Minyak Goreng Harga “Reshuffle”

Sinisme memang bukan barang langka di negeri ini.

Terutama di hari-hari belakangan, di tengah deras dan gencarnya

pemberitaan reshuffle kabinet di media massa.

Kalau kita mau jujur sesunggunya kita tak pernah yakin apakah

rakyat kebanyakan sungguh peduli dengan perombakan kabinet.

Adakah orang-orang di kios-kios pasar, di terminal, di kafe, atau mal,

membicarakan siapa menggantikan siapa atau siapa menjadi menteri apa?

Bukankah tidak semua orang butuh informasi soal perombakan kabinet

sebagaimana tidak semua orang butuh informasi soal pasar uang?

Mereka yang ada di barisan pendukung mungkin akan mengatakan

bahwa perombakan itu demi meningkatkan kinerja pemerintahan

yang ujung-ujungnya toh untuk kebaikan rakyat juga.

Benarkah begitu? Pojok Mang Usil di Kompas 09/05/07

seolah memberi jawab dengan guyon: dalam politik,

2 + 2 tidak selalu sama dengan 4.

Cobalah datang ke pasar hari ini. Seandainya mereka yang

menyambung hidup di pasar-pasar itu disuruh memilih apakah

mereka mendukung perombakan kabinet atau mendukung orang

yang saat itu juga akan membagikan sembako dan minyak goreng

untuk mereka maka niscaya jawabannya akan sangat jelas.

Kita tahu, dari dulunya dulu, rakyat kebanyakan sebetulnya tak pernah

minta hal-hal yang muluk-muluk atau mengawang-awang pada

pemerintah. Mereka hanya minta harga beras, minyak tanah,

minyak goreng tidak menjauh dari dompet mereka. Dengan kata lain,

harga-harga yang terjangkau. Mereka juga tak pernah meminta

yang lain selain sekolah mudah, kesehatan murah, pekerjaan ada.

Itu saja. Artinya, sesuatu yang riil kehidupan sehari-hari.

Bagi mereka pahlawan hari ini adalah orang yang bisa menyediakan

sembako atau meringankan kehidupan mereka sehari-hari.

Kini lonjakan harga minyak goreng sudah berlangsung lebih dari

dua pekan dan di sejumlah tempat sudah menembus angka

Rp. 9.000 per kilogram. Adakah rakyat peduli dengan

perombakan kabinet? Tidakkah mereka mengganggap itu

hanya berita angin lalu?

Kenyataan hari ini membuat rakyat kebanyakan terpaksa

terus-menerus menabung rasa sinisme seiring menipisnya

cadangan rasa optimisme.

Yang ada di benak mereka pun tentunya bukanlah siapa menjadi

menteri apa atau siapa menggantikan siapa tapi yang sangat

mereka tunggu-tunggu adalah kapan harga minyak goreng bisa

terjangkau dompet mereka. Kapan minyak goreng

harga “reshuffle” ini akan turun?

Pandasurya Wijaya

Padasuka, Bandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s