DataFaktaLegenda


Ada pernah masanya ketika kita berpikir bahwa data, fakta dan legenda dari sebuah berita bisa jadi alat kepentingan atau sebentuk cerita tipuan mata. Dan belum lama ini kita membaca beritanya di koran hari itu dengan sepenuh kesadaran dan kemurahan hati yang terbatas. Mungkin berita yang kurang lebih sama rasanya dengan kue surabi yang basi :


Dalam 10 tahun terakhir ini telah terjadi pemusatan kekayaan di tangan segelintir orang. Tiga orang paling tajir di muka bumi, salah satunya Bill Gates, punya penghasilan jauh lebih besar dari jumlah pendapatan 48 negara miskin digabung jadi satu. Dan si Bill Gates ini –dedengkot Microsoft yang tampangnya mirip baby face pakai kacamata itu dan namanya juga sering nongol di lembar ucapan terimakasih skripsi mahasiswa– sejak Maret 1986 punya penghasilan 95 dolar AS perdetik! Sementara Laporan Pembangunan Manusia (HDR) PBB 2003 melaporkan, 1,2 miliar penduduk planet ini atau satu dari lima penduduk bumi hidup dengan kurang dari 1 dollar AS sehari. Dan setiap hari 779 juta penduduk di negara miskin (sekitar 18% dari penduduk dunia), menderita kelaparan. Separuh dari jumlah ini berada di Asia Selatan dan Afrika subsahara.

Entah lucu atau tidak, di tahun 1986 ketika sebagian dari kita masih bocah ingusan di kampung, main layangan pakai celana kolor, main kelereng, atau yang perempuan main boneka-bonekaan, congklak, lompat tali, atau bola bekel, ternyata di belahan bumi sana ada orang yang sudah punya penghasilan 95 dollar AS perdetik! Sekali lagi, 95 dollar AS perdetik, bung!

Tapi ini memang berita alias fakta, bukan mimpi bukan hayalan apalagi gosip murahan ala infotainment! ; ini kenyatan. Dan berita itu belum lagi selesai kita baca. Dalam waktu 4 tahun saja dari 1994 sampai 1998 ada 200 orang paling kaya di planet ini punya kekayaan bersih yang meningkat dari 440 milyar dollar AS jadi 1 triliyun dollar AS! Padahal 4% saja dari harta mereka bila disumbangkan bisa mengurangi kemiskinan di seluruh dunia. Sementara tiap tahun 2 juta orang meninggal karena malaria sedangkan dana yang diperlukan untuk pencegahan hanya sekitar 4 milyar dollar AS.

Berita yang bikin hati kecut itu masih terus mengalir. Dan kita juga masih suka menonton kartun Disney kan? Yang belakangan ini Finding Nemo nama judul filmnya. Tapi faktanya adalah :

Gaji CEO (Chief Executive Officer) Disney Michael Fisher ternyata sama dengan upah 100.000 buruh Haiti yang bikin boneka & aksesori Disney. Sedangkan pendapatan si Fisher ini sehari setara dengan upah satu orang buruh selama 166 tahun. Yup, 166 tahun saja! Setali tiga uang, para CEO di Amerika Serikat menerima gaji lebih dari 400 kali gaji karyawan level terendah.

Sementara HDR PBB tahun 1999 mencatat, saat ini diperkirakan 840 juta orang di dunia menderita kekurangan gizi, termasuk di dalamnya satu dari empat anak di dunia, dan satu dari delapan orang di planet ini adalah pengangguran. Masih di tahun 1999, warga AS menghabiskan 8 milyar dollar AS untuk belanja kosmetik. Di tahun yang sama, PBB tidak bisa memperoleh 9 milyar dollar untuk membangun fasilitas paling sederhana bagi seluruh penduduk dunia yang selama ini tak pernah punya akses pada air minum bersih. Saat ini satu dari lima penduduk bumi tidak menikmati fasilitas air bersih dan 2,4 milyar penduduk atau satu dari hampir tiga orang di dunia tidak dapat menikmati sanitasi yang memadai.

