Xanana

Hari itu, di sebuah desa di tepi hutan, presiden pemaaf itu menemui seorang ibu tua yang kurus. Pelukan dan air mata jadi saksi kisah mereka di masa perjuangan. Presiden itu, sang komandante, pernah ditolong putra sang ibu di masa gerilya. Kini putranya sudah tiada.

Xanana Gusmao, sang presiden pemaaf itu suatu kali bercerita tentang masa-masa gerilya dalam acara Kick Andy, MetroTv, Kamis malam. “Saya pernah sakit parah,” dengan suara pelan ia memulai kisahnya. “Lama sekali, terkena malaria. Demam selama setahun. Rasanya ingin mati. Tanpa makanan, tanpa apa pun. Lalu kami bertemu ibu tua itu. Dia dan putranya merawat saya di dalam lubang bawah tanah itu. Pasukan kami hanya makan singkong. Dia menjual barang-barang apa saja ke kota untuk membeli obat malaria untuk saya.”

Sebuah film tentang Xanana Gusmao berjudul “A Hero’s Journey” baru-baru ini diputar di JIFFEST 2006. Dan Kamis malam lalu Kick Andy mengulas film itu sekaligus menghadirkan sang presiden, Xanana Gusmao.

Presiden pemaaf ini rupanya dulu pernah menjadi nelayan, tukang batu, tukang listrik, penyair, wartawan, bahkan sempat belajar jurnalistik di Autralia. Kemudian sejarah membuatnya menjadi seorang Komandante gerilyawan dan akhirnya kini ia adalah presiden Timor Leste.

Tahun ’92 ia ditangkap TNI, masuk LP Cipinang. Di sana ia bertemu tahanan-tahanan politik lain, termasuk seorang Budiman Sudjatmiko yang juga dipenjarakan rezim Orde Baru. Di masa itu Orde Baru memang kerap memenjarakan mereka yang “bersuara berbeda”.

Di dalam penjara itu pula Xanana yang termasuk dalam kategori “bersuara berbeda” belajar arti kebencian yang sebenarnya. Ia sempat mengalami masa-masa sangat membenci segala hal yang berhubungan dengan Indonesia. “Ketika itu saya benci orang Indonesia, produk Indonesia. Bahkan saya menolak belajar bahasa Indonesia,“ katanya.

Tapi setelah ia dibebaskan, dan kemudian menjadi presiden, sejarah mencatat, pernyataannya yang pertama adalah memaafkan segala kesalahan yang pernah dilakukan Indonesia pada dirinya, pada negerinya.

* * *

Sebelum ditangkap Xanana bergerilya di hutan-hutan Timor Leste dengan rombongan pasukannya yang tidak lebih dari 1200 orang. Hidup di belantara hutan yang keras memaksa mereka untuk bisa makan apa saja. Kadang monyet, tidak jarang pula ular.

“Tiap kali ada anggota pasukannya yang tewas, rasanya seperti ada bagian tubuh kita yang ikut mati,” kata Xanana. Dan ketika ada pasukannya yang mati, Xanana kerap kali menangis. Sampai-sampai anggota pasukannya mengatakan, “Komandante jangan menangis. Anda harus tetap bersama kami, memimpin kami yang masih hidup.”

Ketika berada di LP Cipinang, selama 6 bulan pertama ia dilarang berkomunikasi dengan siapa pun. “Itu berat sekali,” katanya. “Dalam keadaan seperti itu, Anda tidak bicara sama sekali. Anda hanya berpikir,” kata Xanana. Selama di LP ia masuk ruang isolasi 3 kali karena kedapatan menyusupkan dokumen, kertas-kertas, dan surat-surat ke luar penjara.

Di dalam penjara itulah dia bertemu dengan tapol-tapol Indonesia. Budiman Sudjatmiko yang juga hadir dalam acara malam itu bercerita, “Ketika saya dan teman-teman, anak-anak muda, aktivis politik, bertemu dengan seorang Xanana, saya menduga, dalam pikiran saya, kami akan mendengar kisah-kisah yang heroik, patriotisme, perjuangan dari seorang Komandante gerilyawan. Tapi rupanya tidak, Xanana justru banyak berbicara soal perdamaian. Dia seorang yang ahli berdiplomasi. Dia seorang diplomat yang sangat bagus. Dan dia seorang peace loving person.”

Lalu bung Andy, sang pembawa acara, bertanya, “Kenapa Anda bisa seperti itu? Bukankah Anda adalah orang yang sangat memegang teguh prinsip?”

“Saya banyak berubah di penjara,” jawab Xanana. “Setelah bertemu dengan kawan-kawan dari Indonesia ini saya berubah.”

Dan ketika menceritakan sepenggal kisah hidupnya di masa perjuangan, sewaktu ia bertemu dengan ibu tua kurus di tepi hutan itu, Xanana sempat terdiam lama. Ia menyimpan kesedihan mendalam, tak kuasa meneruskan kata-katanya, ia menitikkan air mata. Pada akhirnya, “Putra ibu itu meninggal,” katanya perlahan. Semua orang di studio terdiam, hening tak ada suara. Bahkan bung Andy yang berkacamata itu pun tak kuasa menahan sedih, matanya berkaca-kaca.

Benar kata seorang GM suatu kali, “hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia.”

 

Pandasurya

(Desember 2006-Maret 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s