Jalan Nenek Moyang Di Kota Serba Maklum

(untuk mereka yang tidak tinggal di Jakarta atau kota-kota besar lain di dunia)

“Kalau kau sering berada di jalanan ibukota kau akan tahu dan merasakan bahwa batas antara sinting dan waras hanya setipis benang..”

nenek-moyang

Hampir bisa dibilang, jalanan di ibukota sebenarnya hanya punya satu nama tunggal: jalan nenek moyang. Pernyataan ini memang sama sekali tidak ada hubungannya dan tidak bermaksud menyinggung perasaan sejumlah orang yang masih meyakini bahwa nenek moyang kita adalah orang pelaut (ada juga yang bilang nenek moyang kita adalah petani. Persoalan mana yang benar tentu bukan di sini tempat untuk membahasnya)

Maklum saja, di kota Jakarta ini kenyataan di jalanan misalnya, menunjukkan bahwa setiap orang berusaha dengan segala cara, daya-upaya, keringat, darah dan air mata untuk meraih periuk nasinya masing-masing, mengejar kepentingannya masing-masing. Tak peduli jika cara yang dilakukannya itu melanggar peraturan atau ketertiban umum berlalu-lintas. Bukankah yang namanya perut tak pernah minta diisi dengan peraturan-peraturan?

Demi mengejar kepentingan masing-masing itulah hampir di setiap ruas jalan di ibukota ini ada saja para pengguna jalan yang melanggar peraturan dan berkelakuan seolah-olah jalanan yang dilaluinya adalah jalan nenek moyang. Mengapa disebut “seolah-olah jalan nenek moyang” karena biasanya pengguna jalan yang sudah kesal dan muak dengan kelakuan pengguna jalan lain akan melampiaskan kekesalannya dengan melontarkan sumpah serapah dalam segala bahasa yang artinya kurang lebih “Emangnya ini jalan nenek moyang lu!” Maksudnya tidak lain adalah sekadar memaki, mengumpat atau menggerutu, menggerundel, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi di dalam hati di belakang layar.

Dan terkadang kata-kata makian atau sumpah serapah sebagai ungkapan emosi memang memiliki mantra keunikan yang memberikan kepuasan batin tersendiri. Tidak hanya dalam bahasa Indonesia saja, kata-kata makian dalam bahasa manapun selalu begitu: memberikan efek memuaskan bagi jiwa sang penggunanya. Sisi positifnya ya paling tidak hal itu bisa menjadi semacam terapi kejiwaan bagi mereka yang batinnya kering gersang.

Kata psikolog atau mungkin psikiater, ada kalanya emosi itu sedapat mungkin harus ditahan tapi juga ada saatnya harus dilepaskan karena emosi juga terkadang butuh penyaluran atau pelampiasan. Kalau kata dokter, yang namanya kentut jangan ditahan-tahan, nanti malah jadi penyakit. Kentut memang tidak sama dengan emosi, tapi jika ditahan-tahan akibatnya ternyata bisa sama: jadi penyakit.

Sementara itu mereka yang tidak sampai hati melontarkan kata makian biasanya cukup memberikan isyarat berupa bahasa tubuh. Misalnya, menggeleng-gelengkan kepala atau menghela nafas sambil mengurut dada, atau mungkin ada juga yang menengadahkan kedua tangan sambil mulutnya komat-kamit berdoa, atau yang lebih simple: sekadar mengacungkan jari tengah. Untuk yang terakhir ini mungkin agak sedikit istimewa karena tergolong isyarat yang diimpor langsung dari kebiasaan barat melalui layar kaca.

Dengan sebutan jalan nenek moyang itu maka otomatis konsekuensi logis yang harus terjadi adalah hampir semua ruas jalan nenek moyang di ibukota ini hanya punya satu peraturan istimewa, yaitu “tidak ada peraturan.” Alias semua pengguna jalan bebas berkehendak sekemauan dan seenak perutnya masing-masing, tanpa kecuali, tanpa pandang bulu.

Lalu apakah itu artinya peradaban kita kembali ke zaman batu dan kita masih serupa kaum nomaden yang barbar dan primitif? Pertanyaan yang berkesan serius macam ini mungkin lebih tepat dijawab oleh seorang antropolog. Dan layaknya antropolog ia tentu akan memberikan jawaban berupa analisis kesimpulan berdasarkan catatan sejarah, latar belakang, fakta-fakta atau bukti nyata dan data-data empiris yang tersedia. Jika itu yang terjadi maka tulisan ini bisa berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah kajian ilmiah yang bisa dijadikan bahan skripsi atau tesis mahasiswa jurusan antropologi. Atau paling tidak diseminarkan di forum-forum ilmiah dengan judul tema yang mentereng, misalnya “Kaitan antara Perilaku Pengguna Jalan dan Peradaban Ibukota.”