Ironis memang. Apa boleh buat, dunia akhirnya cuma punya dua warna tegas yang dibatasi garis hayal: si miskin dan si kaya. “Ada orang kaya ada juga orang miskin “, syair lagu Project Pop yang sempat kondang itu boleh berkibar karena dapat pembenaran. Tapi ini bukan lagi soal kaya atau miskin (yang dalam batas-batas tertentu mungkin masih bisa ditolerir atau dimaklumi sebagai bagian dari “hukum alam”). Ini soal “yang kaya makin kaya” dan “yang miskin makin miskin”. Ini sudah masuk kategori “penghisap” dan “yang dihisap”.

Sebenarnya siapa orang-orang yang dengan dollarnya itu bisa sampai “mengatur seisi dunia”? Mereka itu ternyata tidak lebih dari 200.000 spekulan duit di lantai-lantai bursa -George Soros salah satunya- yang dengan mesin-mesin corporate-nya berupa 53.000 perusahaan multinasional dan transnasional yang cuma bisa memberi lapangan kerja buat 6 juta orang saja di dunia ini.

Benar memang, orang-orang berduit yang punya industri komunikasi, elektronika, teknologi dan hiburan itu bisa bikin hidup lebih mudah, nyaman dan menyenangkan. Inilah versi mereka tentang “kemajuan”. Tetapi semua itu ternyata cuma berlaku untuk 10% dari penduduk bumi; sementara jurang antara si kaya dan si miskin makin lebar.

Bagi sebagian orang yang pernah “makan kuliahan” berita-berita ini memang bisa jadi siksaan batin, bikin hati ini lumpuh meraung terkaing-kaing. Atau bahasa seriusnya : mengkhianati nurani intelektual dan melukai kesadaran moral. Segelintir “orang-orang kuliahan” memang punya perasaan yang sensitif dan idealisme setinggi langit. Mungkin berita macam ini yang mereka sebut ironi kehidupan, ironi peradaban yang paling dalam, keraknya kebusukan.

Tapi data -fakta itu belum lagi berakhir dan kita terus membacanya dengan aura hati yang makin menipis. Biaya pemeliharaan militer di seluruh dunia mencapai 809 milyar dollar AS pada tahun 1999, sementara negara-negara di dunia hanya membutuhkan 12% dari seluruh dana itu untuk menyediakan pelayanan kesehatan, mengatasi kekurangan gizi dan menyediakan air bersih untuk seluruh rakyatnya. Saat ini satu dari lima anak di dunia tidak menyelesaikan pendidikan dasar dan setiap tahun lebih dari 10 juta anak atau 30.000 anak per hari meninggal karena penyakit-penyakit yang sesungguhnya bisa dihindari kalau uang yang digunakan untuk membeli peralatan perang dikurangi 10% saja. Jumlah anak yang meninggal karena diare dalam dasawarsa terakhir ini lebih banyak dibandingkan dalam berbagai konflik bersenjata yang terjadi setelah Perang Dunia II.

Sebuah laporan alternatif dari Bank Dunia menyatakan, sekitar 2 juta orang dipaksa meninggalkan tanahnya karena proyek besar pembangunan. Sekitar 80 % pengungsi internal di Asia adalah akibat dari proyek-proyek pembangunan bantuan Bank Dunia.

Bagaimana dengan keadaan di negri sendiri? Berita itu terus lagi mengiris. Antara/Asian Pulse bulan April 2001 pernah menulis: sekitar 64. 000 orang Indonesia punya simpanan 257 milyar dollar AS di luar negeri ; dua orang terkaya di Indonesia masuk daftar 538 orang terkaya di dunia, sementara 20% lebih dari 210 juta penduduk Indonesia menganggur.

Kita tak tahu lagi kenapa ada fakta bahwa sekitar 200.000 anak di republik ini meninggal setiap hari sebelum sempat merayakan ulang tahunnya yang kelima cuma gara-gara kurang gizi atau penyakit ringan serta bahwa setiap 2 jam seorang ibu meninggal dunia waktu melahirkan. Sementara seorang penyanyi kondang di negri ini bisa menghabiskan 100 juta rupiah per bulan cuma buat make-up kecantikan. Dan beberapa waktu lalu di Garut sana ada anak SD gantung diri karena ibunya tak punya uang 2500 rupiah untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Dalam waktu 2 tahun terakhir Indonesia juga memiliki lebih dari sejuta orang sebagai pengungsi di dalam negeri akibat konflik dan 12.000 orang tewas karenanya di berbagai wilayah tanah air yang sebagian besar korban itu tak paham mengenai sumber konflik.

