Bandung Kok Jadi Gini, Bung?

Bung,

Kalau melihat keadaan kota Bandung sekarang kadang saya jadi berpikir, kok tega-teganya orang masih saja menyebut Bandung dengan seabrek julukan atau sebutan yang serba mentereng: Bandung kota kembang-lah, Bandung kota Parijs Van Java-lah, Bandung berhiber-lah (dulu), Bandung bermartabat-lah (sekarang). Bandung ini-lah, Bandung itu-lah. Terserahlah. Bukan apa-apa, soalnya, julukan-julukan itu sangat tak sesuai dengan kenyataan. Atau mungkin ini bagian dari politik permainan kata? Entahlah.


Kalau Bandung disebut kota kembang, dimana kembangnya? Sebanyak apa kembangnya? Ada kembang apa saja? Kembang apa sih yang dimaksud? Ada juga kembang-kembang berjalan. Mungkin itu jawabannya, mungkin itu maksudnya. Kalau itu sih kita boleh juga manggut-manggut. Tapi kalau sebutan Parijs Van Java itu, bah!, tak ada seujung kukunya pun.

Dari sekian banyak julukan kota Bandung, sebenarnya cuma 2 saja yang sering disebut-sebut di tahun-tahun belakangan. Bandung teh makin panas dan macet!

Ya, meski sudah mulai masuk musim hujan, sekarang Bandung makin panas, kawan. Jauh sebelum Tol Cipularang dibuka orang-orang Jakarta yang sering eksodus kemari juga bilang begitu. Padahal Jakarta kan sudah terkenal panasnya. Jadi,

boleh diambil kesimpulan plus hak paten bahwa Bandung memang makin panas. Semua orang juga sudah mengakui. Bahkan orang yang datang dari luar Jawa juga bilang begitu.

Panasnya pun bukan cuma siang doang, waktu tidur malam pun orang bisa keringatan. Kalau pas siang matahari lagi terik-teriknya terus kita terjebak macet di dalam angkot atau bis yang penuh umat, wah, lengkaplah penderitaan karena kepanasaan. Mungkin kota sumpek ini sudah mulai bersaing dengan panasnya gurun sahara di Afrika sana. Apa boleh buat, memang begini nasib kota di negri-negri yang tepat di sekitar garis khatulistiwa. Negara tropis, katanya.

Mungkin sekali dua, pernah ada yang melihat, atau boleh jadi sudah akrab dengan pemandangan ini: di siang yang super panas ada seorang ibu sedang berjalan sambil menggendong anaknya yang masih balita dengan selempang kain. Ibu itu berjalan tertatih-tatih kerepotan karena tangannya sambil menenteng barang belanjaan sepulang dari pasar. Sudah pasti keringat asin banjir di badannya, termasuk anaknya. Tapi si bocah kelihatannya tak merasakan karena tertidur dalam gendongan. Panas dan keringat tak mempengaruhi buat si bocah.

Kalau mau, boleh juga ditambahkan supaya lebih ada efek dramatisnya: waktu itu jalanan lagi macet-macetnya dan si ibu sama anaknya tadi naik ke dalam angkot yang sudah hampir penuh. Si sopir angkot jelas ogah peduli dengan keadaan penumpang lain. Yang penting buat dia kan uang setoran lancar. Jadilah itu angkot benar-benar penuh, full sempit-sepitan. Dengan siang yang super panas dan super macet itu angkot jadi serasa sauna. Ya, mirip di sauna, tapi sauna di neraka! Yang ada cuma panas, panas dan panas. Plus keringat, keringat dan keringat asin! Well, penumpang angkot mau bilang apa? Omong kosong bicara kenyamanan.

Kalau Bandung lagi lembab panas-panasnya, subuh-subuh pun kita boleh buka baju atau pakai singlet doang terus lari-lari keluar berolah raga. Tak usah tsayat kedinginan atau kena paru-paru basah. Tak ada lagi dingin subuh di kota ini. Boro-boro embun pagi, angin sejuk juga mulai jarang mampir.

Selain Bandung makin panas, ternyata soal macet juga tak kalah bejatnya. Kalau lagi pas jam-jam sibuk, busy hour or peak hour–bahasa sononya, lihatlah jalanan kota. Mobil-mobil berderet-deret, ngerayap mirip keong kepanasan. Motor-motor yang selap-selip cari-cari, curi-curi kesempatan. Kalau memang disebut jam-jam sibuk kok malah banyak yang diem, tak pada gerak?. Apalagi sejak Tol Cipularang dibuka warga Jakarta pada eksodus kemari. Mereka yang mobilnya tadinya tak pernah ke Bandung mulai coba-coba merasakan hawa Bandung. Jalanan Bandung mulai Jumat-Sabtu-Minggu sudah bukan macet lagi tapi buntu! Maksudnya sih tuh orang-orang pada mau wisata belanja. Bandung tea kota FO sekaligus surganya makanan-makanan enak. Tak aneh kalau tetangga-tetangga suka saling sapa,

“Hari Minggu gak jalan-jalan sama keluarga, pak?

