Dinding Kaca Ruang KM-ITB

Bisa dibilang ini cerita tentang seberkas ingatan yang menjangkau masa lalu.

Entah di tahun kapan. Pada hari dan tanggal serta bulan yang murni lenyap dari ingatan, seorang mahasiswa berjalan menyusuri lorong SC Timur ruang KM-ITB. Siapa nama, dari jurusan mana, angkatan berapa sama sekali tak penting buat ditulis disini. Yang jelas, waktu itu langkahnya cepat bergegas tanda dikejar kesibukan karena beragam aktivitas kampus dan tugas-tugas kuliah. Kesibukan yang sebenarnya ia buat sendiri dengan sepenuh kesadaran, dengan konsekuensi yang seringkali merepotkan penuh tanggungan. Dan siapa pula orangnya yang tak sempat jumawa dengan segunung kesibukan? Kata orang, utang risiko harap ditanggung dan dibayar sendiri, berikut bunga-bunganya.

Sambil melangkah cepat ia biasa menoleh pada dinding kaca ruang KM-ITB yang rutin ditempeli poster atau pamflet yang terkadang isinya berita sejuta rasa, sejuta nuansa. Lalu tatapannya berhenti, hinggap pada sebuah tulisan. Seketika ia menghentikan langkahnya. Berdiri tercenung membaca tulisan itu seperti menatap benda ajaib. Bukan, itu bukan tulisan pengumuman berantai tentang sebuah acara atau kegiatan. Itu juga bukan tulisan pengumuman tentang beasiswa atau makan gratis atau tulisan provokatif yang standar seperti biasanya. Tapi tulisan itu jelas menarik perhatiannya, menyergap segenap kesadaran, membuatnya tercenung beberapa saat. Merenung beberapa saat. Dan beberapa saat lagi…

Ia tak tahu darimana sumber tulisan itu dan siapa yang menuliskannya. Sebuah tulisan dengan spidol hitam hasil tulisan tangan di selembar kertas. Bukan hasil cetakan teknologi printer komputer. Tulisan itu hanya berisi 2 kalimat tanpa keterangan apa pun atau siapa penulisnya alias tak bertuan. Anonim-kah?. Entahlah. Semacam misteri atau teka-teki dalam bentuk lain. Ya, “Apalah arti sebuah nama?”. Kelihatannya sudah suratan takdir, Shakespeare selalu bangkit dari kubur.

Tapi ia tidak memerlukan bertanya. Dan saat itu rasanya tidak ada yang bisa dimintai jawaban. Rupanya kalimat di film itu memang ada benarnya, “jawaban hanya penting jika pertanyaannya tepat.” Berhari-hari kemudian ia masih terus memikirkan dan merenungkan tulisan itu. Bahkan ia sempat pula mencatatnya pada sesobek kertas yang kini tersimpan dalam sudut lemari yang gelap. Jadi semacam “Quote of The Day” pada waktu itu, kutipan hari ini sekaligus hari itu.

Hari berganti hari jadi minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Ia tidak lagi memikirkan tulisan itu dan sudah agak melupakannya meski sesekali masih mengingatnya. Sampai pada suatu hari di bulan kelima tahun heboh pemilu ia kembali membaca tulisan serupa. Hanya kali ini pada sebuah koran nasional. “Ketika saya memberi makan orang miskin, saya disebut orang saleh dan dermawan. Tapi ketika saya mempertanyakan mengapa mereka miskin dan tak punya makanan, saya dituduh dan dicap komunis.” Ya, meski tidak persis benar redaksinya, tidak keliru lagi, itu tulisan yang sama dengan yang pernah ia baca di masa lalu, di dinding kaca ruang KM-ITB, di hari yang sibuk. Apakah ini yang mereka namakan De ja vu?

Dari koran itu ia jadi tahu bahwa tulisan itu berasal dari seorang aktivis perdamaian Amerika Latin yang wafat tahun 1999. Dom Helder Camara dia punya nama. Memang tulisan itu cuma sekadar kata-kata, bukan mantra, bukan sabda, bukan pula ayat suci yang abadi. Bahkan penuturnya pun sudah bersemayam di liang kubur. Tapi seperti juga warisan para leluhur, tidak semua kata-kata peninggalan harus ikut dikubur. Ada juga yang layak dibikin abadi meski tak selamanya memadai. Dan akhirnya koran itu pula yang jadi sebab musabab ia membuat tulisan ini.

Tidak, ia tidak sedang bicara soal cap komunis atau anti-komunis. Atau hal-hal yang serba hitam-putih, benar-salah atau kejamnya balas dendam sampai sekian generasi–30 September memang sudah lama lewat. Juga ia tidak bicara soal kemiskinan atau kelaparan dengan perut yang kenyang. Kalau Rumi pernah bertanya, “Bisakah kau memetik mawar dari kata m.a.w.a.r?”, kini ingin pula ia bertanya, “Di dunia yang makin glamor dan necis ini bisakah kau merasakan pedihnya lapar hanya dari menuliskan kata l.a.p.a.r?”

Ya, ini cuma bagian kecil dari rangkaian jerih payah “menjadi manusia”. Dan sebenarnya ia memang hanya ingin bicara sedikit soal manusia. Persisnya, seorang manusia di antara manusia-manusia lain dengan ingatannya yang pendek dan lupanya yang panjang.

Ingat dan lupa. Dua sisi dari koin yang sama. Cuma sejarah yang punya kuasa atas keduanya. Tapi sejarah seringkali tunduk dibawah tahta para penguasa. Jadi, bukan mustahil keduanya punya arti yang sama–bikinan manusia. Maka mengapa jadi manusia?

Pandasurya

3 thoughts on “Dinding Kaca Ruang KM-ITB

  1. Maneh memang hebat Pan.. klo orang baca tulisan ini dgn sadar dan mau berfikir atas apa yang sudah dia lakukan, akan tergugah hatinya utk tidak menjadi orang sombong. Amin.

  2. gosh..

    Cuma sejarah yang punya kuasa atas keduanya. Tapi sejarah seringkali tunduk dibawah tahta para penguasa.

    bukan cuma sejarah, tapi juga pendidikan, agama, teknologi, dan hal-hal lainn…

    see?? that’s i said bull s**t that night (or morning)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s