Life Is Not About Choices…

Life is all about choices, kata orang. Selama beberapa lama saya percaya teori itu sampai suatu malam sebuah kejadian mengubah segalanya…

Suatu kali di tengah malam buta dini hari saya pernah berdiri di antara kerumunan warga yang menyaksikan tontonan gratis peristiwa kebakaran. Kejadiannya tidak jauh-jauh dari tempat saya tinggal.

Di tengah kobaran api dan asap pekat yang membubung bergulung-gulung, beberapa personil pemadam kebakaran berjibaku melawan panas dan ganasnya api yang menjilat beberapa gedung di dekat tempat saya tinggal. Dengan hanya menggunakan “senjata” sederhana berupa semprotan air dari selang panjang yang besar mereka berjuang memadamkan kobaran api dibantu sejumlah warga yang juga menyiramkan air dari ember.

Di malam pekat itu, di tengah warga yang menonton dengan cemas, saya berdiri takjub menyaksikan pemandangan di seberang jalan itu. Dan entah bagaimana tiba-tiba terlintas tanya di kepala: benarkah hidup adalah pilihan?

Mungkin sudah ratusan atau ribuan kali saya mendengar, membaca, orang yang mengatakan bahwa hidup adalah pilihan. Dari sejak kita bangun pagi, sarapan, ke kamar mandi, berangkat beraktivitas hingga akhirnya tidur lagi, semuanya merupakan rangkaian hasil pilihan kita. Pakaian yang kita kenakan hari ini, misalnya, adalah hasil keputusan kita sehabis mandi tadi pagi. Untuk hal-hal semacam ini rasanya kita setuju bahwa hidup adalah pilihan.

Tapi di malam buta dini hari itu, di hadapan para personil pemadam kebakaran yang berjuang hidup mati, rasanya teori “hidup adalah pilihan” tidak berlaku lagi. Maksud saya, benarkah mereka yang tengah berjuang memadamkan api itu memang memilih profesi sebagai pemadam kebakaran? Atau dalam kasus lain, benarkah profesi seorang dokter adalah sebuah pilihan murni? Benarkah seseorang menjadi dokter karena ia memang memilih ingin menjadi dokter? Tidakkah ada pengaruh lingkungan atau keadaan yang “mengharuskan/memaksanya” menjadi seorang dokter?

Dengan kata lain, benarkah mereka yang menjadi seorang penjaga pintu kereta api, penggali kubur, joki 3 in 1 atau bahkan tukang copet, benar-benar memilih “profesi” yang mereka jalani itu? Ataukah keadaan yang “memaksa” mereka menjalani “profesi” itu?

Bagi sebagian orang pertanyaan “iseng” tapi serius itu terlalu rumit dan tidak penting untuk dijawab. Tapi setidaknya, bagi saya, teori bahwa “hidup adalah pilihan” ternyata bisa goyah ketika dibenturkan dengan kenyataan. Teori itu ternyata tidak selalu berlaku dalam setiap kondisi.

Maka mulai malam itu, dari kejadian kebakaran itu, saya belajar satu hal penting bahwa hidup ternyata bukan hanya soal pilihan, tapi juga soal berbagi peran dan menghargai peran masing-masing.

Dari kejadian kebakaran itu kita bisa paham bahwa ternyata memang harus ada orang-orang yang bertugas/berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Harus ada orang-orang yang melakukan profesi itu. Harus ada orang yang berperan sebagai dokter, polisi, atau penjaga pintu kereta api karena orang lain membutuhkan mereka, bukan hanya karena mereka memang memilih profesi-profesi itu.

Pandasurya

Desember 2007

3 thoughts on “Life Is Not About Choices…

  1. Bersyukurlah jika kita masih mempunyai banyak pilihan dalam menentukan hidup sehingga mungkin kita bisa mengarahkan hidup model apa yang ingin kita jalani. Terkadang keadaan bisa membuat kita tidak bisa memilih pilihan yang menjadi impian kita….
    Lalu …. apa hidup yang sekarang ini kita jalani memang sudah menjadi pilihan kita atau masih ada pilihan lain ????

  2. yup….

    gw setuju dengan tulisan ini. Mengena bgt karena based on apa yg gw alami sekarang. Andai hidup adalah sebuah pilihan, semua orang akan memilih menjadi orang baik. Alhasil di dunia ini tidak akan balence lagi. Jadi baik atau jahat memang pilihan tetapi tidak dipungkiri ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

    Manusia hidup hanya sekali, untuk itu mereka harus mau belajar dan belajar. Setiap pembelajaran hidup tidak semuanya berjalan sesui kehendak kita. kita bakalan jadi lebih kuat dari sebelumnya. Atau untuk menghindarkan kita dari kesalahan yang sama atau kalau pun mengalami hal yang sama kita sudah tau cari menghadapi permasalahan tsb.

    Permasalahan dalam hidup memang kompleks, so mmg ada hal yg bisa kita tentukan dengan sederhana dan ada hal yg mmg tidak bisa kita pilih karena itu adalah takdir kita.

    Dan kalo sudah takdir, mau tidak mau kita harus bisa menerimanya dan itu sangat susah. Butuh proses…..

    Coal doesnt change its color when you wash it
    what cant be cured must be endured
    (Dominique Lapierre, City of Joy , p. 6)

    Arang tidak akan berubah warna walaupun dicuci
    apa yang tidak bisa disembuhkan harus ditahankan
    (Negeri Bahagia , h. 7)

    Tq ya Panda atas artikel2 dan hasil karya lo yang di email ke gw. Setidaknya bisa menjadi bahan gw untuk berpikir, merenung dan bisa menemukan solusi apa yg sedang gw hadapi ini.

    Ikhlas dalam menjalani hidup adalah kuncinya……

    Tp gw belum bisa mengaplikasikannya tp waktu akan menyembuhkan luka gw ini ….

    Tq ya prend🙂

  3. gw tetep percaya hidup adalah pilihan, namun kadang kita akan dihadapkan pada pilihan yang tersamar hingga terkesan tak ada pilihan (?)…..untuk itulah kita butuh Dia, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s