Menulis Adalah Melihat Ke Luar Jendela

oleh Seno Gumira Ajidarmacloud_window1

Menulis adalah proses memindahkan
apa pun yang menarik bagi penulisnya
ke sebuah tulisan.
Apa yang disebut “yang menarik”
bisa saja “sangat tidak menarik”,
pembunuhan misalnya, atau sensus penduduk.
Tapi jika seseorang menulis sesuatu,
justru apalagi dengan terpaksa,
pastilah karena ada sesuatu yang apa boleh buat
akhirnya dipertimbangkan dan diputuskan
sebagai sesuatu yang dianggap penting.

Menarik, penting, dan sebagainya,
adalah sesuatu yang
dilihat, didengar, dirasa, dan dipikirkan,
tak perlu dipilah lagi,
bagaimana yang dirasa,
bagaimana yang dipikir,
segalanya dialami sebagai totalitas–
seperti hidup,
kita tidak berpikir lagi,
“wah, saya sedang bernapas nih,”
atau
“wah, jantung saya sedang berdetak nih,”
:kita hanya hidup saja.

Kita hanya bisa menulis karena kita ini hidup.
Kehidupan adalah jendela penulisan.

Tubuh kita adalah sebuah ruang
yang jendelanya tertutup dan gelap
bila kita tidak-hidup
(atau hidup tapi cuma bengong).
Jendela itu akan terbuka, dan kita akan
melihat mendengar merasakan
memikirkan merenungkan
apa saja
bila hidup itu kita sadari–
penulisan adalah suatu bentuk kesadaran.
Bahwa kesadaran itu tidak bisa penuh,
dan bawah-sadar berperan,
itu soal nanti,
yang penting:
sesederhana melihat lewat jendela.

Jarak antara hidup dan tidak-hidup,
ternyata hanya seperti mengedipkan mata.
Menutup mata, gelap
membuka mata, terang.
Tapi perbedaan hidup dan tidak-hidup itu
begitu besar,
sehingga daun yang melayang
menjadi sangat besar artinya
jika disadari
pemandangan itu tidak akan pernah kita saksikan
jika kita belum pernah hidup.
Kesadaran semacam ini membuat daun
yang melayang ditiup angin
dan berguling-guling
dan terseret-seret di jalanan
dan akhirnya terpojok
menguning
dan mengering
di sudut yang sepi itu
tanpa satu makhluk pun memedulikannya
menjadi sesuatu yang menarik
Ternyata
pengalaman sehelai daun pun
merupakan sejarah yang dramatis.
Manusia yang sadar, menyadarinya.
Seorang penulis, menuliskannya.

Orang yang matanya tertutup dan telinganya buntet,
melihat daun tapi seperti tidak melihat daun,
mendengar suara jeritan
tapi seperti tidak mendengar suara jeritan,
dan tak akan pernah bisa
menjadi penulis dari hati yang terdalam,
otak terjernih, dan jiwa yang lapang.

Mereka yang ingin menulis,
selama ia bukan tidak-hidup,
tinggal melihat apa yang dilihatnya,
mendengar apa yang didengarkannnya,
lantas menuliskannya.

Tidak terlalu keliru jika dikatakan
betapa menulis itu gampang.
Yang tidak terlalu gampang adalah
mempunyai sikap seorang penulils
yang selalu melihat,
selalu mendengar,
selalu merasakan,
selalu memikirkan–
untuk dituliskan:
sampai semua itu lebur
menjadi jalan hidupnya.
Sama seperti kita hidup,
kita tidak berpikir, “wah, saya sedang hidup nih.”

Seseorang yang ingin menjadi penulis yang baik
tinggal melihat lewat jendela kehidupannya
dengan baik-baik,
lantas menuliskan apa pun
yang dianggapnya menarik atau tidak-menarik,
dengan cara yang menarik maupun tidak-menarik
Keduanya menyumbang,
keduanya mendapat tempat.

(“Menulis adalah Melihat ke Luar Jendela”, dibacakan dalam diskusi Kelas Penulisan, Fakultas Psikologi UniversitasIndonesia, 1 Oktober1999, “Ketika Jurmalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara” h. 223-227)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s