada abad ke-16 itu dunia Barat mencari rempah-rempah. Dan nama Hindia sendiri sebenarnya adalah nama merk rempah-rempah yang asalnya dari Maluku dan Aceh (Sumatera).

Orang pertama yang mengusulkan nama Indonesia untuk kepulauan Hindia bukanlah orang Indonesia sendiri, melainkan antropolog Inggris yang pernah tinggal di Penang, Malaysia, bernama James Richardson Logan pada tahun 1850. Sebelumnya adalah George Windsor Earl yang menemukan kata itu dengan ejaan Indunesia. Kemudian di tahun 1884 Adolf Bastian, seorang Jerman ahli ilmu bangsa-bangsa, dalam sebuah buku karangannya menyebut nama Indonesia untuk pulau-pulau di antara samudera Hindia dan Pasifik yang memiliki persamaan hukum adat, dan mempopulerkan nama itu.

Lain lagi menurut Bung Karno. Perkataan Indonesia, kata beliau dalam Bung Karno Penjambung Lidah Rakyat Indonesia (1966), berasal dari seorang ahli purbakala bangsa Jerman bernama Jordan yang belajar di negeri Belanda. Karena letak kepulauan ini dekat dengan India, ia namakanlah Kepulauan dari India.

Terlepas dari itu, Bung Karno memaknai Indonesia sebagai langit biru dan terang, mega putih yang lamban, dan udara yang hangat. Katanya, “Saudara-saudaraku yang tercinta, laut yang menderu memukul-mukul ke pantai di cahaya senja bagiku adalah jiwanya Indonesia yang bergerak dalam gemuruhnya gelombang samudra. Bila kudengar anak-anak ketawa, aku mendengar Indonesia. Manakala aku menghirup bunga-bunga, aku menghirup Indonesia. Inilah arti tanah air bagiku.”

Nama Tanah Air

Ternyata perjalanan nama Indonesia sebagai nama tanah air dan nation sebenarnya dimulai ketika tahun 1908 Soetan Casajangan bersama mahasiswa Indonesia yang lain yang sedang belajar di Belanda membentuk organisasi bernama Indische Vereeniging (IV) dan menerbitkan majalah atau buletin dengan nama Hindia Poetra. Mulanya organisasi ini hanya bergiat di bidang sosial dan budaya, bukan politik.

Setelah timbul kesadaran untuk memerdekakan tanah airnya maka para mahasiswa itu menganggap nama IV sudah kolot, kuno dan nama Hindia juga tidak patut. Akhirnya nama Indonesia mulai dipakai sebagai nama organisasi ketika pada 1925 organisasi ini berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) dengan gambar kepala kerbau pada bendera organisasinya. Dan nama buletin organisasi pun berubah menjadi Indonesia Mardika. Sejak itu pula Indonesia Mardika gencar memuat tulisan-tulisan politik.

Menurut para mahasiswa itu, sebutan Nederlandsch Indie mesti menjadi Indonesia dan Inlander menjadi orang Indonesia. Bangsa Indonesia harus menjadi satu dan mesti berpikir dan berasa Indonesia, kata mereka. Sejak saat itu bisa dikatakan nama Indonesia sudah menjadi nama tanah air dan nation. Namun belum dalam bentuk konkret berupa batas wilayah dan seperti apa penduduknya.

Kemudian pada waktu persiapan kemerdekaan barulah ditentukan wilayah dan penduduk Indonesia. Sebenarnya mahasiswa Indonesia yang dulu tergabung dalam PI itu adalah ras Melayu. Ini sesuai dengan maksud Adolf Bastian yang menyebut nama Indonesia untuk wilayah dengan persamaan hukum adat. Artinya, daerah seperti Maluku tidak masuk wilayah Indonesia sedangkan Malaysia dan Singapura bisa masuk Indonesia. Tapi hal ini dibantah oleh kelompok lain yang menyatakan bahwa Indonesia adalah persoalan kesamaan dalam penjajahan, yaitu wilayah bekas Hindia Belanda. Akhirnya kelompok terakhir inilah yang disepakati.

Dengan demikian proses penaman sebuah bangsa memang tidak semudah dan sesederhana seperti memberi nama pada bayi yang baru lahir. Kita tahu, sebuah bangsa lahir lewat pergulatan sejarah yang panjang dan penuh pengorbanan. Bung Hatta juga benar, lahirnya sebuah bangsa selalu sejalan dengan pertumpahan darah dan air mata.

Namun yang sedikit mengherankan tentang nama Indonesia adalah meski nama negeri ini ditulis ‘Indonesia’, dengan huruf ‘I’ di awal, tapi rakyat negeri ini sendiri—tentu tidak seluruhnya–sering mengucapkannya ‘Endonesia’ atau bahkan ‘Endonesa’ dengan huruf ‘E’ di awal. Coba saja ucapkan kata pertama dari lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Tetapi hal yang sama tidak terjadi pada kata ‘Indomie’, ‘Indosat’, atau ‘Indosiar’, misalnya. Indonesia atau Endonesia, kedengarannya memang tipis saja perbedaannya alias beti (beda tipis). Tapi apakah ini sejenis kombinasi dari kecelakaan berbahasa atau keseleo lidah yang tak bertulang hingga berujung pada kebiasaan salah ucap? Entahlah. Mungkin hal ini terlalu sepele untuk dipersoalkan. Sekali lagi, tergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.

Toh hingga tahun kemerdekaan yang ke-64 ini perkara tidak mengetahui asal-usul nama dan kebiasaan salah ucap tidak pernah mengurangi hak seseorang sebagai bangsa dan warga negara Indonesia. Lagi pula, meskipun sampai detik ini masih banyak terjadi hak warga negara yang dikebiri dengan semena-mena, toh rakyat negeri ini tak pernah jera menganggap tanah airnya, seperti bait penutup lagu yang penuh haru itu, “tempat berlindung di hari tua…sampai akhir menutup mata…”

Pandasurya Wijaya (Agustus 2009)

–Penikmat Sejarah

4 thoughts on “Indonesia atau Endonesia?

  1. Nice writing,.. seperti tulisan di buku sejarah yang agak modern (bukan di buku paket sih)
    aduh, gue keduluan. padahal gw udah posting yang baru di blog gw tentang ini kemarin loh..
    dan saya masih cinta Indonesia..

  2. Sebagian masyarakat minahasa percaya bahwa sebutan ‘indonesia’ berasal dari 2 kata ‘endoni’ = ambil/rebut dan ‘sia’ = dia. Sehingga ke dua kata digabung menjadi ‘endonesia’ = rebut dia (dari tangan penjajah) !
    Silahkan di telusuri kebenarannya. Thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s