Fenomena Jalan Nenek Moyang

Pada kenyataannya memang fenomena jalan nenek moyang ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja di ibukota ini. Ambil contoh misalnya acara hajatan kumpul-kumpul sebuah organisasi kemasyarakatan yang digelar persis di badan jalan raya di daerah Jakarta Barat. Dengan pedenya sejumlah panitia organisasi itu memasang tenda lengkap dengan kursi-kursi, meja-meja hidangan, dan satu set peralatan sound system hingga mengambil setengah badan jalan yang jelas-jelas jalan umum lalu-lalang kendaraan.

Sudah dapat dipastikan adegan selanjutnya yang bisa kita saksikan dan bayangkan adalah kendaraan-kendaraan yang melalui jalan itu akan merayap-rayap terjebak kemacetan di hari yang naas dan panas itu akibat setengah badan jalan dikudeta oleh tenda pelengkap penderita itu. Belum lagi sejumlah mobil undangan yang diparkir berderet-deret di pinggir jalan semakin menambah sempurnanya kemacetan di jalan itu. Apa mau dikata, jalan nenek moyang memang.

Contoh lain dari fenomena jalan nenek moyang ini misalnya adanya sejumlah bengkel dekil, kumal di pinggir jalan umum dengan petak kiosnya yang kecil, sempit, dan lusuh. Tentu saja bengkel-bengkel kecil di pinggir jalan semacam ini tak memiliki lahan atau area parkir kendaraan yang memadai. Maka jadilah jika ada kendaraan yang mampir karena memerlukan jasa bengkel itu, baik itu motor, mobil, kopaja, metromini atau truk, kendaraan-kendaraan itu hanya akan menepi alakadarnya. Lagi-lagi menghabiskan setengah badan jalan. Ujung-ujungnya menyempurnakan kemacetan. Maklum, jalan nenek moyang. Ongkos Peradaban.

Belum lagi di ibukota ini marak sekali proyek galian kabel setengah hati yang juga menyita setengah badan jalan. Gali lubang tanpa menutup lubang sudah demikian jamak di kota ini. Ditambah deretan gerobak para pedagang makanan dan minuman semacam gorengan, es cendol, bakso, rujak, gado-gado, mie ayam, dan sebangsanya yang mangkal di pinggir jalan di sekitar mal atau pertokoan plus angkot yang ngetem makin meramaikan padat sesaknya orkestra kemacetan. Atau lihatlah aksi ugal-ugalan metromini atau kopaja yang dengan seenaknya keluar masuk jalur busway tanpa merasa berdosa secuil pun, sangat membahayakan. Boleh jadi malaikatpun mengurut dada. Namanya juga jalan nenek moyang.

Ada pula kasus para pengguna kendaraan yang berputar balik seenaknya melawan arah arus laju kendaraan. Hal ini paling sering dilakukan oleh para pengguna sepeda motor di sejumlah ruas jalan yang bukan jalan protokol. Bahkan ada kalanya para pejalan kaki bisa terserempet, terjerembab, atau terjengkang hingga pantat atau hidung mencium tanah akibat aksi mereka ini. Dan tak perlu aneh juga kalau seringkali kita menyaksikan kelincahan dan gesitnya rombongan kuda besi alias sepeda motor menaiki trotoar untuk mengatasi kemacetan hingga mengambil haknya pedestrian alias pejalan kaki. Nenek moyang kita memang bukan pejalan kaki.

Rangkaian fenomena jalan nenek moyang itu sebenarnya hanya semakin mempertegas dan meyakinkan pernyataan bahwa Jakarta memang adalah sebuah kota “serba maklum.” Maksudnya, ya maklum saja dari mulai warga, pemerintah kota, infrastruktur dan elemen kehidupan lainnya semua saling berpadu, jalin-menjalin, menghadirkan kehidupan kota yang seperti ini adanya. Kehidupan di kota ini memang lebih banyak berjalan seperti apa adanya ketimbang seperti apa seharusnya.

Jadi untuk para pendatang baru di kota serba maklum ini tak usah kaget dan harap maklumi saja jika Anda sedang berada di jalanan tiba-tiba ada makhluk yang tanpa tedeng aling-aling mengacungkan jari tengah sambil berteriak murka, “Emangnya ini jalan nenek moyang lu?!”

Pandasurya,

(Oktober 2008)

2 thoughts on “Jalan Nenek Moyang Di Kota Serba Maklum

  1. Bravo….nda….

    tulisan lo emang keren….

    kalo ngobrol di gudang miring gak kan sedalam ini yah….kangen ngumpul2 lagi ngebahas kondisi negara kita sambil menikmati gorengan ma segelas kopi….

  2. boleh dibilang, sebagai pengguna transportasi umum terbaik di kota ini, yaitu KRL AC, dan jarak tempuh yang pendek dari stasiun ke kantor, membuat saya tidak terlalu bermasalah dengan jalanan di jakarta. tapi, seiring dengan kesibukan yang membuat harus bepergian kemana2 k pinggiran jakarta. terkadang mengelus dada aja.
    nah, kl nyetir sendiri barulah serapah kadang2 muncul..
    yang disebelin di jalan tuh, motor!! mestinya honda nurunin produksinya.
    vote!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s