Kevin Carter atawa Yang Luput Dari Piala Oscar

Kevin Carter

Fotonya Kevin Carter

Buat yang tempo hari betah nongkrongin TV nonton Penghargaan Piala Oscar ke 78 mungkin ada yang luput dari perhatian—atau setidaknya kurang mendapat perhatian. Dan di tengah gemerlap plus wanginya aktris, aktor serta para undangan yang hadir di Kodak Theatre Los Angeles itu, boleh jadi memang ada satu kategori film yang kurang mendapat perhatian. Apa itu? Tentang kategori film dokumenter.

Mungkin memang sudah jadi kodratnya film dokumenter selalu kurang mendapat sorotan dibanding film-film komersil. Bagi yang menyimak betul, ada sebuah film dokumenter yang masuk nominasi judulnya The Death of Kevin Carter. Siapa pula Kevin Carter? Siapanya Kevin Costner atau Jimmy Carter? Apa pentingnya buat kita? Dan seberapa penting si Carter ini dengan harga beras atau harga tiket nonton konser misalnya? Atau seberapa penting dibanding goyangan erotis yang cuma boleh beberapa senti misalnya?

Nah, buat yang suka jeprat-jepret kamera atau fotografer, yang akrab dengan dunia fotografi khususnya foto jurnalistik, nama Kevin Carter pasti gak asing lagi.

Dan inilah ceritanya…

Sudan, awal tahun 1993. Bencana kelaparan sedang melanda seantero negri gurun pasir yang tandus itu. Suatu hari di tahun yang murung itu seorang bocah Sudan terjatuh di tengah jalan ketika sedang berjalan sendirian menuju posko pembagian makanan. Tubuhnya yang sudah begitu lemah, kurus kering tinggal kulit pembalut tulang, tak mampu lagi menahan rasa lapar dan ia pun jatuh tertunduk. Beberapa langkah di belakang si bocah ada seekor burung pemakan bangkai sedang mengamati, seolah menunggu calon santapannya benar-benar tergeletak mati. Seorang fotografer yang ditugaskan meliput kelaparan di negri itu menjepretkan kameranya ketika ia melihat pemandangan tragis itu dalam perjalanan tugasnya. Kevin Carter nama fotografer itu, akhirnya mendapat hadiah Pulitzer—bukan Piala Oscar memang—pada 23 Mei 1994 untuk kategori berita atas fotonya yang sangat menyentuh hati nurani siapa pun yang melihatnya.

Namun apa yang terjadi kemudian mengejutkan banyak orang dan menjadi bagian dari catatan sejarah hadiah Pulitzer. Dua bulan setelah menerima hadiah itu Kevin Carter ditemukan mati bunuh diri di Johannesburg, Afrika Selatan. Rupanya selama itu sang fotografer telah mengalami penderitaan batin yang teramat dalam sebagaimana yang ditulisnya sendiri dalam suratnya sebelum ia bunuh diri. Dari cerita rekannya, ia pernah mengatakan bahwa dirinya merasa begitu berdosa karena telah meninggalkan bocah tersebut dan lebih mementingkan pekerjaan ketimbang tugas kemanusiaan. Ia kuatir burung itu benar-benar memakan si bocah yang naas itu. Dan dengan menerima hadiah penghargaan itu ia juga merasa bersalah karena menang atas penderitaan orang lain.

***

Setiap orang bisa mengalami siksaan batin dengan kadar yang berbeda-beda. Tapi mungkin dosis yang dialami Carter terlalu tinggi hingga membuatnya terlalu peka dan mengambil keputusan yang ekstrem itu. Di mana-mana yang ekstrem memang selalu “buat kita jadi masalah”. Masih ingat lirik lagu “Yang Kumau” dari Diva Krisdayanti (KD) yang satu itu?

“…karena sesuatu yang peka buat kita jadi masalah

Yang kumau hanya dirimu

tapi tak begini keadaannya

Yang kumau selalu denganmu…”

Ah, seandainya saja waktu itu KD sudah menyanyikan lagu itu dan sampai ke telinga KC (Kevin Carter), mungkin bakal lain ceritanya. Kita cuma bisa berandai-andai…

Kesimpulan atau moral dari cerita ini adalah di mana pun, kapan pun, dan dalam situasi apa pun, tugas kemanusiaan lebih penting ketimbang pekerjaan…

Memang mudah untuk sekadar mengatakannya tapi selalu lebih sulit melakukannya.

Dan memang bener banget kalau ada yang bilang, meski cuma berupa gambar diam dan bisu, efek foto jurnalistik lebih punya jejak panjang dan lebih membekas dalam benak ketimbang rekaman video/televisi.

Fotografer, kata seorang Seno Gumira suatu kali, adalah seorang pengembara dalam semesta penampakan yang menghadirkan dunia, kehidupan nyata. Ia juga ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata. Masalahnya, seberapa jauhkah para pemandang foto ini melihat juga segala sesuatu yang dilihat sang fotografer? Tepatnya, seberapa jauh mata kita terbuka, meskipun gambarnya nyata-nyata ada di depan kita?

Dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Keajaiban dunia adalah suatu ironi, di depan kemanusiaan yang terluka, manusia tertawa-tawa. Rupa-rupanya mata yang terbuka saja belum cukup untuk memandang dunia.

Dan dengan rangkaian kisah yang terjadi di balik foto Carter itu, kita seolah kembali diingatkan: apakah mata kita sudah lebih dari sekadar terbuka dan bisa merasakan bahwa foto, seperti juga film, bisa mempunyai makna yang dalam bagi dunia, bagi kemanusiaan, bagi kehidupan.

(Pandasurya, 12 Maret 2006)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s