La Botz dalam Made in Indonesia juga punya catatan : pengeluaran militer Indonesia tahun 1999 mencapai 50,3 milyar dollar AS, sedangkan dana pendidikan cuma 1,1 milyar dollar AS dan penyakit malaria di negri ini hanya ditanggapi dengan dana 2 milyar setahun.

Sementara laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) menyebutkan, antara 20-30% utang luar negri yang disalurkan dari Bank Dunia mengalir ke kantung pejabat pemerintah untuk memperkaya diri dan memperluas pengaruh politiknya. Sedangkan bantuan Bank Dunia yang digunakan kerap salah arah.

Semua berita di negri ini bertatut jadi rangkaian DataFaktaLegenda yang bisa bikin segelintir orang jadi jumawa sementara sebagian besar lainnya meratapi nasib, bersuasana belasungkawa dari mulai pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan sampai Papua.

Dan kita berharap berita miris itu segera menyelesaikan kalimat terakhirnya. Selesaikah berita miris itu? Tentu tidak. Masih banyak lagi berita-berita sejenis. Tapi kita tak perlu terlalu sentimentil karena pengaruh kata-kata. Mungkin ada “unik”nya bila kita melakukan sesuatu yang “sakral”. Membakar koran itu, misalnya, lalu membuang abunya ke lautan…

Jaman ini memang bukan jadwalnya orang miskin tampil ke panggung sejarah. Dan kata-kata klise itu bergaung kembali : sejarah memang tak pernah berpihak pada korban. Tapi korban bukan sekedar deretan angka di atas kertas.

Selama duit masih jadi dewa panglima selama itu pula sejarah akan terus mencatat: di sini di belahan bumi ini masih banyak orang-orang yang menggelepar-gelepar kelaparan di bawah kolong langit yang sepi sementara di seberang benua sana ada segelintir orang yang hidupnya serba melimpah.

Tapi kenapa di tengah-tengah lautan kemiskinan masih ada orang yang menumpuk-numpuk timbunan harta? Lalu apa artinya “kemajuan” yang meninggalkan jejak timbunan tulang-tulang berserakan korban konflik dan yang mati kelaparan? Pertanyaan-pertanyaan itu menguap hilang ke langit luas dan sisanya lenyap di telan bumi tersapu badai kekeringan.

Voltaire, penyair Perancis yang terkenal itu pernah bilang, “dalam urusan duit agama semua orang sama.” Tapi sayangnya, dalam hal duit pula kita tak pernah kenal istilah “saudara sesama”. Dan orang-orang berduit itu masih terus menguras sumber alam semau-maunya, memperlebar gudang duit masing-masing. Padahal betapa benar dan luhurnya pepatah Indian yang mengatakan, “hanya bila pohon terakhir telah tumbang ditebang; hanya bila tetes air sungai terakhir telah tercemar; hanya bila ikan terakhir telah ditangkap; barulah kita sadar bahwa uang ditangan tidak dapat dimakan”.

Di masa yang makin tidak remeh ini idealisme memang boleh setinggi langit. Tapi punya harapan yang terlalu muluk mungkin sama absurdnya dengan membayangkan ada kuda zebra totol-totol. Dan dengan selemah-lemahnya iman kita boleh terus meratap, lagi-lagi di bawah kolong langit yang sepi, sambil berdoa dengan puisi kakeknya Dian Sastro (penyair Subagio Sastrowardoyo):

“berilah kekuatan sekuat baja, untuk menghadapi dunia ini,

untuk melayani dunia ini

berilah kesabaran seluas angkasa, untuk mengatasi siksaan ini,

untuk melupakan derita ini

berilah kemauan sekuat garuda, untuk melawan kekejaman ini,

untuk menolak penindasan ini

berilah perasaan selembut sutera, untuk menjaga peradaban ini,

untuk mempertahankan kemanusiaan ini…”

Tapi tentu kita masih bertanya lirih, bagaimana dengan itu kita bisa mengubah dunia?

Pandasurya Wiijaya

– sumber tulisan: koran nasional Januari-Agustus 2003

Bandung, 2004

One thought on “DataFaktaLegenda

  1. daripada “korban-korban” ini terus membengkak dan tersiakan, bukannya lebih baik jatuh “korban” untuk sebuah perubahan..
    jadi urg masih setuju ide revolusi, meski memang akan mahal harganya.

    anyway, anda memang tetap tajam bung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s