Menciptakan Dialog dalam Tulisan

Oleh Putu Wijaya

Sebuah tulisan yang baik selalu tersusun dalam struktur. Ada awal, isi, dan kesimpulan. Ada introduksi, analisa dan akhirnya opini. Secara umum bentuknya menjadi awal, isi, dan akhir. Tetapi sudah lama ada berbagai terobosan yang mengacak urutan, sehingga kesimpulan bisa ditempatkan di awal, kemudian mundur perlahan-lahan memberikan introduksi dan kemudian analisa. Itu membuat tulisan menjadi dinamis. Namun tak tercegah juga kadang bisa malahan ruwet.

 

Struktur tulisan sudah beragam dan tidak bisa dibandingkan untuk mencari yang terbaik. Materi tulisan, format tulisan, karakter penulis, bahkan setting ke mana dan kepada siapa serta dalam situasi bagaimana tulisan itu dilahirkan, memberi andil terhadap struktur mana yang kemudian dipilih. Karena struktur pada akhirnya adalah bagian dari strategi, untuk membuat tulisan tersebut lebih berbicara kepada pembacanya.

 

Strategi sendiri adalah bagian dari teknik penulisan. Teknik penulisan menentukan wujud dan karakter dari isi pikiran yang hendak disampaikan. Ia bukan hanya struktur, ia juga mengandung pertimbangan psikologis yang memberikan emosi pada tulisan, sehingga tulisan menjadi hidup.

 

Sebuah tulisan yang hidup, adalah sebuah tulisan yang tidak hanya merupakan monolog penulis, tetapi juga menyiapkan ruang-ruang, yang memungkinkan terjadinya dialog dengan pemabca. Tidak benar bahwa sebuah tulisan adalah komunikasi satu arah. Karena dengan teknik yang tentunya didasari oleh niat penulisnya, dapat dirakit sedemikian rupa, sehingga sebuah tulisan yang pada dasarnya monolog, menjadi sebuah kesempatan berdialog. Untuk itu ada beberapa upaya.

 

Dialog dimungkinkan dalam sebuah tulisan dengan mengikutsertakan pikiran-pikiran orang lain, baik yang sepaham maupun yang berbeda atau bertentangan dengan penulis. Pikiran-pikiran itu tentu saja disertakan dengan berbagai pertimbangan. Antara lain pertimbangan bahwa dia kemungkinan besar dapat mewakili atau menampung suara pembaca. Dan kalau materinya sedemikian rupa sehingga diprediksi suara pembaca juga bisa beragam, sehingga tulisan menjadi semarak dengan berbagai pikiran, tak ubahnya seperti sebuah seminar yang demokratis.

 

Seringkali pikiran-pikiran lain tersebut dituntut dan diburu-buru kehadirannya, untuk memberikan lawan cakap/sparring partner bagi pikiran kita. Karena itu akan merupakan ujian pertama dan sebaiknya juga bisa menjadi ujian terakhir bagi pikiran itu sendiri. Karena kalau ia sampai gugur bahkan nampak lemah, ia dengan sendirinya tak layak dikemukakan kepada orang lain. Lawan-lawan rembuk tersebut akan menjadi lebih bagus kalau begitu menentang, licik, lihai dan kuat. Bahkan kalau ia mampu nyaris menghancurkan suara-suara yang hendak kita sampaikan kepada pembaca, itu akan membuat tulisan kita menjadi semakin solid, massif dan monumental. Bahkan seandainya pun kita kalah dan berhasil menyerah dengan jujur, pikiran-pikiran kita tetap akan merupakan tontonan tersendiri. Karena kejujuran adalah pesona yang luar biasa.

 

Tetapi tidak gampang untuk menampilkan kejujuran. Karena kalau sedikit saja ada pretensi, pembaca akan menciumnya dan itu sudah cukup untuk membatalkan kejujuran tersebut. Kejujuran berarti menelanjangi diri sendiri habis-habisan. Kalau masih ada yang ditutup-tutupi kejujuran itu akan kehilangan tenaganya. Karenanya yang pertama harus diselesaikan untuk bias tampil jujur adalah mengalahkan diri sendiri. Hanya dengan kepasrahan yang tulus seluruh kalimat menjadi suci dan apa pun yang dikatakan akan menjadi bersinar. Segala kekurangan, ketidaksempurnaan bahkan kekalahan dan kesalahan pun menjadi punya kelebihan tersendiri.

 

Seorang penulis yang sudah terlatih, yang memiliki wawasan yang luas dan jujur, tidak akan terganggu oleh pikiran-pikiran orang lain yang ditaburnya dalam tulisannya. Ia bahkan dapat membuat itu menjadi orkes simphoni yang indah untuk lebih menonjolkan pikiran-pikirannya.

 

Seorang penulis yang berpengalaman dan memiliki wawasan, sudah akan dapat menangkap suara pembaca dari setiap baris yang ditulisnya. Bahkan ia sudah akan dapat mendengar pertanyaan-pertanyanm bantahan atau persetujuan dari pembaca. Dengan pengetahuan yang mendahului terhadap reaksi pembaca atas tulisan yang sedang digarapnya, ia akan melakukan dua hal sekaligus. Sambil menuliskan pikiran-pikirannya, ia juga tak akan melupakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca. Setidak-tidaknya kemungkinan pertanyaan pembaca. Akibatnya, ia akan menakar sedemikian rupa setiap uraiannya, khususnya pada bagian-bagian kesimpulan dan opini, sehingga akhirnya dengan berbagai cara, punya kemungkinan besar untuk diterima baik pembaca yang berbeda pendapat.

 

Menulis dengan demikian tidak sama dengan orang ngoceh. Menulis adalah membangun opini orang dengan cara memamerkan opini kita. Tetapi opini tidak mungkin diserakkan begitu saja, tanpa memberikan latar belakang. Sebuah tulisan yang baik selalu juga berarti serangkaian informasi. Dengan menjelaskan setting masalah secara jelas, seorang penulis berarti menyediakan kesempatan pada pembaca untuk bertanya dan mendebat. Kendati pada akhirnya, tulisan akan diakhiri dengan kesimpulan dan opini dari penulis, karena tulisan melangkah sambil menjawab, kesimpulannya akan cenderung sulit dibantah. Ini yang membuat tulisan yang bagaimanapun tajamnya tidak akan terasa menyerang. Bahkan pembaca akan menghormatinya sebagai alternatif berpikir.

Bersambung ke.. Posisi Gaya, Akhir yang Mengambang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s