Playboy Indonesia Buka Lowongan

Kalau dengan subject di atas, email ini banyak dibuka atau dibaca maka itu artinya memperkuat bukti sekaligus mempertegas kredo yang selama ini udah ada bahwa “yang namanya seks memang selalu laku dijual, di mana pun, kapan pun.” Gak ketinggalan pula kita ingat kredo yang kedua: yang dilarang memang justru selalu merangsang. Dan ketiga, yang gak kalah penting adalah dengan adanya kata “Lowongan” itu jadi bukti lagi sekarang memang zamannya banyak orang butuh kerjaan dan berbondong-bondong “rela dikerjain”.

Belum lagi tuntas isu mie basah, tahu, bakso dan daging-dagingan berformalin sekarang datang lagi isu perdagingan jenis lain. Kali ini adalah soal majalah yang “mempertontonkan daging-daging kaum hawa” alias Playboy. Buat yang ngakunya anak zaman globalisasi, siapa sih yang gak pernah denger majalah satu ini. “Bisnis perdagingan” lewat majalah yang gak pake formalin, borax apalagi daging tikus ini terbukti memang laku keras di seantero dunia. Untuk soal yang satu ini BB-POM (Balai Besar Pengawasan Obat & Makanan) keliatannya gak perlu kuatir ketar-ketir dengan peredarannya.

Setelah tahun 2004 lalu Playboy terbit di Serbia dan Montenegro, sekarang majalah yang sudah berumur setengah abad lebih 3 th ini akhirnya dalam waktu dekat (Maret katanya) bakal terbit di Indonesia setelah isunya muncul dari sekitar 2003 lalu.

Hugh Hufner (79 th) si Mr. Playboy alias sang pendiri majalah ini pernah bilang, “Saya tidak merancang Playboy sebagai majalah seks. Saya merancangnya sebagai majalah gaya hidup di mana seks hanya menjadi salah satu bagiannya.” Maka seiring zaman yang makin demam oleh gaya hidup, majalah yang terbit pertama kali di Chicago AS Desember 1953 ini –ketika itu usia Hufner 27 th—sekarang sudah mencapai tiras 7 juta eksemplar di seantero penjuru dunia. Dan lisensi produk Playboy sudah terjual di lebih dari 100 negara ditambah perluasannya di saluran XM Satellite Radio dan saluran TV kabel. Padahal awalnya Hugh Hufner sempat berutang modal 8000 dollar AS dari kawan dan kerabatnya waktu mendirikan majalah ini dengan mencetak 50.000 eksemplar. Dan salah satu yang jadi cewek Playboy ketika itu siapa lagi kalau bukan bintang Hollywood Marilyn Monroe.

Di Asia sendiri Indonesia jadi negara kedua setelah Jepang yang menerbitkan majalah ini. Hebat? Prestasi? Atau aib? Terserah mau dilihat dari sudut pandang mana. Mau dari Monas, dari menara SUTET atau menara yang lain, monggo wae silakan. Ternyata buat urusan syahwat mah Indonesia cukup “berprestasi” ketimbang olahraga misalnya, yang terpuruk di Sea Games kemarin. Mbok ya jangan sinis gitu, mungkin itu komentar orang lain. Tapi bayangkan baru 2 negara di Asia dan kita nomor 2 setelah Jepang! Negara Asia lain mah lewat ketinggalan. Dan harusnya mereka juga boleh sirik dengan Indonesia (tapi ssst!, jangan bilang-bilang, kata orang “bijak”, sirik tanda tak mampu).

Sebelumnya, tahun 2003 lalu, majalah sejenis, FHM (For Him Magazine) juga udah nongol di republik ini. Dan mungkin tinggal nunggu waktu aja buat majalah serupa macam Penthouse, Hustler, Stuff atau Maxim terbit di Indonesia. Persaingan bisnis majalah “perdagingan” ini memang makin santer keliatannya. Keunggulan dan keuntungan bisnis ini mungkin karena “daging-daging” yang ada selalu tampil tanpa formalin dan tentunya tanpa busana (atau minim busana) yang ajaibnya tetap keliatan segar, cantik, tidak rusak, warna bersih, mengkilat, tidak berbau, ditambah dengan tekstur yang tampak kenyal dan selalu awet muda. Mirip dengan daging berformalin memang, tapi gak persis sama. Karena yang ini mah plus bonus merangsang. Dan tukang bakso atau tukang daging yang belum bangkrut gak usah takut tersaingi. Soalnya produk mereka memang beda dan masih banyak kok daging-daging lain yang siap digarap.

