Tentang Esai-esai Pribadi

Oleh: Mula Harahap

Apakah esai? Kalau saya boleh merumuskan maka, pertama-tama, esai adalah sebuah prosa–tulisan kreatif–yang relatif pendek, yang menguraikan sebuah pemikiran atau perasaan. Sebagai prosa–sebagai salah satu bentuk pengungkapan dalam sastra–maka ia juga sarat dengan kalimat dan pilihan kata yang kaya. Ia tidak lugas, sebagaimana sebuah tulisan ilmiah. Dan sebagaimana bentuk pengungkapan sastra lainnya, esai tidak perlu terlalu memusingkan kebenaran data dan fakta, karena yang hendak dicapai oleh sang penulis adalah menanamkan kesan yang dalam di dalam diri pembaca, terhadap pikiran atau perasaan yang disampaikannya.

Esai, sebenarnya, hampir sama dengan cerita pendek. Ada yang mengatakan, bahwa perbedaan esai dengan cerpen ialah, bahwa esai adalah non-fiksi (sesuatu yang benar terjadi) dan cerpen adalah fiksi (khayalan) sang penulis. Tapi saya rasa pendapat ini tidak terlalu benar juga. Siapa yang dapat menjamin bahwa di dalam cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” tidak ada hal-hal yang memang benar terjadi? Atau sebaliknya, siapa yang dapat menjamin bahwa dalam esai dari pengarang yang sama (Umar Kayam) tentang sebuah desa di kaki Gunung Merapi (dalam buku “Indonesia: Sebuah Perjalanan Budaya” yang diterbitkan atas sponsor Mobil Oil Company) tidak ada hal-hal yang sebenarnya khayal sang pengarang?

Kesusasteraan kita juga penuh dengan esai. Tapi esai-esai tersebut umumnya adalah esai mengena sastera atau budaya itu sendiri.(Esai yang mengulas tentang sebuah karya, seorang pengarang atau suatu fenomena).Karena itu bagi pembaca awam, esai-esai seperti ini sering membosankan.(Saya selalu membeli majalah kebudayaan Kalam dan Basis, tapi tak pernah bisa berhasil membaca lebih dari dua tulisan di dalamnya).

Ada satu bentuk esai yang masih terlalu sedikit ditulis oleh para pengarang Indonesia, yaitu esai pribadi (personal essay).Padahal di Barat, esai-esai pribadi inilah yang banyak mengisi majalah-majalah sastera dan yang menarik pembaca.

Tadi malam saya membaca sebuah esai karya E.B. White, yang dikutip dari majalah The New Yorker Tahun 50-an. E.B. White menulis tentang identitas dirinya secara gila-gilaan. “Di SIM aku adalah nomor sekian-sekian-sekian. Di buku paspor aku adalah nomor sekian-sekian-sekian. Di social security card aku adalah nomor sekian-sekian-sekian. Di bank aku adalah nomor sekian-sekian-sekian”. Begitulah, ia membeberkan identitasnya dalam berbagai nomor yang dimilikinya, sebanyak 3 halaman tulisan, dan akhirnya ia menutup tulisannya dengan mengatakan bahwa ia adalah E.B. White.

Saya juga pernah membaca esai tentang makan es krim. Dengan gilanya, sang pengarang mengkutak-katik bagaimana kerepotan yang harus dijalaninya dari mulai memilih flavor es krim yang beraneka macam itu, sampai ke cara bagaimana menyelamatkan jari agar tidak berlepotan ketika ujung “horn” es krim tinggal sepotong dan harus dimasukkan ke mulut. Dari kedua cerita tersebut, saya sebagai pembaca, langsung terkesan dengan ironi yang dialami oleh anak manusia dalam realitas modern.

John Updike pernah pula menulis esai tentang bagaimana, sebagai seorang anak-anak, ia terjebak dalam sebuah acara dakwah agama.Persuasi juru dakwah itu justeru membuat John Updike “kecil” keringatan dan takut. Ia terpaksa menerima Tuhan, demi menyelamatkan diri dari tekanan pengkhotbah yang matanya menyala-nyala seperti setan itu. Tapi ia heran mengapa Tuhan yang sebenarnya tidak datang menyelamatkannya dari situasi itu. Dan sejak itu–katanya–ia tidak percaya lagi kepada Tuhan. Sungguh suatu personal essay yang menyentuh. Dengan halusnya pengarang menyindir para otoritas agama, yang seringkali membawa-bawa nama Tuhan untuk menguasai dan memanipulasi sesamanya manusia.

Kehidupan kita di Indonesia begitu beraneka-warna.Kalau saja para pengarang mau mengeksplorasi esai-esai pribadi, maka kita akan sangat diperkaya. Daripada berkutat menulis cerpen-cerpen absurd, maka saya merindukan pengarang Indoensia yang mau menulis esai-esai sederhana tentang realitas hidup sesehari yang dialami mereka.

Sepeda, sepatu, ibu, mesin ketik, isteri, dompet, atau apa pun itu, bila dilihat dengan kacamata pengarang, niscaya ia akan menjadi sebuah tulisan yang kaya. Ia bisa membuat kita menangis, tertawa, marah atau apa saja seraya semakin memahami kenyataan hidup di dunia ini.

Belum lama ini, saya juga membaca sebuah kumpulan tulisan dari A.Samad Ismail–seorang wartawan dan sastrawan Malaysia yang terkenal itu.Semua tulisan di dalam kumpulan itu ditulis dari perspektif orang pertama (aku). Saya tidak tahu apakah buku itu sebuah kumpulan cerpen atau kumpulan esai.Dan saya juga tidak terlalu mempersoalkan perbedaan tersebut. Yang penting
saya menikamti tulisan itu dan hanyut dalam perbenturan budaya Melayu dengan budaya-budaya lain di sekitarnya. Salah satu dari esainya yang membuat saya tertawa ialah “Cina Tukang Taik Tidak Datang Ke Kampung Saya”. Samad Ismail bercerita tentang tradisi rumahnya di masa kecil, di Singapura, yang tak memiliki kakus, sama seperti rumah-rumah Cina lainnya
di sekitarnya. Seisi rumah membuang kotorannya di dalam drum. Dan setiap pagi drum tersebut diangkut cuma-cuma oleh Cina tetangganya yang memiliki kebun sayuran. Suatu ketika–terjadilah bencana–yaitu ketika Cina petani kebun sayur itu sakit. Empat hari “tabungan” rumah Samad tidak ada yang menguras.Dan hidup berubah menjadi neraka bagi seisi rumah Samad.

Sebenarnya embrio esai-esai pribadi Indonesia sudah bermunculan, misalnya di rubrik asal-usul harian Kompas Minggu. Kalau saja media massa mau membuka ruangan mereka dan tidak terlalu membatasi tema serta panjang tulisan, maka saya yakin kita akan mendapatkan esai yang lebih gila dan memukau daripada beberapa esai yang saya uraikan di atas. Esai-esai pribadi akan sangat membantu kita dalam proses “menjadi Indonesia”[.]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s