“Ah, jalanan macet gak bisa ke mana-mana. Bandung tea…”

Ya, Bandung tea, katanya.

Jalanan juga makin gersang karena pohon-pohon dibikin tumbang, dibabat habis. Dan tak ada orang yang merasa harus berkabung sambil nundukin kepala. Apalagi sekedar mengheningkan cipta buat ratusan pohon yang tumpas. Pohon yang luput dari sabetan mesin gergaji besi juga nasibnya tak jauh-jauh amat : dipsaya, dirajah, digantungi spanduk jadi ajang pariwara, jadi embel-embel “keindahan” kota.

Buat mengurangi kemacetan kota terpaksa “kita” harus berkorban, katanya. Ternyata yang berkorban sebenarnya bukan “kita” tapi pohon-pohon. Karena jalan tak bisa diperpanjang sementara kendaraan bertambah terus. Apa boleh buat, akhirnya jalan harus diperlebar. Dan pohon-pohon jadi korban.

Lihatlah di jalan suci arah mau ke Terminal Cicaheum sampai ke utara ke arah Gasibu. Pohon-pohon dibabat habis, tinggal riwayatnya. Jalanan memang jadi lebih lebar tapi hijau daun tak ada lagi. Tinggal kering sama gersang. Macet memang atak berkurang tapi cuma buat sementara doang karena jumlah kendaraan jelas tak bisa dibendung. Dan panas cuaca juga tak bisa dibendung. Lengkaplah pengorbanan. Lengkap juga penderitaan.

Yah, beginilah cuaca Bandung sekarang, kawan. Kota sumpek ini kelihatannya tak punya lagi harapan. Tingkat stress makin tinggi. Orang-orang tak bisa lagi hidup nyaman. Terutama yang di jalanan. Anak-anak jalanan, anak-anak matahari, jadi pemandangan rutin di tiap perempatan. Pinggir-pinggir jalan mulai penuh dengan toko-toko kecil, kios-kios kumuh sempit seadanya, saling berdempetan, serobotan. Kaki lima merajalela. Gerobak-gerobak dagangan campur lahan parkir dadakan. Yang jelas, jalanan tetap makin bising. Dan semrawut jadi satu-satunya pilihan. Ya, di sini yang ngawur pun dikasih harga. Hidup memang keras, kawan. Survival, bung!, sejadi-jadinya. Yang kuat yang bertahan.

Dan tiap hari adalah hari-hari penuh tekanan, dari menit ke menit, detik per detik. Tekanan buat urat syaraf, otak pikiran, terlebih lagi perasaan. Tak ada yang luput dari tekanan-tekanan itu. Tak ada satu pun. Jangan salahkan siapa-siapa kalau orang-orang mulai cari pelampiasan. Juga bukan salah bunda mengandung kalo orang-orang mulai punya tabiat beringas. Kota ini mau jadi apa?! Mau ke arah mana?!

Lagi-lagi saya merenung, mahluk gila nan edan macam apa yang sanggup bertahan dalam keadaan bejat macam ini? Apa? Zombie? Ya, zombie, barangkali, mayat hidup kebal rasa yang tak punya lagi perasaan. Jangan berani mimpi soal kemanusian.

Dan dalam keadaan yang sering tertekan macam ini wajar kalo warga Bandung mulai ingat lagi masa-masa kejayaan tempo doeloe. Bandung teh dulunya bla bla bla…, katanya. Sekarang mah bla bla bla…, kata mereka. Maunya sih bla bla bla…Dan orang-orang mulai punya impian tentang masa lalu—bukan masa depan.

Bung,

Kota ini dulunya Bandung lautan api. Sekarang lautan peristiwa (termasuk “Bandung Lautan Asmara” tea). Mungkin orang-orang memang harus belajar untuk lebih banyak merasa kecewa.

Pandasurya

(September 2005)

8 thoughts on “Bandung Kok Jadi Gini, Bung?

  1. Mungkin mas panda harus memahami tentang arti julukan “Bandung Kota Kembang”, kembang yang dimaksud adalah bukan arti sebenernya(tumbuhan) tapi kembang disini dimaksudkan sebagai gadis..siapa yang tidak kenal dengan kemolekan mojang bandung..oleh karena itu bandung disebut dengan “Kota Kembang”, kota yang penuh dengan gadis cantik..

    cheers…

  2. kalo kembangnya, kembang “perempuan”, sih mungkin mas.
    di jogja juga ada pasar kembang, dan memang kembang itu kembang “perempuan”.

    kalo saya ngekos di bandung, saya mau ngekos di daerah gempol mas, suasananya (kos-kosan deket roti gempol), asik, gak kayak bandung yang hingar bingar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s