Apa dampaknya setelah Playboy berhasil tembus ke Indonesia sebagai negara muslim terbesar di muka bumi? Gak perlu lagi pake peramal, dukun atau “fortune teller” segala,

dalam waktu dekat ini jelas bin pasti akan terjadi perdebatan publik penuh kontroversi soal pornografi, pornoaksi, undang-udangnya, atau seni bahkan globalisasi. Dan jelas

Mr. President, SBY, juga pasti dipertanyakan komitmennya dalam memerangi masalah pornografi ini.

Bakal makin banyak orang “jualan kecap” alias “ngecap”, kata istilah Bung Karno dulu.Yang feminis bakal angkat bicara, yang moralis bakal bersuara, kaum agamawan bakal adu mulut lagi dengan yang seniman. Yang radikal ala preman mungkin bakal pasang kuda-kuda, siap anarkis, pake kekerasan, razia di mana-mana, mungkin juga sweeping, atau menghancurkan kantor majalahnya, misalnya. Ini baru mungkin.Yang sinis mungkin berkomentar, negara sih boleh muslim terbesar di dunia tapi soal syahwat mah urusan lain, lihat aja korupsi. Yang apatis mungkin lain lagi: diem-diem bakal siap ngeborong edisi perdana. Dan infotainment-infotainment bakal makin gencar berkibar kebanjiran bahan omongan. Pokoknya bakal warna-warni macemnya.

Bakal ada demo-demo lagi, pasti dari kubu yang menentang. Mungkin bakal unik dan seru juga seandainya ada demo yang justru mendukung. Barangkali bakal mirip demo saling dukung dan menentang calon walikota ala Pilkada Depok. Yang beginian bisa jadi catatan sejarah di republik Pancasila ini.

Dan sore kemarin di Liputan 6 Petang SCTV 16 Januari 2006 ada komentar masyarakat (jelas masyarakat kota Jkt) tentang bakal terbitnya Playboy Indonesia. Dari sekitar 6-7 orang memang cuma dua orang pria yang ditanyai, selebihnya kaum hawa. Yang pria ini satu setuju (yang anak muda berkaus hitam) dan yang satu lagi tidak setuju (pria berumur yang agak gemuk).

Perempuan muda yang pertama ditanya menjawab setuju dengan alasan, Indonesia juga udah maju, kok, katanya, masyarakat kita udah dewasa, mereka bisa memilih

mana yang baik dan buruk. Perempuan muda kedua tidak setuju. Pria agak gemuk dan berumur itu juga menjawab tidak setuju dengan alasan kita masih memegang adat ketimuran, tidak bisa dilakukan di sini. Perempuan muda lain menjawab setuju karena untuk jadi pelajaran juga bagi kaum muda negeri ini, katanya. Sedangkan perempuan lain yang berkacamata dan sudah berumur itu menjawab tidak setuju. Yang jelas, komentar anggota masyarakat ini diawali oleh perempuan muda yang setuju dan diakhiri laki-laki muda yang juga setuju tapi soal distribusi, peredarannya harus diawasi, jangan sampai anak-anak ikut beli, tambahnya. Apa ini artinya mayoritas masyarakat setuju?

Sedangkan menurut narasumber dari Dewan Pers yang diajak bicara Bayu Setyono (Lip. 6 Petang), masalah ini bukanlah teritori Dewan Pers tapi Polisi. Jadi, masyarakat kalau mau mengadu harus ke Polisi bukan ke Dewan Pers. Karena, kata si narasumber, majalah syahwat macam itu dan tabloid-tabloid lain yang serupa dan sudah banyak beredar bukanlah produk pers atau tidak dapat disebut produk pers.

Ada yang bilang kita belum siap karena bla..bla..bla dan segudang alasan lainnya. Yang setuju pun tetap bertahan dengan pendapatnya.

Pada akhirnya, bagi sebagian orang, mungkin ini bukan lagi soal siap gak siap tapi beli gak beli. Dan kalaupun kelak ada yang berteriak lantang gak setuju, boleh jadi nantinya dia pun bakal beli meski harus sembunyi-sembunyi (karena kalo pinjem malu dan jaim—jaga imej, sekaligus jaga gengsi)

Jadi, siapa aja yang nanti mau beli? Boleh pinjem?

Eh, siapa ya yang bakal jadi cewek perdana Playboy “rasa” Indonesia? Boleh jadi Tessy atawa Aming…aiih matee kalee…

 

Pandasurya

(17 Januari 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s