Puing

Oleh HASIF AMINI

 

BERKALI-kali neraka jahanam coba dibikin di muka Bumi. Dalam pelbagai wujud dan ukuran. Dengan beragam instrumen dan alasan. Di Siberia, Auschwitz, Hiroshima, Indocina, Indonesia, eks-Yugoslavia, Rwanda, dan seterusnya. Kekejian dan keberingasan seakan memilih tempat sembunyi paling gelap dalam jiwa manusia atau bangunan kekuasaan yang dihuninya, dan menyeradak keluar di saat yang tak terduga, dengan cara yang sering tak masuk akal. Teror memang sering tak masuk akal, membingungkan, bahkan mencengangkan. Sebab, tiba-tiba nyawa jadi teramat murah, maut terlalu mudah. Simbah anyir darah mengental menghi- tam, daging lelaki-perempuan terpanggang, mayat-mayat membusuk renyuk bertindihan, puntung-puntung anggota tubuh berceceran.

 

Dari hari ke hari, dari negeri ke negeri, dunia terasa sebagai tempat yang makin tua, makin mengerikan dan menyedihkan; berpusing antara terang-gelap, panas- dingin, busung-lapar, keluasan borok dan ketebalan asap. Di dunia yang tampak ruwet dan parah, yang timpang tapi suka berlagak necis ini, ternyata puisi tetap ditulis dan dibaca-entah hanya membarahkan atau mengeringkan luka-luka.

Namun, puisi bukan sekadar kekenesan, atau kecengengan, di sebuah dunia yang sering mengecewakan. Meski ia tak perlu juga menganggap diri sejenis nubuat atau obat sapu jagat. Jika panggilannya lantang menggarang, mungkin itulah gema gemuruh dari sumur tambang menggelegak. Jika rayuannya lirih meragu, barangkali itulah embun jatuh dari pelupuk matahari.

 

Puisi, tenaga rahasia kata yang bangkit dari susunan gambar-bunyi dan latar sunyi, yang merangkum makna atau melampauinya, adalah tilas dan proses yang memang punya sukacita dan kepedihan tersendiri. Ia tak bisa diharapkan datang dari hiruk-pikuk atau kalang-kabut yang umum. Atau dari amarah yang menggembung jadi monster, yang cuma mengenal gerah dan gatalnya sendiri. Puisi: setrum yang memercik dari pergesekan huruf hidup dan mati, puting beliung yang menggila dari bukit dan lembah sepi, kelopak-kelopak majas yang mekar dari dada dan kepala yang merindu yang mencari.

Mula-mula tentulah puisi hidup dari rangkaian matra bunyi kata-kata, yang mengundang citra-citra. Citraan mengembang, mungkin meledak, menjelma musik dari yang indah hingga yang ganjil, bergerak jadi sebentuk mabuk yang meriah, aduh yang terpendam, sakit yang rawan. Jalinan ekspresi yang kadang begitu genting, tetapi kadang seperti tanpa tujuan selain berusaha merengkuh hantu-hantu makna yang membayanginya, demi akhirnya menari bersama.

 

Mungkin itulah takdir dan kutuk kita. Sebab, setiap jiwa-dalam ungkapan Stephane Mallarme-adalah “sebuhul irama”. Tak pelak, di hadapan pemandangan yang menggetarkan, pengalaman yang mendahsyatkan, buhul itu bisa tercekau, tersandera, terburai, mengurai dan merangkai sekian rupa dan rasa, gerak dan nada, ingatan dan lupa, melahirkan kembali sejuta tata atau nikmat-gila yang tak terduga. Dari sana, siapa tahu bisa kita kenali nama-nama asli segala yang ada; atau, cukuplah bahwa kita masuki hidup hingga ke denyut, desir, dan lekuk-liuknya.

 

Akan tetapi, memang kian tak gampang, puisi dan penyairnya, menyatakan diri. Di satu sisi, ia dirundung kecemasan sekadar mengulang-ulang; di sisi lain, ia dikepung kebanalan. Hanya sebentuk cinta yang berat, namun bersahaja, atau mungkin “iman” yang sulit dijelaskan, yang terus menjaganya. Atau entah apa.

 

Dalam sebuah sajaknya, yang dipersembahkan kepada penyair Wallace Stevens, Archibald MacLeish pernah terdengar gamang bertanya: Mengapa kita berjerih dengan puisi, dari masa ke masa, bahkan di masa seperti ini, ketika “makna pun tak bermakna lagi”? Menyitir Hoelderlin, ia mengeluh tentang dunia yang kehilangan kedalaman. Tetapi, kemudian ia seperti insaf betapa puisi, “monumen yang goyah, yang menjanjikan keabadian” itu memang tak terelakkan-selama manusia, kalaupun dalam sekarat, masih sanggup mengeraskan “garam laut yang larut” pada “batuan, pohonan hening, dengan cecabang bergeming”.

 

Maka, “Mengapa jadi penyair? Mengapa jadi manusia!”-seakan si penyair ragu dan mantap sekaligus. Ya: pada akhirnya puisi-puisi hadir di antara sekian banyak benda dan kerja di dunia, mungkin tak amat luar biasa, mungkin menyisip saja, meski bukan mustahil sekali waktu ia bergerak ke muka, ke sisi, ke dalam, menghadirkan kemungkinan-kemungkinan lain bagi kehidupan.

 

Hari ini, di tengah derau runtuhan yang mengiang dari seratus mata angin, gaung itu tiba kembali, seperti sepi: “Mengapa jadi penyair? …”

 

 

(Hasif Amini)

Sumber : Bentara, Kompas,01 11 02

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s