Mari Bung Bisnis Kembali !

Julukan zaman baheula yang mengatakan Bandung sebagai kota kembang sudah sepantasnya punah jadi riwayat basi, tinggal kenangan sepi. Termasuk pula sebutan mentereng Parijs Van Java. Alih-alih berdecak kagum, orang akan bertanya bingung, “Paris apanya? Paris ti Hongkong?” Kini kedua julukan yang sempat membesarkan nama Bandung itu memang sudah sangat lain dari kenyataan. Jauh panggang dari api, kata orang. Dan fakta-faktanya memang menunjukkan demikian. Semua warga Bandung pun sudah mengerti dan maklum dengan keadaan kotanya sekarang ini. Soal merelakan atau tidak, silakan dijawab masing-masing dalam hati.


Sekarang orang lebih kenal Bandung sebagai kota jasa sekaligus kota bisnis. Terutama setelah Bapak Pembangunan lengser ke prabon, mulailah di mana-mana orang berbisnis di kota ini. Dari pinggir jalan sampai ke pelosok gang kumuh nan sempit. Dari kelas jalan Dago sampai gang kelinci. Bedanya, yang di pinggir jalan kebanyakan menyebut usaha bisnisnya dengan nama factory outlet, mal, restoran atau kakilima. Sedangkan yang di gang-gang sempit harus puas menyebut usahanya sebagai kios, warung atau gerobak dorong. Karena adanya perbedaan kelas itu pula harga tanah di jalan Dago yang “super seksi” itu dihargai 10 juta per meter persegi (Kompas 25/03/2006). Di sisi lain ada juga yang bisnisnya door to door atau sekadar lewat jaringan mulut ke mulut.

Untuk menandai riuhnya aktivitas bisnis di kota ini, pemasangan reklame dan bentangan spanduk pariwara pun jadi pilihan. Jalan-jalan yang masuk kategori “seksi” tak mungkin luput dari reklame-reklame berukuran besar. Semuanya saling bersaing, berebut jadi primadona perhatian. Dengan mata telanjang orang bisa menyaksikan bagaimana dunia bisnis menghalalkan “perang reklame” di jalanan.

Yang berbisnis di kota ini memang tidak melulu orang Bandung asli. Banyak juga dari luar Bandung, luar Jawa, bahkan luar negeri. Kecuali ada semacam “travel warning” dari yang punya kuasa, para pelaku bisnis sebenarnya tidak mengenal batas geografi. Bukankah dalam pelajaran sejarah di SD dulu diceritakan tentang para pedagang Cina yang berkelana menempuh luasnya samudera?

Seiring pertambahan cacah jiwa maka ramailah Bandung karena orang luar berbondong-bondong datang seperti banjir bandang. Kini ada 2,6 juta orang yang memadati kota ini. Dan ajaibnya, hanya dalam hitungan jam, penduduk kota ini bisa bertambah menjadi 3,5 juta orang pada siang hari (Kompas 23/09/2005). Hal ini terjadi karena Bandung, seperti halnya Jakarta, telah menjadi magnet bagi kota-kota kecil di sekitarnya.

Selain ramainya penghuni hotel di akhir pekan, contoh kepadatan yang mudah ditemui adalah riuhnya pasar dadakan di Lapangan Gasibu setiap hari Minggu. Di sini semua tumplek blek dari anak, bapak, ibu, kakek, nenek, sampai sepupu. Apa yang mereka cari hampir semuanya ada di sini. Dari atribut preman sampai atribut eksekutif muda yang metroseksual. Singkat kata, dari peniti sampai mobil. Semua digelar oleh 5.000 lebih pedagang kakilima yang mangkal (Kompas 20/03/2006).

Kehadiran pasar kaget ini bisa dianggap lahan alternatif bagi para pedagang di pasar-pasar tradisional yang mulai tergusur jadi “tumbal” karena munculnya pasar-pasar modern. Apa boleh buat, mungkin inilah yang disebut bagian dari seleksi alam: yang kuat yang bertahan. Orang yang mengaku paham globalisasi dengan segala macam isme-ismenya, tentu mengira dirinya tahu siapa yang dimaksud pihak “yang kuat” di sini. Tapi mungkin saja yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya. Ini cuma soal siapa menilai siapa.

Bicara soal pasar modern, kalau tak ada aral melintang, tahun 2006 ini akan dibuka lagi 10 mal baru di kota Bandung. Menambah 18 mal yang sudah ada. Jadi total-jendral bin jumlah-jamleh akan ada 28 mal di kota ini (Kompas 15/03/2006). Semua ini disediakan “yang kuat” untuk memenuhi kebutuhan warga Bandung yang nafsu konsumtifnya memang hanya berbatas langit. Ditambah lagi sudah bercokolnya 8 gedung apartemen yang menjulang tinggi menandai dunia bisnis properti yang kian berkibar di kota ini.

Dengan Bandung yang kian ramai oleh lalu-lintas-bisnis wajar jika kemacetan jadi “acara wajib” di jalanan. Berapa harga yang harus dibayar untuk “membeli” kemacetan ini? Tak kurang dari 1,5 miliar rupiah menguap sia-sia setiap hari karena kemacetan di kota ini (Kompas 24/09/05). Menghilangkan kemacetan di Bandung rupanya sudah sama mustahilnya dengan membayangkan ada kuda zebra totol-totol.

Panjang jalan di Bandung yang hanya lebih-kurang 1.100 km tak sepadan dengan hilir-mudiknya 7.000 kendaraan pada hari biasa. Dan pada akhir pekan jumlah itu bisa meningkat lima kali lipat menjadi 35.000 kendaraan (Kompas 03/03/2006). Bahkan libur panjang 30 Maret – 2 April kemarin diperkirakan ada 50.000 kendaraan berjubel di kota ini. Boleh jadi hal ini bisa dipatenkan dalam rekor MURI sebagai kategori kota dengan peningkatan jumlah kendaraan paling pesat.

Sebagaimana hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat, kondisi Bandung yang seperti sekarang ini tentu menuntut pengorbanan atau ada yang dikorbankan. Dan tanda-tanda itu sudah muncul. Tergusurnya nasib para pedagang di pasar tradisonal hanyalah satu aspek. Yang lain sudah lebih dulu: polusi kadar timbal, tumpukan sampah, menurunnya ketersediaan air dan penyakit sosial lainnya. Pada akhirnya pengorbanan itu ternyata harga yang terlalu mahal untuk kita bayar. Bahkan mungkin terlalu mahal untuk seluruh peradaban.

Apa pun yang terjadi, toh tak bisa disangkal lagi bahwa aktivitas berbisnis sudah sedemikian mendarah daging di segala aspek kehidupan kota Bandung. Dan kenyataan ini seolah hendak menyesuaikan diri dengan lirik lagu penggugah semangat yang kondang itu, maka kota ini:

Sekarang telah menjadi lautan bisnis

Mari bung bisnis kembali!

Bandung, 02 April 2006

Pandasurya

Warga Kota Bandung

2 thoughts on “Mari Bung Bisnis Kembali !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s