Suatu Hari di Negeri Pantai

Kelihatannya bukan kebetulan kalau cerita dari obrolan di radio ternyata bisa mirip dengan apa yang sebelumnya pernah ditulis di koran. Atau mungkin cerita ini memang sudah populer di kalangan orang-orang yang suka mendengar cerita.

Karena keseluruhan setting cerita ini ada di pantai maka kita sebut saja ini dongeng dari negeri pantai. Dengan sedikit tambahan imajinasi dan tambal sulam dari saya sendiri maka ceritanya jadi seperti ini:

Suatu ketika seorang manajer, eksekutif muda bergelar M.B.A yang sedang berlibur di pantai, bertemu dengan seorang nelayan. Ia memperhatikan bahwa setiap kali si nelayan ini berhasil menangkap seekor ikan besar maka ia pun langsung pulang untuk menyantapnya bersama keluarganya. Selesai makan ia bersantai-santai dan bercengkerama dengan anak-anaknya. Setelah itu ia pun pergi ke tetangganya untuk bermain catur. Sore hari ia pulang untuk minum teh. Lalu malamnya ia ngobrol bersama kawan-kawannya. Begitulah setiap hari ia menjalani kehidupannya.

Suatu hari si manajer yang penasaran ini menghampiri si nelayan ketika ia sedang bersantai-santai.

“Kenapa bapak tidak menangkap ikan lebih banyak?

“Buat apa?” si nelayan yang gak pernah sekolah itu balik bertanya.

“Ya supaya yang selebihnya bisa dijual lalu bisa membeli jaring yang lebih besar”

“Kalau sudah punya jaring lebih besar terus buat apa?”

“Ya supaya bisa dapat ikan lebih banyak dan dijual. Uangnya bisa untuk membeli perahu”

“Terus kalau sudah punya perahu buat apa?”

“Supaya bisa menangkap ikan lebih banyak dan uang hasil penjualannya bisa untuk membeli kapal pukat harimau”
”Kalau sudah punya kapal pukat harimau terus buat apa?”

“Ya kamu bisa dapat ikan banyak, bisa punya uang banyak, beli rumah bagus, menyekolahkan anak-anak, bisa punya perusahaan sendiri”

“Terus kalau sudah punya perusahaan sendiri buat apa?”

“ Kamu bisa hidup tenang, santai-santai bersama keluarga, bahagia, menikmati hidup”

“Lalu apa bedanya dengan yang saya lakukan sekarang?”

Begitulah, bung. Konon, ceritanya memang sengaja berhenti sampai di situ, yaitu sampai si manajer tadi jadi bengong dan merenung-renung sendiri karena mendengar jawaban si nelayan yang lugu dan polos itu.

Cerita itu memang bisa menimbulkan kesan bersayap atau multitafsir. Mungkin sama multitafsirnya dengan RUU APePe yang sempat bikin heboh itu. Tapi setidaknya cerita itu bisa jadi gambaran bahwa orang pun bisa hidup sederhana sekaligus bahagia.

Klise memang. Sudah banyak kita mendengar cerita yang intinya sepert itu. Bahkan mungkin kenyataannya bisa kita lihat tak jauh dari rumah kita. Mungkin di samping rumah kita sendiri. Mungkin di belakang rumah kita sendiri. Atau mungkin tak jauh di ujung gang sana yang cuma beda RT/RW dengan rumah kita.

Selama ini mungkin kita memang dilatih, dengan segala macam sistem pendidikan dan bla..bla..bla.., untuk punya jalan pikiran yang sama dengan si manajer tadi. Bahwa hidup ini kudu sukses, kudu ini-kudu itu dan sebagainya. Tak ada salahnya memang. Rasanya omong kosong kalau ada orang yang tak ingin sukses. Tapi ternyata dari cerita itu kita juga bisa belajar banyak hal dan menghargai jalan pikiran si nelayan. Toh pada akhirnya “nasib adalah kesunyian masing-masing,” kata Chairil Anwar.

Dari cerita itu kita bisa merenungkan sistem pendidikan kita selama ini. Lalu renungan kita akan merembet ke soal arti hidup sukses dan bahagia dengan segala macam ukurannya, dan seterusnya dan seterusnya. Maka sebelum tulisan ini berkembang jadi ruwet dan bikin susah tidur mungkin ada baiknya tulisan ini berhenti sampai di sini.

Pandasurya

(Mei 2006)

NB: kalo kata WS Rendra lain lagi:

Kemarin dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan

sama saja

Langit di luar

Langit di badan

Bersatu dalam jiwa

3 thoughts on “Suatu Hari di Negeri Pantai

  1. hheemm… hidup untuk tujuan mencari materi sebanyak2nya kadang membuat kita lupa makna hidup ini, bahkan tidak bisa menikmati hidup. Kesediaan menerima berapapun rejeki yang diperoleh tiap hari menjadi hal yg asing bagi kita, karena memang dalam setiap diri kita tertanam sifat rakus. sekarang, tinggal pandai2nya kita untuk mengubur dalam2 sifat rakus tersebut. caranya, bersyukur..
    tapi bersyukur itu susah meskipun hanya mengucapkan alhamdulillah saja.. ingin tahu gimana susahnya? sudah berapa kali kita mengucapkan alhamdulillah hari ini?

  2. Banyaknya rejeki yang kita dapat kemarin,hari ini, besok atau lusa cuma kita yang bisa rasakan itu berlebihan, cukup atau kurang. Nikmat rejeki yang kita dapat akan lebih terasa bila kita menerima dan bersyukur atas rejeki itu . Semoga rejeki yang kita terima selama ini berkah yaaa

  3. Panda, gw kasih comment lagi nich :

    Untuk meraih kebahagiaan ternyata tidak lah susah, tidak perlu terlalu ngoyo pun kita bisa memperolehnya. Hanya saja manusia terkadang tidak adil pada dirinya sendiri, dia terlalu tinggi dalam menentukan standard kebahagiaannya. Gw bahagia kalo ini kalo itu, kalo dapat ini dapat itu, kalo begini …..begitu ….. Pokoknya ribet dech. Akhirnya bukan bahagia yang diperoleh tp yang ada hidup adalah suatu beban yang tidak berkesudahan. Padahal kalo dia mau menerima kehidupan ini dengan apa adanya, setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik dia bakalan merasakan bahagia. Iya ga sich ……..?????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s