Jalan Seorang Penulis

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Seorang penulis mempertaruhkan hidupnya untuk setiap kata terbaik yang bisa dicapainya. Ia menghayati setiap detik dan setiap inci dari gerak hidupnya, demi gagasan yang hanya mungkin dilahirkan oleh momentum yang dialaminya. Menulis adalah suatu momentum. Tulisan yang dilahirkan satu detik ke belakang atau satu detik ke depan akan lain hasilnya, karena memang ada seribu satu faktor yang sebenarnya misterius dalam kelahiran sebuah tulisan.

Meskipun begitu, momentum penulisan bukanlah wahyu. Momentum penulisan selalu mempunyai sumbu sejarah ke masa silam dalam pengertian yang paling absolut. Tentu, kita tak kan pernah tahu persis biang kerok macam apakah yang nangkring di serat-serat dalam sumbu sejarah itu. Namun barangkali saja kita percaya, betapa setiap titik yang terkecil dalam garis perjalanan roh kita, sejak masa entah kapan menuju suatu ruang di masa depan, memberikan sumbangannya masing-masing dalam momentum penulisan. Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.

Kemudian, yang paling penting bagi seorang penulis, adalah bagaimana ia bisa setia kepada sungai kehidupan yang menghanyutkannya. Kadang-kadang saya membayangkan, kehidupan seorang penulis itu seperti seorang pengembara yang diarungkan perahu melewati gua-gua dunia fantasi dalam sebuah sungai di bawah tanah. Cuma saja, apa yang disebut fantasi ini sangat boleh jadi bukan fantasi sama sekali. Bisa fantasi bisa tidak. Tepatnya fantasi atau bukan fantasi, hal itu sudah tidak penting lagi. Masalahnya, kita bisa setia atau tidak kepada realitas apa pun yang kita lewati. Kalau kita penulis maka kita akan menuliskan apa pun yang menyentuh diri kita.

Sehingga memang tidak ada yang terlalu istimewa dengan menjadi seorang penulis. Dengan segenap disiplin yang telah menyatu dalam darahnya, ia menulis seperti bernapas, sama seperti seorang pembalap harus melaju di sirkuit, sama seperti seorang prajurit harus terjun dalam pertempuran, meskipun risikonya kematian, karena itu semua memang merupakan tugas yang diberikan oleh alam. Adapun tugas seorang penulis adalah menulis dengan jujur—meskipun risikonya adalah juga kematian, pada saat yang diperlukan.

Dengan begitu, menulis sebenarnya tidak lebih rendah dan tidak lebih mulia dari bidang tugas apa pun yang bisa dipilihkan untuk manusia. Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.

Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan jujur dan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.

(Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra harus Bicara, Edisi kedua h. 128-131. “Jalan Seorang Penulis” dibacakan dalam rangka Hari Chairil Anwar, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 28 April 1997)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s